Senin, 04 Maret 2013

Bangun dari dunia sempurnaku..

Belahan jiwaku menemukan hidupnya yang baru. Kabar itu datang dari anak sulungku yang terkejut dibawa ayahnya melamar pujaan hatinya. Anak kecilku tidak berkata apa pun dan hanya bersikap acuh seperti biasanya.

Tinggal ibunya yang tercenung lalu menangis..

Dan aku bingung..
Apa asal rasa tersayat ini? Rasa kehilangan kah? Rasa sesal kah? Mungkinkah itu yang aku rasakan? Sedang bagiku rasa itu sudah menyurut dua tahun sebelum kami berpisah dan menyurut sampai titik batas hampir pupus..

Lalu mengapa air mata ini tidak mau dihentikan?

Sahabat konselorku membantuku menganalisa perasaanku sendiri, dari mana asal rasa itu? Dari belakang punggungmu? Terasa nyeri menusuk ataukah dari luka di dada? Menganga dan berdarah?

Oh itu aku tahu, rasa nyeri itu ada di dada depan, menganga, berdarah :( 

Lalu dikatakan bahwa bukan, bukan karena merasa dikhianati tapi merasa diremehkan..

Ya, benar...

Bagiku, dalam benakku yang masih ketakutan membayangkan sebuah pernikahan, jika suatu saat nanti TUHAN menggerakkan hatiku untuk menikah kembali, aku melihat begitu banyak langkah yang perlu aku lakukan, terutama untuk menjaga hubungan baik dengan ayah anak-anak dan menjamin hati anak-anak bahwa perceraian bukan berarti akhir dari hubungan orangtua antara kami dengan mereka.

Seharusnya ada diskusi antara kami dengan anak-anak, mempersiapkan dan membicarakan perasaan serta ketakutan mereka. Karena hidup ini bukan lagi milik kami sendiri, melainkan juga milik anak-anak. Ketakutan mereka lebih penting dibanding ketakutan kita. Begitu kita memutuskan untuk menikah, berarti kita udah memahami dan siap menghadapi ketakutan kita tapi bagaimana dengan anak-anak? Mereka yang masih terluka dan tersakiti oleh perceraian dan perpisahan kami, jelas membutuhkan lebih banyak persiapan. Berapa banyak dari mereka yang beruntung bisa memahami alasan perpisahan kedua orangtuanya? Kebanyakan dari mereka berada pada tahap menerima, karena merasa itu bukan hidup mereka. Karena melihat itu di luar kuasa mereka.

Seharusnya ada diskusi antara kami dan calon keluarga baru tersebut, karena kami akan menjadi satu keluarga besar, terikat oleh anak-anak. Karena masih-masing dari kami akan menerima tanggung jawab besar, menjadi bagian penting dari kehidupan anak-anak yang bukan berasal dari mani atau rahim kami. Perlu ada perkenalan secara dewasa untuk menunjukkan pada ibu atau ayah kandung (mantan istri/suami) bahwa kita tak hanya datang dan merengguk hidup dengan sang mantan tapi menerima seutuhnya kehidupan pasangan kita di masa lalu.

Kemudian perlu ada pertemuan antara sang calon dengan anak-anak. Pendekatan yang sangat rapuh dan hati-hati. Memahamkan bahwa kehadiran kita bukan hendak menggantikan ibu atau ayah kandungnya, melainkan menjadi ibu tambahan, teman, saudara dan segala yang indah yang akan membuat keluarga kecil unik kami menjadi lebih kaya, Bahwa kehadiran kita bukan ancaman tapi memperkaya. Lalu dibuatlah diskusi kecil menyatukan dua keluarga baru, acara menyenangkan dan santai yang mudah dipahami kedua anak kami

Dan aku melenguh..

Konselorku mengajakku bangun dari hidup sempurnaku. Bahwa sudah saatnya aku berhenti berusaha membuat segalanya sempurna karena sebuah hubungan berlaku dua arah. Tidak bisa dan tidak akan bisa aku berjuang sendiri mendekatkan anak-anak dengan ayahnya apabila sang ayah tidak memahami pentingnya semua bentuk komunikasi ini dan juga tidak mampu melihat dampak dari semua masalah itu bagi anak-anak.

Dan aku merunduk pilu..

Selasa, 17 April 2012

Aku Perempuan yang Baik

Orang selalu menyarankan kita untuk melangkah ke depan dan melupakan masa lalu. Namun mereka tidak menyadari betapa masa lalu itu menggelayut dan merenggut sebagian besar energi kehidupan justru karena hal-hal yang mereka lakukan. Meski berkali disebutkan untuk berjalan lurus dan melangkah tegap, tetap saja kita terus dibenturkan pada masa lalu, pada kesalahan, pada ketidaksempurnaan.

Bagiku yang terluka dan cacat akibat perceraian yang pernah aku jalani, gayutan terbesar adalah asumsi umum yang menyebutkan diriku bukanlah perempuan terbaik, karena aku menyerah, karena aku kalah. Aku tidak bertahan dan berdiri kukuh di samping lelaki yang dihadapan Tuhan kukatakan akan kujaga dan kucinta. Karena aku tidak lagi menggenggam tangan seorang pria yang menjadi ayah dari anak-anakku. Karena aku menyendiri, mandiri dan berdiri garang menyambut semua tantangan kehidupan.

Selalu saja dipertanyakan mengapa aku tidak bertahan dan menjadi perempuan kesayangan Tuhan. Perempuan yang bertahan, yang menggenggam dan terus berjuang di tengah badai yang mendera. Selalu saja dipertanyakan sudahkah aku merenungi hal-hal yang luput aku perhatikan, yang belum aku perjuangkan, yang lupa aku pertahankan dalam perjalananku mencintai pasangan hidupku. Kembali, pasangan yang dihadapan Tuhan pernah aku katakan akan aku cintai dan dukung seumur hidupku.

Selalu saja mereka memandang heran dengan raut riang dan langkah ringanku. Hei, Perempuan, sudahkah kau merenung dan melihat ke belakang. Sudahkah kau memohon ampunan dan kembali menjadi perempuan yang baik. Sudahkah?

Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu. Tidak mungkinkah bahwa pada setiap perempuan yang memilih untuk berpisah, padanya telah dicobakan segala daya dan upaya. Tidak mungkinkah bagimu bahwa dia sudah mencoba segala yang dipikirnya bisa dilakukan.

Jika ditanya apa yang belum aku lakukan untuk pernikahanku, sering kali aku tercenung. Aku tahu, jawabannya adalah aku tidak mencintai diriku sendiri. Aku membiarkan segala tuntutan budaya dan dunia membuatku hilang dan mengabur. Aku melakukan segalanya dengan ketakutan akan kesendirian, ketakutan akan ditinggalkan, ketakutan akan dicap perempuan tidak baik. Dan akhirnya aku berusaha, berusaha, berjuang, berjuang, menghilang, mengabur, mengada, mendobrak, menjadi martir, menjadi tumbal, melupakan jiwa, melupakan asa.. Aku melakukan segalanya dengan pemahaman bahwa aku bukan perempuan baik jika suamiku memilih untuk pergi.

Tidak terpikirkah olehmu saat kenyataan itu menghantam, saat semua daya upaya membentur tembok baja, saat semua ketakutan makin menjadi segala yang melemahkan, maka tiba saat bagi perempuan untuk membuat pilihan. Sebuah pilihan pilu dan menyakitkan, pilihan yang berat bukan kepalang, pilihan yang menyeretku ke dalam lubang depresi. Segala ketakutan, segala ketiadaan, segala yang aku percayai runtuh dan hancur.

Tidak terpikirkankah olehmu bahwa keputusan itu begitu berat? Aku yang telah mengusahakan segala cara, menyerahkan segala hidup bagi pria yang begitu aku cintai selama hampir setengah waktu usiaku, tiba-tiba harus sendiri. Harus belajar menerima fakta bahwa segalanya sudah berakhir, bahwa usaha ini tidak mengarah ke mana pun. Bahwa aku membentur karang dan harus segera berbalik dan menuju arahan yang baru. Tidak terpikirkankah olehmu betapa sakit dan berat bagi seorang perempuan untuk bangkit dari keterpurukan dan rasa gagal akibat perceraian.

Tapi aku belajar, aku menegar, aku menguat.. 

Apakah itu kemudian menjadikanku perempuan tidak baik? Apakah itu berarti aku tidak melaukan segalanya demi mempertahankan mahligai yang begitu aku banggakan? Apakah keputusan untuk berhenti mengusahakan sesuatu yang sia-sia akan terus menjadikanku perempuan gagal dan tidak disayang Tuhan?

Sahabatku, aku perempuan yang baik.. Banyak kesalahan pernah aku buat, banyak kemarahan telah aku lontarkan, banyak angkara pernah aku biarkan, banyak kebodohan pernah aku lakukan.. Tapi, AKU PEREMPUAN YANG BAIK..

Senin, 09 Januari 2012

Genggam tanganku, jadikanku bagian darimu..

Sambil mendengarkan Christina Perri berulang kali melantunkan lagunya tentang kebahagiaan dua makhluk yang menyingkirkan ketakutan dan keraguan demi bersatu menyatukan ikatan dalam sebuah pernikahan, pikiranku melayang pada ketakutanku sendiri akan sebuah hubungan. Sebuah kedekatan.

Hati yang pernah terluka dan masuk dalam lorong gelap ini ketakutan dan memilih untuk menjaga jarak dari semua kedekatan dan hubungan. Berharap bisa sama sekali melepaskan diri dari kebutuhan akan adanya hubungan batin erat bersama seseorang dan mengarahkannya menjadi sebuah hubungan pertemanan yang tidak mengenal kata kecewa.
Dalam perjalanan pencarian makna hubunganku, aku bertemu dengan banyak pribadi yang memaknai dan melindungi hatinya dengan cara-cara unik mereka. Salah satu yang menarik bagiku adalah pemuda tampan yang kukenal tak berapa lama lalu. Dalam kehidupannya yang terbilang sukses untuk usianya, berada jauh di negara orang namun telah berhasil memenangkan satu sisi peperangan. Hidup nyaman dan aman dengan segala kemudahan berkat kerja keras dan disiplin dirinya.

Padanya kutemukan cara perlindungan diri dari luka dan duka akibat sebuah hubungan. Disampaikan bahwa dia tidak pernah meletakkan harapan pada manusia, bahkan tidak pada ayah dan ibunya. Tidak dia lekatkan hatinya lebih dekat dari Tuhannya agar tidak pernah dia merasakan kecewa. Manusia dipandang sesuai dengan keinginannya. Sebagai makhluk yang keberadaannya di dunia ini adalah sebagai pemberi bahagia. Tidak ingin dia melihat sisi menyebalkan atau negatif dari sosok manusia. Baginya itu bukan porsinya. Dilindunginya hatinya dengan menjauhkannya dari segala kedekatan cinta. Ditolaknya makna dan keberadaan cinta karena baginya tak masuk akal, mana mungkin cinta yang disebut sebagai sebuah keindahan dapat menghasilkan luka. Tak tepat rasanya saat sebuah rasa indah juga memiliki sisi buruk dan mengerikan yang bisa menyayat dan membuatmu jatuh ke dalam lubang kedukaan dan kenestapaan. Karena itu, katanya, dia akan selalu  bahagia. Karena itu, katanya, manusia tidak akan membuatnya kecewa.

Aku juga menemukan cara perlindungan dari kegagalan hubungan dari teman-temanku yang masih berada dalam pernikahan. Banyak dari mereka yang  menjauhkan diri dari kekecewaan dengan membagikan cintanya pada sosok yang lain. Dikatakan bahwa dengan demikian mereka mendapatkan cinta ekstra, perhatian ekstra dan kebahagiaan ekstra. Tidak diperkenankan salah satu dari kedua lelaki atau perempuan dalam hidupnya itu memberikannya duka. Saat kuangkat masalah kesetiaan, dikatakan bahwa pada kedua sosok itulah diberikan kesetiaan hatinya. Meski tidak juga mereka bersedia menerima sisi buruk dari kedua cintanya. Mereka hanya mengambil sisi baik dan kebahagiaan yang diberikan keduanya dan berlarian mencari kebahagiaan demi kebahagiaan hingga si selingkuhan berhenti memberikan kebahagiaan dan lebih banyak menawarkan kerumitan, maka dia akan digantikan.

Lelaki yang tengah dekat di hatiku pun menawarkan bentuk lain tentang sebuah hubungan. Dimintanya aku menghargai waktu pribadinya untuk bekerja dan berjejaring dengan teman dan keluarganya. Di waktu-waktu itu adalah waktu di mana kami tidak muncul. Kami ada saat kami bersama dan hanya saat kami bersama. Tidak diperkenankannya aku menelepon sering, mengirim pesan singkat sering, atau lebih tepatnya tidak diperkenankannya aku menjadi lekat dengan hatinya. Dimintanya aku berdiri tegak di atas kedua kakiku dan hanya menjadi kami saat segala waktu dan perasaan memungkinkan. Satu sisi kebebasan itu memberiku banyak ruang untuk bekerja dan mengembangkan diri sebagai teman. Namun saat hati kita dilarang untuk melekat, saat dia begitu sibuk melindungi dirinya dari kemungkinan sakit yang bisa kuberikan, di saat aku pun sibuk menjaga hati agar tak terlalu lekat padanya. Apakah dapat dikatakan kami berhubungan? Dapatkan disebutkan akan adanya KAMI?

Bagiku ketiga cara itu hanyalah sebuah pengalihan. Tidak kita bisa merasakan kebahagiaan sejati sebuah hubungan di saat hati kita terlindungi di dalam sebuah balon dan tak tersentuh. Kurasa takkan pernah bahagia sejati itu kita dapatkan dari seseorang di saat kita menolak untuk mengambil resiko terluka. Melindungi diri dan memilih kebahagiaan semu dengan mengandalkan pikiran kita, tidak akan membawa kita ke pantai yang kita dambakan. Keinginan untuk mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan dari sebuah hubungan adalah juga menyatakan diri menerima resiko kedukaan dan kesakitan yang dapat ditimbulkan dari hubungan itu. Hanya pada sosok yang memiliki peluang untuk memberi kita sebuah kedukaan mendalam, dialah yang memiliki potensi luar biasa besar untuk memberikan kita rasa nyaman dan kebahagiaan yang mewakili kebahagiaan Illahiah. Sosok yang menggantikan kenyamanan peluk ibu, menggantikan keamanan peluk ayah dan keyakinan yang disorotkan Allah. Sosok yang sanggup membawa kita terbang menembus segala batas potensi kita, karena cintanya memancarkan keyakinan dan kepastian hingga membangun yakin dan percaya dalam diri kita akan potensi kita namun juga sosok yang sanggup menghunjamkan pisau perpisahaan dan membancarkan darah yang berujung pada kematian sementara jiwa kita.

Aku bak hendak menerjunkan diriku ke dalam lautan luas, di mana segala kemungkinan bisa terjadi. Di mana segala kebahagiaan bisa teraih namun juga segala bencana mengintai. Dan aku masih ketakutan..

Sabtu, 12 November 2011

Aku dan Sebagian kecil sahabat terkasihku


Sahabat yang sangat melek fesyen.
Dia yang mengajarkanku melihat kelebihan dan menonjolkannya.
Terima kasih, Fajri Muslim. 


Perempuan muda ini selalu membuatku kagum dengan kemandiriannya.
Masih sering terlarut dengan ketidakpercayaan dirinya namun kukuh
dan tahu apa yang diinginkannya.
I love you, Titis.

Rabu, 09 November 2011

Aku dan hak reproduksiku

Pagi ini ada sms menarik yang masuk ke nomor HP-ku. SMS dari rekan dosen Bimbingan Konseling. Teman cantikku ini mendapatkan pertanyaan dari salah satu mahasiswanya yang sedang Belajar Mengajar di salah satu SMA. Si mahasiswa mendapatkan laporan dari salah satu siswinya bahwa dia hamil. Baru satu bulan dan si siswi kebingungan harus bagaimana. Kutanyakan apa saran dia pada si mahasiswa, jawaban yang diberikan sangat melegakan, dia menyarankan untuk tidak membawa masalah ini ke guru lebih dulu, tapi membantu si anak membuat keputusan sadar atas janin di rahimnya, kemudian membantunya berbicara dengan pacar, orangtua dan kemudian gurunya. Sebuah jawaban normatif memang, tapi indah..

Dan anganku melayang ke perbincangan dengan Hana minggu lalu, gadis belia dengan otak dewasa ini dengan menggebu menceritakan kegiatannya yang tengah melakukan advokasi hak reproduktif pada anak-anak perempuan. Dalam kalimatnya disebutkan hak untuk mendapatkan kenikmatan seksual (hmmm)

Dua perbincangan ini memicu khayal dan pikirku, apa sebenarnya tindakan tepat jika kita sebagai orang dewasa dihadapkan pada situasi ini. Bagaimana menjawab dan melindungi mata ketakutan anak yang tiba-tiba dihadapkan pada pilihan kedewasaan. Betapa sulit dan berat pilihan yang harus dia lakukan dan betapa besar sesal dan takut yang terbeban di wajah muda itu. secara normatif, atau normalnya, kita akan memperlakukan situasi ini bak kriminalitas, di mana perlu diberikan hukuman berat baik secara fisik maupun lingkungan agar menjadi contoh mengerikan bagi pelaku atau calon pelaku lainnya. Biasanya akan dilakukan pemaksaan aborsi atau pernikahan yang berujung pada berhentinya siklus kemajuan si perempuan karena tidak lagi diperbolehkan meneruskan pendidikannya. Tinggallah dia dalam keterpurukan, sedih tak terkira, sesal tak terbayang dan keterkucilan yang menyakitkan. Di dalam semua kegelapan dan kengerian itu, si perempuan disudutkan dan dihentakkan pada tanggung jawab mengasuh bayi yang menjadi sumber segala keputus asaannya itu. Dan siklus sedih dan kecewa dan luka pun berlanjut dan kekal pada si anak..


Ya, aku melihat wajah berkerutmu. Mempertanyakan sudut pandangku yang seolah menjadikan mereka korban dan bukan pelaku dari kesalahan mereka sendiri. "Kalau gak mau susah ya jangan dilakukan," henyakmu. "Itu akibat tidak mau mematuhi aturan masyarakat dan agama," teriakmu lantang.. Benarkah? Tepatkah?


Bagiku menyalahkan adalah sebuah hak istimewa yang bisa aku dapatkan saat semua syarat pencegahannya sudah aku lakukan dengan baik dan benar. Dalam kasus remaja SMA ini, apakah kita sebagai orang dewasa sudah membekalinya dengan segala pemahaman akan hak reproduksinya? Sudahkah kita menunjukkan padanya segala fakta dan konsekuensi fakta atas pilihannya terkait hak reproduksinya? Ataukan kita ajari dia dengan jargon dan bahasa abstrak tentang kenikmatan surgawi dan kengerian neraka?


Agama memang sangat penting, tapi keabstrakan agama sebagai dampak dari unsur kepercayaan dan keyakinannya tidak akan mampu membendung derasnya informasi dan rangsangan media modern yang kini menjadi asupan harian anak-anak kita. Ada jurang yang cukup lebar dan dalam antara ide-ide agama dan fakta informasi di kehidupan nyata. Diperlukan sebuah jembatan yang bisa membuat anak mudah memahami pesan dan kemudian menggunakannya dalam proses pengambilan keputusan hidupnya, termasuk di dalamnya keputusan akan hak reproduksinya. Keputusan menggugurkan kandungan? Matamu terbelalak membaca, hatimu mengkerut menebak arah pikiranku..


Sebuah hak reproduksi tidak berhenti dan berfokus pada dilanjutkan atau digugurkannya sebuah kandungan. Lebih awal dan lebih jauh, hak ini membantu manusia memahami dirinya dan memiliki kehidupannya. Tidak lagi seorang anak perempuan merasa perlu menyerahkan kegadisannya demi cinta anak lelaki atau anak lelaki menggauli perempuannya demi keperkasaan dan ketenaran atau bahkan cinta. Pada penerapannya, pemahaman akan hak reproduksi lewat pendidikan dan penyepahaman adalah tentang definisi, dampak dan juga konsekuensi logis dari setiap keputusan yang diambil. Tidak ditakuti atau dialun si anak dengan ancaman neraka maupun janji surga, melainkan ditunjukkan padanya fakta-fakta hidup yang akan mereka hadapi, diajak si anak berpikir dan menimbang untuk kemudian mengambil keputusan sadar terkait haknya atas reproduksi. Fokus perbincangan dan pendidikannya bukan pada kenikmatan seperti yang kini dipaparkan oleh media, tapi pada alur berpikir, logika pengambilan keputusan dan informasi faktual dan dapat dipertanggung jawabkan.  Padanya kemudian bisa kita bebankan tuntutan untuk bepikir logis dan membuat pilihan cerdas.

Lalu bagaimana jika setelah semua itu kesalahan tetap dilakukan? Maka penghormatan dan penghargaan perlu kita berikan pada hal-hal yang sudah kita ajarkan. Serahkan keputusan kembali kepada si pemilik reproduksi, biarkan kembali dia menjalankan haknya dan tugasnya sebagai manusia dengan segala kebaikannya, kemudian pusatkan pikiran kita bukan pada si remaja yang sudah tergelincir tapi pada anak yang kini ada di dalam kandungannya. Dia lah yang menjadi pertimbangan kita. Saat kita memutuskan untuk mengucilkan, dibayangkanlah si bayi dalam kandungan, siapa yang akan memastikan segala gizi terpenuhi agar dia terlahir sebagai individu kuat yang akan membantu memperbaiki dunia ini. Saat kita memutuskan untuk menghentikan langkah berkembang sang Ibu, pikirkan bagaimana kemudian kelak, ibu yang putus asa, sedih dan penuh marah itu bisa membesarkan anak yang sehat, kuat dan cerdas? Hentikan lingkaran kesalahan dan kedukaan itu dengan mengubah paradigma kita dan melihat anak yang kemudian ada di dalam rahimnya.

Mari selamatkan anak-anak kita dengan menyadarkannya akan hak reproduksinya..

Anak-anakku, aku mencintaimu..
 

Jumat, 28 Oktober 2011

Aku dan dukaku..

Hari ini cukup berat, setelah dengan tenang berpikir sejak semalam, akhirnya aku memutuskan menghentikan langkah cinta, selagi masih pagi hari dan masih pucuk bunganya. Tapi tentu sebagai perempuan, hatiku terusik dan terkulik. Sakit dan perih bukan buatan.

Lalu sahabat kecilku mengingatkanku untuk mengalihkan pikiranku agar tak terasa sedihku. Hmmm..jadi teringat diri lamaku, 2-3 tahun lalu. Aku yang begitu naif dan mudah terlarut. Air mataku begitu  mudah jatuh dan membenamkan semua pikir dan nalarku. Di masa itu, setiap kali hatiku diusik, setiap kali ketenanganku digoyah, maka runtuhlah duniaku, runtuhlah dindingku. Tidak lagi aku bisa berfungsi dan berkarya seperti sejatinya diriku. Aku hanya bisa menangis dan membenamkan diri ke dalam luka dan dukaku, jatuh mengasihani diriku.. Itu dulu....

Perlahan aku melihat betapa kejatuhan itu tiada berguna, betapa tangis kita tidak berarti apa-apa, tidak menghasilkan apa-apa. Tidak juga membuatku merasa lebih lega atau seperti kata pujangga, tidak juga aku merasa hatiku terbasuh dan menjadi bersih. Yang kurasakan hanya duka dan luka.. Terbenam dan terseret. Aku melihat dukaku itu juga tidak memiliki pengaruh pada dia yang melukai dan mengoyakku. Tidak lalu tangisku membuatnya menyesali atau bahkan mengubah apa yang sudah dilakukannya. Tidak juga dukaku itu membuatnya berpikir dan melihat dalamnya kasih dan peduliku padanya... Alih-alih, aku melihat senyum kebencian atau bahkan kepuasan..

Belahan hati yang kini pergi pernah berkata bahwa dia adalah pribadi utuh dan bahagia, karena itu tiada satu manusia yang bisa menyakitinya. Dia akan menilai semua hubungan yang terjadi, lalu pergi jika dirasa hubungan itu hanya membawa keburukan. Sebuah pendapat yang dingin, tapi banyak mengandung kebenaran. Di saat kita tahu bahwa diri kita adalah cukup, bahwa kita adalah kebaikan dan keberkahan, maka kehadiran orang lain hanyalah pelengkap. Dia menjadi tidak mempengaruhi kebahagiaan dan keutuhan kita. 

Intinya sebenarnya pengendalian diri. Kapan kita bisa dengan cantik melebur perasaan dan logika ke dalam kehidupan kita. Kita bisa menyalakan dan mematikan sekelar perasaan dan menggunakan sisi yang paling tepat. Menjadi sosok yang sangat profesional di pekerjaan, dingin dan penuh logika namun berubah hangat dan penuh cinta saat bersama dengan kekasih-kekasih jiwa kita... Aku hampir berada di titik itu.. 

Saat jiwa ini diperas dan diiris, aku sudah bisa menutupnya dan mengesampingkannya, untuk kemudian kugunakan logikaku untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada di depanku. Sayangnya, ini juga belum menjadi jawaban tepat dari kedewasaan yang kupertanyakan. 

Hidup ini tidak hitam dan putih, tidak pula bisa dimati dan nyalakan sesuai kebutuhan kita. Hidup kita terjalin dengan kehidupan banyak orang lain dan dalam kehidupan mereka itu terjalin pula hitam putih masing-masing. Sering kali, dalam perjalanan hubungan, posisi mati dan nyala itu tidak sesuai.. Saat aku menyalakan sisi cintaku, belahanku mematikan sisinya..maka timbullah masalah..

Lalu apa sebenarnya solusinya.. Nampaknya, seperti kata temanku dari India, bahwa kebahagiaan adalah pilihan. Sejatinya, latihan yang kita lakukan adalah untuk terus memilih menjadi bahagia. Lalu perlahan definisi kebahagiaan akan berubah, seiring usia dan pengalaman. Tidak lagi kebahagiaan itu menyangkut materi atau pun sosok manusia.. Bahagia kemudian bergeser pada pemahaman dan rasa syukur luar biasa atas kesendirian dan keutuhan diri kita pribadi. Bahagia bergeser pada kesempatan yang diberikan untuk diam di dalam kamar, merenungkan semua perjalanan dan membiarkan inspirasi baru merasuki relung. Seperti kata Rumi, mengosongkan jiwa dan memberi jalan bagi cahaya Ilahiah untuk masuk dan menerangi relung jiwa kita.

Teruslah memilih untuk bahagia, memilih untuk membiarkan cahaya Ilahi itu menerangi dan menghanagatkan kalbu kita. Teruslah untuk memilih tersenyum dan menyingkirkan semua beban yang membuat senyum itu tidak terkembang..

Teruslah memilih bahagia dan menemukan definisi bahagiamu..

Teruslah menjadi diri sejatimu..






 

Sabtu, 22 Oktober 2011

Bertahan demi kalian, Anak-anakku..

Setiap berbicara tentang pilihan untuk berpisah, perbincangan selalu mengarah ke anak-anak. Bahwa di tengah porak porandanya hati, terbelahnya jiwa, teralihnya rasa, sangatlah tidak tepat untuk mengambil pilihan berpisah. Terasa egois katanya.. 

Aku jadi ingin terbang dan berandai menjadi anak.. Apa sebenarnya yang lebih nyaman bagiku, berada di lingkungan yang bagaimana? Ada di setting yang mana?

Sosok indah yang baru tiba dalam hidupku berkata, bahwa hal terpenting dalam hidup ini adalah membuat dirimu bahagia, hanya setelah kau bahagia maka kau bisa menularkan kebahagiaan itu pada mereka di sekelilingnmu... Pernyataan menarik yang masuk dalam logikaku kini..

Lalu pikiranku melayang ke masa aku kecil.. Saat kedua orangtuaku mengambil pilihan normatif yang sama. Bertahan demi kami, anak-anak mereka, buah cinta mereka, kehidupan mereka.. Dan bagaimana aku sebagai anak, bagaimana aku berpikir, apa yag kurasakan di saat itu?

Sebagai putri kesayangan ayah, kemanjaan nenek dan kakek dan tumpuan kehidupan semua pihak, aku kebingungan. Aku yang sejak awal tidak diajarkan untuk merasa nyaman dengan kebohongan, dengan kemunafikan, begitu tersiksa melihat kedua orang yang paling dekat dengan hatiku, paling dekat dengan anganku memilih untuk menjadi dua makhluk tersiksa dalam panggung sandiwara tanpa penonton itu..

Semula aku tak paham saat pelantun berlagu "hidup adalah panggung sandiwara".. bagiku hidupku bukanlah sandiwara, dia adalah manifestasi dari perasaan, pikiran dan ide-ideku. Dia adalah wujud dari kesadaran dan kebanggaanku sebagai manusia, sebagai perempuan.

Tapi melihat mereka.. Bertahan di satu atap, bertahan di situasi menyakitkan, situasi memalukan, situasi memilukan.. untuk apa? Untuk kami? Apa yang kalian pikir kami, anak-anak pikir dan rasakan, saat melihat, merasa dan meraba luka di wajah ibu, lelah di paras ayah, luka di suara dan lantun keduanya? Apa yang menurut kalian kami rasakan, pikir dan bayangkan, saat melihat kedua orangtuanya menyunggingkan senyum palsu di depan orang asing, melantunkan kata cinta masa lalu, mendengungkan kekaguman masa dulu yang semua itu langsung pudar begitu keduanya menginjakkan kaki di rumah?

Ataukah kalian lebih mampu menyembunyikan perasaan kalian di depan kami anak-anak dibanding orangtuaku dulu? Ataukah kalian begitu yakin, kami anak-anak tidak bisa merasakan? Dari mana? Dari tatapan "bahagia" kami? Dari teriakan kanak-kanak kami? Kami memang anak-anak tapi tidak berarti kami tubuh kecil yang kosong.. Yakinkah kau bahwa kami tidak tahu? Yakinkah kau adalah tawa bahagia yang kami suarkan? Yakinkah kau adalah tatapan mata bahagia yang kami sorotkan? Ataukah hanya cara kami bertahan? Ataukah hanya cara kami memanifestasikan pemahaman kami akan hubungan kalian? Bahwa kami "tidak peduli"? Bahwa kami menafikkan luka dan duka yang berselimutm menafikkan kebingungan yang bergejolak?

Sampai usiaku menginjak remaja akhir, aku tetap bingung dan kebingungan itu membuatku kehilangan panduan dan arahan tentang apa sebenarnya sebuah "hubungan". Apa yang menjadikan sesuatu itu pantas dipertahankan? Mengapa aku perlu menjadi bagian dari sebuah hubungan? Dan sampai kini aku masih terus berlari dan mencari..

Lihat kembali anak-anak kalian, Sahabatku.. Bercerminlah di bening mata mereka.. Kejujuran kaliankah yang tampak atau ketidakpedulian mereka pada kebohongan kalian.. terutama pada hati nurani kalian..