Selasa, 04 November 2014

HARI ITU

Jonah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Wajah tampan kekasih hatiku itu tampak bersinar dan bahagia. Tak berapa lama terdengar suara air dari dalam kamar mandi. Kekasihku mandi rupanya.

“Baby”
“Yes”
“Please fix me a tea.”
“Ok, Sayang.”

Dengan malas aku bangun dan mulai mengisi air ke dalam pot pemanas air listrik. Sambil menyiapkan mug yang biasa dia pakai untuk minum teh hangat di pagi hari, aku bergerak membersihkan lantai. Mengumpulkan sisa tisyu dan rambutku yang memang selalu rontok.

Dan mataku tertumbuk pada satu potongan plastik perak di lantai. Aku ambil dan aku balik.. Tuhan!! Ini potongan pembungkus kondom. Merek yang biasa dia gunakan untuk “bermain-main”. Hatiku tercekat. Kenapa ada potongan kondom baru di kamar? Aku tahu semalam dia pulang pagi dan tidak mengizinkanku menelepon untuk mengucapkan selamat malam. Hatiku berdebar, kepalaku berputar. Satu sisi berteriak agar aku menyelesaikan ini dengan garang. Ini dia, saatnya untuk benar-benar menyelesaikan semua tapi di sisi yang lain ada suara yang melembutkan hati, mengingatkanku akan komitmen baruku atas kehidupan.

“Baby,” panggilku.
“Yes?”
“Who used your room?”
“What?”
“Did someone use your room before?”
“What do you mean?”
“Did someone have sex in your room?”
“No! What make you say that?”
“Cause I found this piece of condom wrapper on the floor. Who used it here? You?”
“Baby, please. I don’t have sex with other woman. I don’t. Stop telling me that. Where did you find it? Under the bed?”
“No, on the floor.”
“I did not do anything. I don’t know how it got there. I don’t sleep with other woman. If I did,   I will not be  stupid to throw it on the floor, knowing that you are coming over,” kata Jonah     sambil keluar dari kamar mandi tanpa selembar kain pun.

Kekasihku ini selalu tampak indah. Badannya yang hitam pekat bak langit malam selalu berkilat. Tubuhnya yang tidak besar tapi juga tidak kurus, selalu menjadi pemandangan yang indah. Dan dia tahu benar itu.

“I don’t care if you sleep with other woman, but please do not do it here. This is my place.”
“But Baby..!”
“I don’t want to argue nor fight, just please, do not bring your toys into our room. I don’t care about other women out side. But please, don’t bring other woman here.”

Aku bergerak mematikan air panas dan menyiapkan mug untuk tehnya.

“Are you trying to pick a fight with me this morning?”
“No.”

Aku berusaha agar suaraku tetap datar tapi tegas. Dan bukan suara kesakitan atau marah.
“Ok, Baby, I understand.”

Aku memandang wajahnya dengan sedih dan berusaha keras untuk tetap tampak tenang.

“Sayang, do you want me to put half cold water to the mug, so that the tea will not be to hot? I   know you want to drink it right away.”
“Yes, please. Pour cold water, ya.”
“Ok, Sayang,” dan selesailah pertengkaran kami.

The TV showed the image of an Indonesian sex worker who got killed in HongKong recently.

“Indonesian sex workers are look alike all over the world,” kataku sambil lalu.
“What do you mean?”
“I mean look at her. She was a sex worker in Hong Kong and she looked exactly like your  Nur.”
“Nur? What? You really want us to fight?”
“No, I am just saying. She looked just like her. See?”
“So she did not resamble you?”
“No. Look at her. They are really look a like.”

Aku tahu aku punya tujuan menyebutkan nama itu lagi. Jonah tahu benar bagaimana perempuan itu menghubungiku dan menyatakan cintanya kepada Jonah. Dan aku saat itu dengan tenang meminta Nur untuk tidak menghubungi aku.

Benar, aku berhasil. Jonah terdiam.

Aku meneruskan kegiatanku membereskan tempat tidur.

“Baby, I think its better for you to change the sheets. It has stayed to long.”
“Oh ok,” aku kembali menarik seprei yang sudah setengah selesai aku bereskan.

Setelah selesai, Jonah duduk di tepi tempat tidur dan kami berbicara tentang lagu yang baru kami dengarkan. Jonah tampak lega karena aku tidak mengungkit kembali masalah sobekan kondom tadi. Dia tersenyum dan membentangkan tangan pertanda akan memelukku.

Dan aku memeluknya, kepalanya tersembunyi di dadaku. Bak ibu yang memeluk anaknya. Aku cium keningnya dan kubisikkan, “Baby, I love you.” Dan Jonah pun menjawab, “I love you too.”

Dilepaskannya wajahnya dari pelukanku sambil tersenyum, “Your smell will stay in my nose the whole day.”

“That is good, cause I can smell you any where, even when we have not meet for some days. Every time I pray, I can smell your parfume. Every time I ask GOD to call you, you will call in a matter of minute. So My Love, I will never leave. No matter what happen, I will be here for you, to love you.”

Jonah tersenyum dan kami pun bergegas menyiapkan diri untuk melanjutkan kegiatan kami hari itu.
Meski hatiku masih sangat sakit, tapi kini aku melihat Jonah bak anak kecil nakal. Makin keras aku menyudutkan kenakalannya, makin keras dia akan membuktikan kekuatannya. Aku belajar bahwa lebih baik bagiku untuk diam dan berdoa, lebih baik aku berkata tegas tapi tidak mengulang-ulang. Aku sudah sampaikan pesanku bahwa aku tidak mau dia melakukan itu di kamar kami.

Kenapa aku berkata demikian? Jonah adalah lelaki Afrika yang datang ke negara ini demi uang. Tidak ada dalam kamusnya penghargaan terhadap perempuan yang ada di sampingnya, bagi dia semua ditujukan untuk anak dan keluarganya di Afrika. Di sini, perempuan baginya hanya alat untuk mencapai tujuannya.

Fakta bahwa kami masih bersama selama 3 tahun ini juga hal baru baginya. Kami melalui banyak aral dan melintang tapi masih tetap bersama. Dia mengira hubungan kami hanya akan bertahan beberapa bulan saja.

Darinya aku banyak belajar tentang kesJonaharan, tentang penerimaan, tentang kepasrahan. Belajar tentang menghilangkan kesombongan dan perasaan bahwa aku lebih berharga dari ini. Padanya aku ajarkan tentang cinta yang tidak menuntut. Selama tiga tahun, aku hanya memberi dan memberi, tidak sekali pun menanyakan balasannya. Aku disebut bodoh dan dungu tapi dalam tiap hubungan yang aku baca di status teman-temanku atau pun di kisah mereka, aku melihat kebodohan yang sama meski dalam derajat berbeda. Maka itu bukanlah kebodohan, itu hanya cinta..

Apakah lelaki yang kita cintai itu pantas menerimanya? Bukan aku atau kalian yang bisa  menilainya, melainkan TUHAN. DIA akan melihat dan mencatat semua kasih sayang kita dan ketulusan kita, dan DIA yang akan menyentuh hati lelaki kita atau membawa kita ke hati yang lebih suci.


Saat ini yang aku lakukan hanya diam dan berdoa, aku curahkan waktu dan tenagaku untuk melayani TUHAN. Aku berhenti membela diri dan berhenti menepuk dada. Sekarang aku membiarkan TUHAN menuntun hidupku dan memberikan tameng pelindung ke tangan-NYA. Dan aku tahu TUHAN bekerja dalam hidupku dan dalam hidup Jonah.

Jumat, 04 Juli 2014

MENGGAPAI CINTA YANG BARU

Semoga Anda bisa menangkap makna dari kisah kali ini..

Dalam suatu masa, baju yang melingkupiku terasa menyesakkan. Begitu banyak atribut yang diberikan dan dipaksakan dalam baju ini. Untuk kemudian dijadikan ukuran untuk menilai, memeriksa dan pada akhirnya menghakimi. Bagi mereka yang sudah lama mengikuti alur berpikirku, mungkin sudah bisa menebak betapa aku bukanlah perempuan dengan pemikiran yang "normal" (jika normal itu memang ada). Maka makin banyak atribut diberikan, makin besar peluangmu untuk melihat betapa tak sesuainya aku dengan lingkunganku.

Dan pada satu titik, aku gerah, lelah dan marah lalu kutanggalkan bajuku. Aku biarkan diriku telanjang dan menjadi hanya diriku sendiri dihadapan YANG SUCI. Meski aku tak melihat ada kedamaian, tak melihat ada keutuhan dalam kondisi telanjangku. Namun setidaknya aku bebas dari penilaian dan penghakiman. Dan ketelanjangan itu berlangsung cukup lama. Di masa itu aku terlindungi dari segala rasa, karena memang tidak berasa. Bukan damai tapi kebas.

Lalu dipertemukan aku pada sosok kelam yang begitu indah. Kelam ini menjalani hari-hari yang terkadang begitu menyulitkan dengan senyum dan ketenangan. Semua karena keyakinan luar biasanya pada satu dzat. Dan aku cemburu.. Tuhan mana yang membuat dia terus menunduk dalam doa, dalam kepasrahan meski kesulitan menghimpit. Tuhan apa yang bahkan dalam mabuknya pun dia ingat dan tidak ingin dia tinggalkan? Aku merindukan kedekatan itu.

Dan aku pun bergerak mengenali TUHAN ini. 

Perkenalan kami luar biasa. TUHAN ini seolah memahami semua keluh kesahku. Bahasa kami sama, DIA memahami semua air mataku. Tidak ada sedikit pun penghakiman dalam kata-kata-NYA. Tidak ada perajaman dalam ajaran-NYA.Dan aku bersimpuh dan menangis. Tertarik makin dalam ke dalam pusaran kasih dan cinta-NYA. Ke dalam kehangatan yang aku rindukan. Di dalamnya kutemukan cara, kutemukan jalan untuk melepaskan semua amarah dan kecewa yang menggelayuti jiwaku selama ini. Kecewa pada orang-orang di sekitarku, terutama kecewa pada diriku sendiri atas kegagalan demi kegagalan yang aku alami dalam hidupku. Di dalamnya kutemukan cara untuk berdiam dan menerima segala caci dan maki yang selama ini jadi duri dalam hatiku.

Dan aku berpasrah...

Meski aku tahu apa yang akan aku hadapi saat menyatakan diri menerima cinta yang sejak kecil diajarkan untuk dijauhi. Apa yang akan terjadi dan bagaimana orang-orang di sekitarku akan bereaksi apabila cinta ini aku kabarkan. Apabila kebahagiaan ini aku pancarkan.

Tapi TUHANku sudah begitu baik, sudah begitu luar biasa... dan aku memutuskan mengabarkannya.

Hari ini, hampir setahun setelah kabar itu aku sampaikan. Aku sudah ditinggalkan banyak hal. Aku ditinggalkan oleh ayah yang begitu aku sayangi. Beliau menolak menerima fakta bahwa aku lebih damai saat ini. Beliau ingin aku menunduk dan mengangguk menyatakan pilihanku keliru. Beliau tegas menolak untuk bahkan mencoba memahami, apa yang menjadi gelisahku, mengapa TUHAN ini begitu mengagumkan bagiku. Beliau begitu yakin aku telah disesatkan oleh kelamku, oleh hasratku.. Oh sedihnya..

Aku kehilangan banyak teman. Teman yang dengan yakin menuduhku telah dibutakan dan dibodohkan. Yang dalam ketakutan mereka untuk melihat kebenaran di mataku, telah menolak untuk bahkan mengenalku. Bagi mereka aku adalah perempuan pintar yang terjerumus dalam kebodohan. Hanya karena aku membuka diri dan menyatakan menerima cinta yang berbeda dari cinta yang mereka kenal. Mereka menantang untuk membuktikan kebodohanku, sementara aku tidak tertarik untuk membuktikan kepandaianku. Oh, pedihnya..

Aku kehilangan pendar cinta kekasihku yang dulu begitu menyala. Sungguh ironis, di tengah prejudis orang yang menyatakan cintaku ini hanya karena dia, sang dia pun mempertanyakan penerimaanku atas cinta ini. Berkali-kali dia merasa tak nyaman dan tak aman, karena berbagai pertanyaan duniawi terkait cintaku ini. Apakah aku begitu ingin dia nikahi? Apakah ini pembuktian bahwa aku lebih baik dari wanitanya di seberang sana? Apakah aku cuma mencoba untuk menunjukkan kesalahan dan kesalahannya? Dan di tengah ketakutannya sendiri, dia menjauh dan menjadi kasar. Sampai suatu waktu kekesalannya dia tumpahkan sejadinya padaku dan aku tersurut.. Aku menakut.. Dan aku menciut..

Dan kemudian pekerjaan yang begitu aku cintai, perusahaan yang begitu aku banggakan, tiba-tiba melihatku dengan mata yang bahkan tidak pernah aku kenal sebelumnya. Sampai di fakta bahwa aku harus meninggalkan entiti yang aku cintai dan aku banggakan. Dan aku dihempas dengan hempasan penolakan yang luar biasa menyakitkan.

Sangat mudah bagi manusia untuk melihat betapa semua kejadian itu adalah bukti bahwa pilihan cintaku sudah salah.. keliru.. menyesatkan. 

Tapi dalam kesakitanku, aku menemukan kedamaian dan kepasrahan luar biasa. Sesuatu yang belum pernah aku alami sebelumnya. Sakitku lebih pada sedih dan bukan marah. Sakitku lebih pada rindu dan bukan dendam. Aku menerima segala sakit ini sebagai konsekuensi penerimaan CINTA yang jauh lebih indah dan luar biasa dibandingkan cinta mana pun. CINTA itu sudah mengorbankan segalanya, demi membebaskanku dari rasa sakit dan dosa. CINTA itu sudah begitu suci menempatkan dirinya sebagai martir, membiarkan diri sucinya disiksa dan dihinakan, demi aku yang bahkan belum dilahirkan di masa itu. DIA mengingatku dan memikirkanku, di saat tubuh suci-NYA dihancurkan dan dipermalukan.

Bila mengenang itu semua, segala derita dan penghinaan ini serasa tiada apa-apanya. Cinta duniawi tidak akan memberiku bahagia kekal abadi, maka kehilangannya bukanlah sesuatu yang fatal. Udaraku tengah dibersihkan, jiwaku tengah dimurnikan. TUHANku ingin aku bertumbuh dalam kasih-NYA dan benar-benar menjadi alat-NYA. Benar-benar menjadi kekasih-NYA. Dan benar-benar mati dalam kehidupanku yang dulu dan bangkit kembali dalam kehidupanku yang baru. Aku tengah DIA baptis..

Aku merindukan kalian semua... tapi kalian semua bagian dari masa lalu, dari hidupku sebelum CINTA ini datang. Sebelum TUHAN ini menjadi kekasih jiwaku.

Senin, 04 Maret 2013

Bangun dari dunia sempurnaku..

Belahan jiwaku menemukan hidupnya yang baru. Kabar itu datang dari anak sulungku yang terkejut dibawa ayahnya melamar pujaan hatinya. Anak kecilku tidak berkata apa pun dan hanya bersikap acuh seperti biasanya.

Tinggal ibunya yang tercenung lalu menangis..

Dan aku bingung..
Apa asal rasa tersayat ini? Rasa kehilangan kah? Rasa sesal kah? Mungkinkah itu yang aku rasakan? Sedang bagiku rasa itu sudah menyurut dua tahun sebelum kami berpisah dan menyurut sampai titik batas hampir pupus..

Lalu mengapa air mata ini tidak mau dihentikan?

Sahabat konselorku membantuku menganalisa perasaanku sendiri, dari mana asal rasa itu? Dari belakang punggungmu? Terasa nyeri menusuk ataukah dari luka di dada? Menganga dan berdarah?

Oh itu aku tahu, rasa nyeri itu ada di dada depan, menganga, berdarah :( 

Lalu dikatakan bahwa bukan, bukan karena merasa dikhianati tapi merasa diremehkan..

Ya, benar...

Bagiku, dalam benakku yang masih ketakutan membayangkan sebuah pernikahan, jika suatu saat nanti TUHAN menggerakkan hatiku untuk menikah kembali, aku melihat begitu banyak langkah yang perlu aku lakukan, terutama untuk menjaga hubungan baik dengan ayah anak-anak dan menjamin hati anak-anak bahwa perceraian bukan berarti akhir dari hubungan orangtua antara kami dengan mereka.

Seharusnya ada diskusi antara kami dengan anak-anak, mempersiapkan dan membicarakan perasaan serta ketakutan mereka. Karena hidup ini bukan lagi milik kami sendiri, melainkan juga milik anak-anak. Ketakutan mereka lebih penting dibanding ketakutan kita. Begitu kita memutuskan untuk menikah, berarti kita udah memahami dan siap menghadapi ketakutan kita tapi bagaimana dengan anak-anak? Mereka yang masih terluka dan tersakiti oleh perceraian dan perpisahan kami, jelas membutuhkan lebih banyak persiapan. Berapa banyak dari mereka yang beruntung bisa memahami alasan perpisahan kedua orangtuanya? Kebanyakan dari mereka berada pada tahap menerima, karena merasa itu bukan hidup mereka. Karena melihat itu di luar kuasa mereka.

Seharusnya ada diskusi antara kami dan calon keluarga baru tersebut, karena kami akan menjadi satu keluarga besar, terikat oleh anak-anak. Karena masih-masing dari kami akan menerima tanggung jawab besar, menjadi bagian penting dari kehidupan anak-anak yang bukan berasal dari mani atau rahim kami. Perlu ada perkenalan secara dewasa untuk menunjukkan pada ibu atau ayah kandung (mantan istri/suami) bahwa kita tak hanya datang dan merengguk hidup dengan sang mantan tapi menerima seutuhnya kehidupan pasangan kita di masa lalu.

Kemudian perlu ada pertemuan antara sang calon dengan anak-anak. Pendekatan yang sangat rapuh dan hati-hati. Memahamkan bahwa kehadiran kita bukan hendak menggantikan ibu atau ayah kandungnya, melainkan menjadi ibu tambahan, teman, saudara dan segala yang indah yang akan membuat keluarga kecil unik kami menjadi lebih kaya, Bahwa kehadiran kita bukan ancaman tapi memperkaya. Lalu dibuatlah diskusi kecil menyatukan dua keluarga baru, acara menyenangkan dan santai yang mudah dipahami kedua anak kami

Dan aku melenguh..

Konselorku mengajakku bangun dari hidup sempurnaku. Bahwa sudah saatnya aku berhenti berusaha membuat segalanya sempurna karena sebuah hubungan berlaku dua arah. Tidak bisa dan tidak akan bisa aku berjuang sendiri mendekatkan anak-anak dengan ayahnya apabila sang ayah tidak memahami pentingnya semua bentuk komunikasi ini dan juga tidak mampu melihat dampak dari semua masalah itu bagi anak-anak.

Dan aku merunduk pilu..

Selasa, 17 April 2012

Aku Perempuan yang Baik

Orang selalu menyarankan kita untuk melangkah ke depan dan melupakan masa lalu. Namun mereka tidak menyadari betapa masa lalu itu menggelayut dan merenggut sebagian besar energi kehidupan justru karena hal-hal yang mereka lakukan. Meski berkali disebutkan untuk berjalan lurus dan melangkah tegap, tetap saja kita terus dibenturkan pada masa lalu, pada kesalahan, pada ketidaksempurnaan.

Bagiku yang terluka dan cacat akibat perceraian yang pernah aku jalani, gayutan terbesar adalah asumsi umum yang menyebutkan diriku bukanlah perempuan terbaik, karena aku menyerah, karena aku kalah. Aku tidak bertahan dan berdiri kukuh di samping lelaki yang dihadapan Tuhan kukatakan akan kujaga dan kucinta. Karena aku tidak lagi menggenggam tangan seorang pria yang menjadi ayah dari anak-anakku. Karena aku menyendiri, mandiri dan berdiri garang menyambut semua tantangan kehidupan.

Selalu saja dipertanyakan mengapa aku tidak bertahan dan menjadi perempuan kesayangan Tuhan. Perempuan yang bertahan, yang menggenggam dan terus berjuang di tengah badai yang mendera. Selalu saja dipertanyakan sudahkah aku merenungi hal-hal yang luput aku perhatikan, yang belum aku perjuangkan, yang lupa aku pertahankan dalam perjalananku mencintai pasangan hidupku. Kembali, pasangan yang dihadapan Tuhan pernah aku katakan akan aku cintai dan dukung seumur hidupku.

Selalu saja mereka memandang heran dengan raut riang dan langkah ringanku. Hei, Perempuan, sudahkah kau merenung dan melihat ke belakang. Sudahkah kau memohon ampunan dan kembali menjadi perempuan yang baik. Sudahkah?

Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu. Tidak mungkinkah bahwa pada setiap perempuan yang memilih untuk berpisah, padanya telah dicobakan segala daya dan upaya. Tidak mungkinkah bagimu bahwa dia sudah mencoba segala yang dipikirnya bisa dilakukan.

Jika ditanya apa yang belum aku lakukan untuk pernikahanku, sering kali aku tercenung. Aku tahu, jawabannya adalah aku tidak mencintai diriku sendiri. Aku membiarkan segala tuntutan budaya dan dunia membuatku hilang dan mengabur. Aku melakukan segalanya dengan ketakutan akan kesendirian, ketakutan akan ditinggalkan, ketakutan akan dicap perempuan tidak baik. Dan akhirnya aku berusaha, berusaha, berjuang, berjuang, menghilang, mengabur, mengada, mendobrak, menjadi martir, menjadi tumbal, melupakan jiwa, melupakan asa.. Aku melakukan segalanya dengan pemahaman bahwa aku bukan perempuan baik jika suamiku memilih untuk pergi.

Tidak terpikirkah olehmu saat kenyataan itu menghantam, saat semua daya upaya membentur tembok baja, saat semua ketakutan makin menjadi segala yang melemahkan, maka tiba saat bagi perempuan untuk membuat pilihan. Sebuah pilihan pilu dan menyakitkan, pilihan yang berat bukan kepalang, pilihan yang menyeretku ke dalam lubang depresi. Segala ketakutan, segala ketiadaan, segala yang aku percayai runtuh dan hancur.

Tidak terpikirkankah olehmu bahwa keputusan itu begitu berat? Aku yang telah mengusahakan segala cara, menyerahkan segala hidup bagi pria yang begitu aku cintai selama hampir setengah waktu usiaku, tiba-tiba harus sendiri. Harus belajar menerima fakta bahwa segalanya sudah berakhir, bahwa usaha ini tidak mengarah ke mana pun. Bahwa aku membentur karang dan harus segera berbalik dan menuju arahan yang baru. Tidak terpikirkankah olehmu betapa sakit dan berat bagi seorang perempuan untuk bangkit dari keterpurukan dan rasa gagal akibat perceraian.

Tapi aku belajar, aku menegar, aku menguat.. 

Apakah itu kemudian menjadikanku perempuan tidak baik? Apakah itu berarti aku tidak melaukan segalanya demi mempertahankan mahligai yang begitu aku banggakan? Apakah keputusan untuk berhenti mengusahakan sesuatu yang sia-sia akan terus menjadikanku perempuan gagal dan tidak disayang Tuhan?

Sahabatku, aku perempuan yang baik.. Banyak kesalahan pernah aku buat, banyak kemarahan telah aku lontarkan, banyak angkara pernah aku biarkan, banyak kebodohan pernah aku lakukan.. Tapi, AKU PEREMPUAN YANG BAIK..

Senin, 09 Januari 2012

Genggam tanganku, jadikanku bagian darimu..

Sambil mendengarkan Christina Perri berulang kali melantunkan lagunya tentang kebahagiaan dua makhluk yang menyingkirkan ketakutan dan keraguan demi bersatu menyatukan ikatan dalam sebuah pernikahan, pikiranku melayang pada ketakutanku sendiri akan sebuah hubungan. Sebuah kedekatan.

Hati yang pernah terluka dan masuk dalam lorong gelap ini ketakutan dan memilih untuk menjaga jarak dari semua kedekatan dan hubungan. Berharap bisa sama sekali melepaskan diri dari kebutuhan akan adanya hubungan batin erat bersama seseorang dan mengarahkannya menjadi sebuah hubungan pertemanan yang tidak mengenal kata kecewa.
Dalam perjalanan pencarian makna hubunganku, aku bertemu dengan banyak pribadi yang memaknai dan melindungi hatinya dengan cara-cara unik mereka. Salah satu yang menarik bagiku adalah pemuda tampan yang kukenal tak berapa lama lalu. Dalam kehidupannya yang terbilang sukses untuk usianya, berada jauh di negara orang namun telah berhasil memenangkan satu sisi peperangan. Hidup nyaman dan aman dengan segala kemudahan berkat kerja keras dan disiplin dirinya.

Padanya kutemukan cara perlindungan diri dari luka dan duka akibat sebuah hubungan. Disampaikan bahwa dia tidak pernah meletakkan harapan pada manusia, bahkan tidak pada ayah dan ibunya. Tidak dia lekatkan hatinya lebih dekat dari Tuhannya agar tidak pernah dia merasakan kecewa. Manusia dipandang sesuai dengan keinginannya. Sebagai makhluk yang keberadaannya di dunia ini adalah sebagai pemberi bahagia. Tidak ingin dia melihat sisi menyebalkan atau negatif dari sosok manusia. Baginya itu bukan porsinya. Dilindunginya hatinya dengan menjauhkannya dari segala kedekatan cinta. Ditolaknya makna dan keberadaan cinta karena baginya tak masuk akal, mana mungkin cinta yang disebut sebagai sebuah keindahan dapat menghasilkan luka. Tak tepat rasanya saat sebuah rasa indah juga memiliki sisi buruk dan mengerikan yang bisa menyayat dan membuatmu jatuh ke dalam lubang kedukaan dan kenestapaan. Karena itu, katanya, dia akan selalu  bahagia. Karena itu, katanya, manusia tidak akan membuatnya kecewa.

Aku juga menemukan cara perlindungan dari kegagalan hubungan dari teman-temanku yang masih berada dalam pernikahan. Banyak dari mereka yang  menjauhkan diri dari kekecewaan dengan membagikan cintanya pada sosok yang lain. Dikatakan bahwa dengan demikian mereka mendapatkan cinta ekstra, perhatian ekstra dan kebahagiaan ekstra. Tidak diperkenankan salah satu dari kedua lelaki atau perempuan dalam hidupnya itu memberikannya duka. Saat kuangkat masalah kesetiaan, dikatakan bahwa pada kedua sosok itulah diberikan kesetiaan hatinya. Meski tidak juga mereka bersedia menerima sisi buruk dari kedua cintanya. Mereka hanya mengambil sisi baik dan kebahagiaan yang diberikan keduanya dan berlarian mencari kebahagiaan demi kebahagiaan hingga si selingkuhan berhenti memberikan kebahagiaan dan lebih banyak menawarkan kerumitan, maka dia akan digantikan.

Lelaki yang tengah dekat di hatiku pun menawarkan bentuk lain tentang sebuah hubungan. Dimintanya aku menghargai waktu pribadinya untuk bekerja dan berjejaring dengan teman dan keluarganya. Di waktu-waktu itu adalah waktu di mana kami tidak muncul. Kami ada saat kami bersama dan hanya saat kami bersama. Tidak diperkenankannya aku menelepon sering, mengirim pesan singkat sering, atau lebih tepatnya tidak diperkenankannya aku menjadi lekat dengan hatinya. Dimintanya aku berdiri tegak di atas kedua kakiku dan hanya menjadi kami saat segala waktu dan perasaan memungkinkan. Satu sisi kebebasan itu memberiku banyak ruang untuk bekerja dan mengembangkan diri sebagai teman. Namun saat hati kita dilarang untuk melekat, saat dia begitu sibuk melindungi dirinya dari kemungkinan sakit yang bisa kuberikan, di saat aku pun sibuk menjaga hati agar tak terlalu lekat padanya. Apakah dapat dikatakan kami berhubungan? Dapatkan disebutkan akan adanya KAMI?

Bagiku ketiga cara itu hanyalah sebuah pengalihan. Tidak kita bisa merasakan kebahagiaan sejati sebuah hubungan di saat hati kita terlindungi di dalam sebuah balon dan tak tersentuh. Kurasa takkan pernah bahagia sejati itu kita dapatkan dari seseorang di saat kita menolak untuk mengambil resiko terluka. Melindungi diri dan memilih kebahagiaan semu dengan mengandalkan pikiran kita, tidak akan membawa kita ke pantai yang kita dambakan. Keinginan untuk mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan dari sebuah hubungan adalah juga menyatakan diri menerima resiko kedukaan dan kesakitan yang dapat ditimbulkan dari hubungan itu. Hanya pada sosok yang memiliki peluang untuk memberi kita sebuah kedukaan mendalam, dialah yang memiliki potensi luar biasa besar untuk memberikan kita rasa nyaman dan kebahagiaan yang mewakili kebahagiaan Illahiah. Sosok yang menggantikan kenyamanan peluk ibu, menggantikan keamanan peluk ayah dan keyakinan yang disorotkan Allah. Sosok yang sanggup membawa kita terbang menembus segala batas potensi kita, karena cintanya memancarkan keyakinan dan kepastian hingga membangun yakin dan percaya dalam diri kita akan potensi kita namun juga sosok yang sanggup menghunjamkan pisau perpisahaan dan membancarkan darah yang berujung pada kematian sementara jiwa kita.

Aku bak hendak menerjunkan diriku ke dalam lautan luas, di mana segala kemungkinan bisa terjadi. Di mana segala kebahagiaan bisa teraih namun juga segala bencana mengintai. Dan aku masih ketakutan..

Sabtu, 12 November 2011

Aku dan Sebagian kecil sahabat terkasihku


Sahabat yang sangat melek fesyen.
Dia yang mengajarkanku melihat kelebihan dan menonjolkannya.
Terima kasih, Fajri Muslim. 


Perempuan muda ini selalu membuatku kagum dengan kemandiriannya.
Masih sering terlarut dengan ketidakpercayaan dirinya namun kukuh
dan tahu apa yang diinginkannya.
I love you, Titis.

Rabu, 09 November 2011

Aku dan hak reproduksiku

Pagi ini ada sms menarik yang masuk ke nomor HP-ku. SMS dari rekan dosen Bimbingan Konseling. Teman cantikku ini mendapatkan pertanyaan dari salah satu mahasiswanya yang sedang Belajar Mengajar di salah satu SMA. Si mahasiswa mendapatkan laporan dari salah satu siswinya bahwa dia hamil. Baru satu bulan dan si siswi kebingungan harus bagaimana. Kutanyakan apa saran dia pada si mahasiswa, jawaban yang diberikan sangat melegakan, dia menyarankan untuk tidak membawa masalah ini ke guru lebih dulu, tapi membantu si anak membuat keputusan sadar atas janin di rahimnya, kemudian membantunya berbicara dengan pacar, orangtua dan kemudian gurunya. Sebuah jawaban normatif memang, tapi indah..

Dan anganku melayang ke perbincangan dengan Hana minggu lalu, gadis belia dengan otak dewasa ini dengan menggebu menceritakan kegiatannya yang tengah melakukan advokasi hak reproduktif pada anak-anak perempuan. Dalam kalimatnya disebutkan hak untuk mendapatkan kenikmatan seksual (hmmm)

Dua perbincangan ini memicu khayal dan pikirku, apa sebenarnya tindakan tepat jika kita sebagai orang dewasa dihadapkan pada situasi ini. Bagaimana menjawab dan melindungi mata ketakutan anak yang tiba-tiba dihadapkan pada pilihan kedewasaan. Betapa sulit dan berat pilihan yang harus dia lakukan dan betapa besar sesal dan takut yang terbeban di wajah muda itu. secara normatif, atau normalnya, kita akan memperlakukan situasi ini bak kriminalitas, di mana perlu diberikan hukuman berat baik secara fisik maupun lingkungan agar menjadi contoh mengerikan bagi pelaku atau calon pelaku lainnya. Biasanya akan dilakukan pemaksaan aborsi atau pernikahan yang berujung pada berhentinya siklus kemajuan si perempuan karena tidak lagi diperbolehkan meneruskan pendidikannya. Tinggallah dia dalam keterpurukan, sedih tak terkira, sesal tak terbayang dan keterkucilan yang menyakitkan. Di dalam semua kegelapan dan kengerian itu, si perempuan disudutkan dan dihentakkan pada tanggung jawab mengasuh bayi yang menjadi sumber segala keputus asaannya itu. Dan siklus sedih dan kecewa dan luka pun berlanjut dan kekal pada si anak..


Ya, aku melihat wajah berkerutmu. Mempertanyakan sudut pandangku yang seolah menjadikan mereka korban dan bukan pelaku dari kesalahan mereka sendiri. "Kalau gak mau susah ya jangan dilakukan," henyakmu. "Itu akibat tidak mau mematuhi aturan masyarakat dan agama," teriakmu lantang.. Benarkah? Tepatkah?


Bagiku menyalahkan adalah sebuah hak istimewa yang bisa aku dapatkan saat semua syarat pencegahannya sudah aku lakukan dengan baik dan benar. Dalam kasus remaja SMA ini, apakah kita sebagai orang dewasa sudah membekalinya dengan segala pemahaman akan hak reproduksinya? Sudahkah kita menunjukkan padanya segala fakta dan konsekuensi fakta atas pilihannya terkait hak reproduksinya? Ataukan kita ajari dia dengan jargon dan bahasa abstrak tentang kenikmatan surgawi dan kengerian neraka?


Agama memang sangat penting, tapi keabstrakan agama sebagai dampak dari unsur kepercayaan dan keyakinannya tidak akan mampu membendung derasnya informasi dan rangsangan media modern yang kini menjadi asupan harian anak-anak kita. Ada jurang yang cukup lebar dan dalam antara ide-ide agama dan fakta informasi di kehidupan nyata. Diperlukan sebuah jembatan yang bisa membuat anak mudah memahami pesan dan kemudian menggunakannya dalam proses pengambilan keputusan hidupnya, termasuk di dalamnya keputusan akan hak reproduksinya. Keputusan menggugurkan kandungan? Matamu terbelalak membaca, hatimu mengkerut menebak arah pikiranku..


Sebuah hak reproduksi tidak berhenti dan berfokus pada dilanjutkan atau digugurkannya sebuah kandungan. Lebih awal dan lebih jauh, hak ini membantu manusia memahami dirinya dan memiliki kehidupannya. Tidak lagi seorang anak perempuan merasa perlu menyerahkan kegadisannya demi cinta anak lelaki atau anak lelaki menggauli perempuannya demi keperkasaan dan ketenaran atau bahkan cinta. Pada penerapannya, pemahaman akan hak reproduksi lewat pendidikan dan penyepahaman adalah tentang definisi, dampak dan juga konsekuensi logis dari setiap keputusan yang diambil. Tidak ditakuti atau dialun si anak dengan ancaman neraka maupun janji surga, melainkan ditunjukkan padanya fakta-fakta hidup yang akan mereka hadapi, diajak si anak berpikir dan menimbang untuk kemudian mengambil keputusan sadar terkait haknya atas reproduksi. Fokus perbincangan dan pendidikannya bukan pada kenikmatan seperti yang kini dipaparkan oleh media, tapi pada alur berpikir, logika pengambilan keputusan dan informasi faktual dan dapat dipertanggung jawabkan.  Padanya kemudian bisa kita bebankan tuntutan untuk bepikir logis dan membuat pilihan cerdas.

Lalu bagaimana jika setelah semua itu kesalahan tetap dilakukan? Maka penghormatan dan penghargaan perlu kita berikan pada hal-hal yang sudah kita ajarkan. Serahkan keputusan kembali kepada si pemilik reproduksi, biarkan kembali dia menjalankan haknya dan tugasnya sebagai manusia dengan segala kebaikannya, kemudian pusatkan pikiran kita bukan pada si remaja yang sudah tergelincir tapi pada anak yang kini ada di dalam kandungannya. Dia lah yang menjadi pertimbangan kita. Saat kita memutuskan untuk mengucilkan, dibayangkanlah si bayi dalam kandungan, siapa yang akan memastikan segala gizi terpenuhi agar dia terlahir sebagai individu kuat yang akan membantu memperbaiki dunia ini. Saat kita memutuskan untuk menghentikan langkah berkembang sang Ibu, pikirkan bagaimana kemudian kelak, ibu yang putus asa, sedih dan penuh marah itu bisa membesarkan anak yang sehat, kuat dan cerdas? Hentikan lingkaran kesalahan dan kedukaan itu dengan mengubah paradigma kita dan melihat anak yang kemudian ada di dalam rahimnya.

Mari selamatkan anak-anak kita dengan menyadarkannya akan hak reproduksinya..

Anak-anakku, aku mencintaimu..