Kamis, 29 September 2011

Parenting as an art of relationship

Just got back from a very interesting meeting that supposed to talk about parenting. What made it interesting was not the topic itself or the fact that the speakers are all gentlemen, one fact that intrigued me at first, but the perspective that they brought.

Well, as someone who believe so much in child right, I see my role as a parent in this parenting game is to serve that right, coz every child has the right to have a good parenting to help them see their potential and their purposes in life. With this philosphy then I never try to find an easy way to shape my children, coz the objective of parenting was not to shape her/him to be something that is good in our eyes. It is meant to be a long and windy road.. Just like every relationship we have in this life. Its an art..

They are talking about ways to manipulate the mind and the feeling of our children, based on their knowledge on neurolinguistic. How you can solve problem and make others to do what you want without feeling obligated, that we try to implemented what good according to us to the back of their mind. WOW!!!

Me myself, I would not want my husband, my love, my parents nor my best friend to manipulate me. The difference between manipulating and try to make her/him see our point of view is very thin!!! But I believe that in any relationship, be it between lovers, spouse or parents and children, the key is respect. Both parties must respect each other. No one is higher then the other. The there comes the art..

Then what is the objectives of pareting? Every books I read about this subject always tell the same thing, to prepare our children for their own life in the future. Then from that the intrepetation differs. Some then tries to gather all the information you can get on how life is working then give them to the chilren. By this they have to realy put it in detail and traine the children in the best way possible. Hoping that they can learn everything they need to know about life. Unfortunetaly we are not fortune teller, there is no way we can predict how life would be like in their adult time. So we frantically searching high and low to gather more information and believe me..one day we got very tired and could not keep up with the era.. There will always be something new.. and your children will always confused when they face with a new situation or challanges. Why do we do something that can only make us confused? And when we are confused, we tend to loose our coolness and become a monster for our children and in time the essence of parenting, which is a good relationship between parents and children, will not be achieved.

Children are very well equipped with all the tools to learn. They are meant to be a learning creature. Maybe they don't know much now but that doesn't make them a stupid creature. They are learning and they learn faster than you think they are. So the best think we can do is to respect that abilty. By respecting it then we don't feel compelled to gather all of the information. Just teach them how to think. Give them examples on how to see where you are going, to stop for a while before doing something, to gather all the information before making decision. After you gave them examples then respect their right to be involved in their own life. To fully involve in their own life. Giving them freedom doesn't mean to just let them loose..nooooo. But I think we also need to teach them how to see our own strentgh and weakness, that we are not perfect and from that imperfectness we need others to help us. So teach them how to get help, who to ask for help. That is I think what they mean when they say be your children's friend. It's not that we have to do all the children, teenagers or youngsters stuff with them. But we all know that sometimes we trust our friends more then our parents. So the messege was realy, be someone that your children can trust. Build a respectfull, trusting and loving relationship with y our children. And that is the art...

Do not ever think that you love them too much.. There is no such thing. No love is too much.. But in that love, remember to respect your children right, remember to always give them their own room to grow and just be there as their loving parents. When they feel that, then they will discussing almost anything with you, not to ask for your guiadence but to be their partners. Do not give them answer, instead, provoke their thinking and let them make their own conclusion and decision. One that they can fully responsible of.

So..that is the thought they provoked in me..

Ubah caramu memandangku..

Perempuan memang luar biasa...

Setiap kali bertemu dengan teman-teman masa lalu yang  berjenis kelamin perempuan, ada satu kesamaan yang aku temukan. Semua selalu peduli bahkan sangat peduli dengan penampilan. Dimulai dari betapa besarnya ukuran tubuhku sekarang, saat itu tidak tampak mempengaruhi kepercayaan diriku, pertanyaan berpindah pada mengaapa hanya lelaki yang bisa kulahirkan di dunia ini. Dan saat itu pun tidak sanggup mengguncangkan kebahagiaanku atas kehidupan yang diberikan padaku ini, dia bergerak ke betapa menyedihkannya aku harus gagal dalam pernikahan dan bercerai.. Oh la la..

Wahai sobatku,
Aku sama sekali tidak merasakan semua kecemasan yang kalian sebutkan itu. Aku tidak lagi merasa terancam dengan ukuran tubuhku dan betapa ini tidak sesuai dengan apa yang dunia sebut cantik. Sederhana, sayangku, aku hidup di duniaku, di kebahagiaankku dan di sana, ukuranku tidak menjadi sesuatu yang mengerikan. Aku tidak juga mengatakan aku bertubuh seksi sebagai bentuk dari penolakanku atas kenyataan. Aku bahagia dengan tubuh gemukku, bangga dengan usiaku, bahagia dengan wajah  bulatku, puas dengan lesung pipiku, aku bahagia dan bangga dengan tubuhku. Karena tubuhku adalah diriku, tidak kutujukan keindahan tubuhku untuk kenikmatan lawan jenis atau bahkan sesama jenis. Di pagi hari saat aku memilih pakaianku, semata hanya untuk mendukung perasaanku di pagi itu. Saat aku merasa malas dan sedih, kukenakan pakaian cerah dan menggoda untuk menggoda semangatku sendiri dan memompa kecintaanku sendiri. Saat diriku merasa menggebu dan sangat percaya diri, kubalutkan pakaian sederhana dan berwarna lembut untuk menurunkan kebangganku akan dirikku. Aku adalah aku dan kupersempahkan diriku untuk diriku sendiri.

Saat aku masih dalam belenggu budaya, sering kali aku dibuat sedih dengan fakta bahwa aku hanya bisa melahirkan dua anak lelaki di dnunia ini. Mengapa aku tidak cukup pintar untuk melahirkan anak perempuan. Astaga, betapa buruknya prasangka itu. Anak adalah milik Allah, DIAlah yang menentukan jenis kelamin dan bukan kita. Begitu banyak teori yang mencoba menjelaskan perilaku pembuahan yang diharapkan dapat menentukan jenis kelamin si anak. Untukku kedua anakku sudah merupakan jawaban dari doaku. Keduanya adalah cerminan dari harapanku. Tidak pernah aku bertanya mengapa aku tidak memiliki anak perempuan. Karena seperti hal lain dalam hidupku, aku tak melihat adanya kelebihan pada salah satu jenis kelamin. Keduanya manusia dan pada keduanya aku memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama.

Menarik melihat bagaimana manusia begitu memperhatikan detail yang  membuatnya berbeda dari orang lain. Dan betapa di tengah perbedaan itu selalu berusaha ditunjukkan dan dijadikan sebuah kelemahan. Perbedaan bukan kelemahan tapi tidak juga menjadikannya sebuah kekuatan. Dia hanya berbeda. Jika kau melihatnya dan merasa itu kelemahan, untuk apa memastikan dia tahu kelemahan dan kekurangannya itu? Untuk apa menekankan betapa tubuh dan kondisi keluarganya berbeda dari kebanyakan? Kenapa tidak bisa menghargainya sebagai sebuah lingkup individu yang tidak pantas kita seberangi?

Sudah saatnya kita mengubah cara melihat sesama dengan pandangan sosial. Bukan mencari dan menghakimi kesalahan atau pun kekurangan tapi mencoba mendukung dan menjadikan semua memiliki peluang yang sama dalam kehidupan. Itu yang dimaksud dengan persamaan. Jika kau bisa melihatkku dengan pandangan positif, menghargai pilihan hidupku dengan semangat membantu, maka dunia akan begitu indah..



Minggu, 25 September 2011

Gadis di lampu merah

Dalam perjalananku menuju tempat kesayanganku untuk duduk dan bekerja, aku melewati sebuah lampu merah dan di bawahnya duduk seorang gadis pengamen remaja dengan perut membuncit. Dan aku terhenyak. Anak semuda itu, dalam hidup sekeras itu, dia tengah hamil. Dan anganku melayang jauh. Apakah kehamilannya dia inginkan? Apakah dia tahu untuk apa dia hamil? Ataukah baginya ini hanya akibat dari kenikmatan sesaat namun berulang ?

Bertanya aku dalam hatiku, apa makna kehamilan itu baginya? Apa makna anak yang dikandung dalam perutnya? Rencana apa yang dia miliki untuk si jabang bayi? Sudahkah dia bahkan membayangkan kehidupan setelah sang bayi lahir?

Sering kali kehamilan hadir tanpa diinginkan, saat hal itu terjadi, tudingan keburukan langsung jatuh pada kaum perempuan. Karena dia tidak mampu menjaga kesucian tubuhnya, kemartabatannya, kekeramatan kandungannya. Dan pada akhirnya kaum perempuan harus menerima segala konsekuensi dari kehamilan itu...

Yang menjadi kecemasanku bukan hanya rusaknya masa depan si perempuan karena sistem pendidikan dan sistem sosial yang hanya bisa mengutuk tanpa bisa membantu dia menghadapi konsekuensi dari "kesalahan" itu. Kedua sistem ini tidak memberi pilihan bagi perempuan untuk melihat tubuhnya sebagai istananya, sebagai kuilnya. Dia diperintahkan untuk menjaga kuilnya demi dipersembahkan pada lelaki yang akan meminangnya. Kemudian saat lelaki peminang itu menanggalkan kejantanannya, tinggallah sang perempuan dengan segala hukuman tanpa ada sedikit pun mekanisme yang menopangnya. Meski perempuan dianggap sebagai penanggung jawab utama bagi keberlangsungan hidup janjin dalam kandungannya, tidak satu pun sistem sosial yang mendukung perannya itu, jika memang itu peran utamanya. Tapi aku juga mencemaskan anak yang kini tengah dikandungnya. Akankah anak ini mendapatkan semua hak yang sejak dalam kandungan telah wajib disediakan padanya oleh orang dewasa yang ada di sekitarnya? Akankah si anak mendapatkan kemartabatan dan penghargaan yang layak dia dapatkan sebagai calon pemimpin setidaknya bagi dirinya sendiri? Apakah kehadirannya disambut dan diiringi dengan kasih sayang dan penghargaan di saat kedua orangtuanya terlebur dalam kerasnya kehidupan?

Kembali ke gadis muda di tepi jalan yang duduk termangu dengan perut membuncit. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebingungan. Tidak ada sama sekali kecemasan dan tanda tanya yang biasa aku temui di para ibu dengan kehamilannya. Tidak ada usaha untuk menghitung gizi dan menata kesehatan atau mencemaskan apakah anaknya akan terlahir sempurna dengan kecerdasan yang memadai. Dia hanya duduk dengan minuman dinginnya, di tepi jalan penuh debu, diterpa asap kendaraan dan debu jalanan. Dia hanya memikirkan hidupnya hari ini.

Padanya tidak seharusnya direnggut hak untuk memiliki keturunan, tapi padanya sebaiknya diberikan kebebasan untuk memilih dan menentukan kesiapan akan menjadi orangtua. Atas kebebasan memilihnya, tidak seyogyanya dipertaruhkan kehidupan seorang anak, tidak sepantasnya dibiarkan satu lagi generasi hilang.

Pada mereka sebaiknya diberikan penyuluhan yang gamblang dan mudah dipahami tentang pentingnya bersiap menjadi orangtua, lalu kemudian diberikan fasilitas gratis KB, apa pun bentuk yang dipilih. Sebaiknya didatangi mereka setiap bulannya, diingatkan akan kesehatannya, diberikan fasilitas pemeriksaan bermartabat dan disediakan segala perangkat perlindungan diri dan perencanaan keluarga. Bagi para gadis dengan kehidupan keras ini, hendaknya dipermudah dan dipastikan kesehatan dan kondisinya. Dijaga agar dari mereka tidak lagi dihasilkan satu generasi yang hilang. Tidak lagi dihasilkan anak-anak yang kemudian dijadikan alat berdagang dan mencari uang. Martabatkan mereka dengan memberikan pilihan dan penghargaan atas tubuhnya. Diberikan pemahaman bahwa ada hak pada mereka untuk menolak atau menunda memiliki anak. Dan juga diberikan pemberdayaan untuk memahami hakikat dan keindahan menjadi orangtua.

Maka dari mereka tidak akan terlahir generasi yang hilang.

Anak-anakku, aku mencintaimu..




Selasa, 20 September 2011

Can you be faithful?

Someone raised this simple yet very difficult question to me yesterday. I was so shocked by this. Can I be faithful? Then my wild and always wonder mind went on to search what is exactly the meaning of faithfulness and how we can be faithful.

I found that faithful is a choice we make in this life. Being faithful not only related to individual but also to our cause in life. As long as you are devoted and stand firmly to that one and only one, it means you are being faithful. I can say I am faithful to my self, my children and my cause. But can I be faithful to "you"?

Being faithful to yourself, children and cause is actually an easy thing to do. You just have to trust and rely on your self, no external factors. As a mother, I know so well my role for my children. I am meant to be their protector and their up bringer.. So I am not suppose to ask for anything from them. That means there are no external factors. With them I just give and give cause I know that is my duty for my God. Being faithful to my self, it is difficult if you don't see your self as a worth it human being. When you don't believe that you are somewhat enough and precious. I have pass that, I know I am worth it, I have been able to screen out all negative thinking that I have been fighting for in my 36 years of life. Now I can walk proudly being LOVELY, being a mother and now a single woman. I know I can reach many things as long as I put my mind into it. So again, being faithful to my self doesn't involve any external factors. I have already learn to chose to control the things I can control, which is my self and boy, was that hard to do..

Now come the question of being faithful to "you".

It takes a lot of courages.. Being faithful to someone means you put your heart into his/her hands. He/she holds part of your happiness. And you can never in control of that happiness. And trust can only be earn not given. This actually very scary to me. Betrayel comes in many forms. It doesn't have to be cheating with other woman. Betrayel means breaching of trust.

Trust also can cover many things. When you are in a relationship, you are not only trusted your love to that person but also your dreams and obsessions. You wish that both of you can help each other to reach that dreams. But dreams change, people change. And that change is unstoppable and also unavoidable. Would it be a betrayel when your partner's dream changes and might not be in line again with yours? Should then you change the dreams and make it in line to save the relationship? What about if yours are the one that change? Would you call your self a traitor? How can then you manage those dreams? Since it is every body's right to have a dream of their own? How can you be faithful to someone when you don't have the same dream any more? Will communication be the answer? And if we do communicate and the result is still we have a change of dream, then what?

There is also a matter of the heart. Being faithful means stay to one person and give your self only to that person. Its also involve a lot of risks.. So many times I found how people have belittle the meaning of relationship. How they talk about their immense love towards his/her partners while casually dating others. So what do you call faithful? How can I be sure about "you"? How can I take that risk and give "you" my heart? How can I let you have big power over my heart?

Now there is a saying that happiness is in our own hands. How can I maintain my happiness when I give my heart to other person? When his/her well being is part of mine? When his/her happiness is part of mine? That would be to big of a risk. They also say that I should give my lotalty to the right person. That also raise more questions, how can I know he/she is the right person? By giving him/her a chance? By letting my heart be at risk?

So how can I be faithful? How can I stay true to "you"?

Aku perempuan dan aku menghargai..

Belakangan heboh dibicarakan dan didiskusikan tentang perempuan dan rok mininya. Muaranya dari kasus perkosaan di angkutan umum yang memancing pejabat publik mengeluarkan pendapat. Sayangnya kedua pejabat publik yang diharapkan menjadi pengayom masyarakat baik perempuan dan lelaki itu malah mengeluarkan pendapat yang lebih melindungi satu gender warganya. Dengan mudah keduanya menyalahkan kaum perempuan sebagai penyebab angkara murka yang menimpanya. Dikatakan mereka pantas mendapatkan angkara murka tersebut karena telah berbuat nista menjadi penggoda, menjadi penggoyah iman lelaki yang ada di dekatnya.

Ya, kau benar, kedua pejabat itu berkelamin lelaki. Maka kau menghela napas dan terdiam paham.

Bukan, bukan itu sumber resah gelisahku hari ini. Tapi membaca semua debat dan pendapat, sangat jelas terlihat betapa secara umum memang seluruh angkara itu masih menjadi duka perempuan. Terus kami disalahkan mulai dari cara berpakaian, bersikap dan berbicara. Disebutkan betapa seluruh tubuh kami adalah sumber petaka lelaki, neraka lelaki. Maka sebaik-baiknya kami adalah mereka yang terdiam, membisu, menghela di pojok gelap dan sepi. Dia yang tertunduk dan mengabdikan dirinya pada lelakinya. Mempersembahkan seluruh indahnya pada lelakinya. Dan kembali aku menggeliat...

Benarkah aku memakai bajuku untuk itu? Benarkah di pagi hari aku mematut dan berdandan untuk menarik lawan jenisku? Benarkah keseluruhan keberadaanku telah ditakdirkan menjadi pemuas bagi lelaki yang konon kabarnya telah ditakdirkan menjadi suamiku? Hmmm..seingatku, tadi pagi aku memilih baju untuk membuat KU senang. Untuk membuat KU nyaman. Untuk membuat KU cantik. Tidak ada sama sekali faktor Nya di benakku. Tidak sama sekali ada niat untuk itu.

Adalah bukan salahku apabila kecintaanku pada diriu, kebanggaanku pada diriku menghasilkan kekaguman di mata yang melihatnya. Bukan dosaku saat kau tak bisa mengendalikan diri dan terpana melihatku. Karena saat aku merasa cantik, apa pun baju yang kukenakan, sepanjang apa pun kain itu kusarungkan, kau akan bisa melihat pancarannya. Kau akan bisa merasakan kehangatannya. Kau akan bisa merasakan kekuatannya. Aku perempuan yang bahagia dan bangga akan keberadaannya di dunia ini.

Benarkah? Kau bertanya. Benarkah bahkan saat kain itu begitu panjang disalurkan, kau akan tetap terpana melihat kecintaanku pada diriku? Bukankah minimnya kain, tingginya rok menjadi pemicu dan akhirnya menimbulkan angkara?

Kalau benar itu yang jadi logikanya, maka sepatutnya kejahatan itu hanya dirasakan oleh mereka yang bergaun minim, yang bersikap genit, dan segala yang negatif menurut budaya lainnya. Tapi fakta kehidupan menyebutkan betapa angkara itu tidak memilih usia, tidak memilih baju yang dikenakan dan tidak juga memilih sikap yang ditunjukkan. Korban yang jatuh beragam dan bahkan pada mereka yang jelas telah menuruti kehendak lelaki untuk menutupi dan berdiam di sudut sepinya. Maka bukan itu intinya, bukan itu akarnya, bukan itu pemicunya...

Bukan pada perempuan dan segala atributnya.. Tapi pada si pelaku. Pada pikirannya, pada jiwanya, pada kemampuannya mengendalikan dirinya. Sudah saatnya para lelaki diajak untuk melihat tubuh perempuan sebagai tubuh ibunya. Tubuh yang telah membantu menghadirkannya di dunia ini, tubuh yang membagikan nyawanya demi kehidupan selanjutnya, tubuh yang meregang dan terus diregang bahkan jauh setelah kehidupan itu dilahirkan. Sudah saatnya para lelaki diajak untuk melihat tubuh perempuan sama seperti tubuhnya sendiri. Benda ilahiah yang menjadi kuil tempat di mana Tuhan bersemayam. Melihat tubuh perempuan sebagai manusia, bukan obyek yang dirasa berhak dinikmati baik dalam pandangan dan bila diberi kesempatan,disentuh dan dihancurkan.

Maka seyogyanya kita perlu melihat kembali ke pendidikan dan pengajaran, baik di rumah maupun di ruang publik. Sudahkah kita mengajarkan kesetaraan itu pada anak-anak kita. Sudahkah kita mengajarkan penghormatan dan penghargaan bagi kepentingan dan kebahagiaan orang lain? Sudahkah anak lelaki kita diajarkan untuk tidak lagi melihat saudara perempuannya sebagai makhluk yang diciptakan demi memuaskan dan melancarkan perannya sebagai khalifah di dunia ini? Setahuku, aku pun khalifah, aku pun karunia dan berkah bagi alam semesta ini. Aku sama berharganya dengan para pria dan pada aku pun ditanamkan penghargaan dan penghormatan pada kaum pria, bukan karena dia makhluk yang lebih mulia dariku tapi karena dia manusia, sejajar dan setara denganku serta patut mendapatkan penghargaanku.

Aku perempuan dan aku menghargai...

Jumat, 16 September 2011

Aku ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada

I want to love you in the simplest way
With words that the wood failed to tell the fire
And make them ashes

I want to love you in the simplest way
With clues that the cloud failed to tell the rain
And make them disappear

Sapardi Djoko Damono

Rabu, 14 September 2011

Aku Perempuan dan aku bahagia..

Hariku selalu diawali dengan sebuah kisah yang luar biasa...

Pagi ini seorang perempuan mengirimkan pesan singat padaku mempertanyakan siapa aku bagi belahan jiwanya dan apakah aku tahu sang lelaki itu sudah berbelahan jiwa? Sebuah pertanyaan yang menusuk dan mengoyak di pagi hari.

Ada apa dengan kita wahai perempuan? Mengapa selalu saja kita melihat sesama kita sebagai ancaman dan bukan sekutu? Ataukah aku yang terlalu naif? Apakah memang sebenar-benarnya itu yang terjadi di dunia di luar dunia indahku ini? Aku menggeliat dan menanar dan menggugat (ha ha ha kau benar, Ayah.. aku memang begitu mudah dibakar.. mungkin itu sebabnya namamu langsung menempel di jiwaku..)

Jika bicara tentang perempuan kedua, kita selalu melihatnya sebagai perusak dan ancaman. Tidak pernah terbersit sedikit pun dalam benak kita bahwa perempuan ini adalah korban. Mengapa tidak terlintas bahwa di saat kita tidak ingin kebahagiaan kita dikoyak, maka perempuan lain pun tidak ingin mengoyak kebahagiaan kita? Atau aku yang berpikir naif dan mengira semua perempuan telah berada di posisi memilih?

Bagiku sebagai perempuan, keberadaan laki-laki bukan menjadi prasyarat utama sebuah kebahagiaan. Mereka diciptakan sama seperti kita, sebagai mitra bagi pasangan yang sudah ditentukan baginya. Maka pencarian dilakukan atas dasar kemitraan. Sebuah hubungan kesetaraan dan ketersalingan. Dengan pemahaman itu maka yang perlu dipersiapkan adalah diri sendiri. Aku, sudah sanggupkah aku menjadi mitra setara? Sudah percayakah aku pada kemampanku sendiri?

Kalau aku sudah mencapai tahap itu, maka akankah aku merenggut kebahagiaan perempuan lain? Karena sang lelaki bukanlah prasyarat utama, dia boleh ada tapi juga dibolehkan tidak ada. Dia bukan sesuatu yang wajib aku miliki tapi keindahan yang bisa melengkapi keindahan yang sudah kumiliki sendiri, yang sudah kuciptakan sendiri. Aku tidak merasa wajib dan terdorong untuk segera menemukan lelakiku karena aku sudah bahagia. Sudah lengkap.

Bagiku kebohongan yang dilakukan sang lelaki tidak lebih menyakitkan dibanding pertanyaan menuduh dan menusuk yang diajukan oleh saudariku sendiri. Perempuanku. Tiap kali muncul kisah atau cerita yang menyudutkan kaum perempuan dari luncuran indah bibir perempuan lain, hatiku miris..jiwaku menangis. Kenapa selalu perempuan yang menjadi sumber masalahnya? Bagi lelaki maupun perempuan itu sendiri. Mengapa kau merasa lebih baik dari perempuan lain, wahai saudariku, sementara sang lelakimulah yang berbohong dan mencoba memanfaatkan kelemahan jiwa, kerapuhan hati perempuan lain? Rengkuh saudarimu itu, Sayangku. Bukan untuk membagi lelakimu, karena bukan itu pula intinya. Tapi bantu dia melihat keindahan dalam dirinya. Keindahan yang hanya layak dibagikan dengan kesejatinya lelaki. Keperkasaannya lelaki. Bukan tubuh berotot dan kemampuan luar biasa melainkan kelembutan jiwa dan penghargaan yang tinggi pada pasangannya.

Perempuanku, kebahagiaanmu bukan berada di tangan lelaki, siapa pun dia. Kebahagiaanmu ada di tanganmu sendiri. Kau telah diciptakan begitu indah dan kuat. Kau diciptakan dengan kemampuan luar biasa. Kenapa melemah dan menggenggamkan jiwamu pada manusia lain?

Ulurkan tanganmu, Duhai Perempuanku. Aku akan bagikan kehangatan cinta dan kasih sayang yang menyala terang di jiwaku. Dengan itu kuharap kau akan bisa melihat nyala yang sama di jiwamu. Maka nyala itu akan menarik jiwa kuat dan indah yang sama. Maka pasanganmu, mitramu, kekasihmu, jodohmu akan datang. Membentangkan tangannya, mengulurkan cintanya, memancarkan penghargaannya secara tulus dan yakin.

Jika jiwamu telah menyala, jika bahagiamu telah tiba, ulurkan tanganmu lagi pada perempuan lain. Bantu dia menyalakan jiwanya agar bahagia bisa juga dia ciptakan.

Aku perempuan..dan aku bangga menjadinya..