Rabu, 04 Maret 2015

Ariana ingin lupa

Dua minggu setelah perpisahanku dengan Jonah, semua terasa gamang. Meski aku bisa lebih fokus ke pekerjaan karena tidak ada gangguan permintaan-permintaan, namun tetap hatiku terasa kosong. Aku begitu terbiasa dengan telepon Jonah, dengan sapaan sayangnya bahkan dengan kemarahannya. Aku berusaha melupakan Jonah tapi lelaki yang sudah mengisi relung hidupku selama 3 tahun itu jelas tidak mudah untuk dilupakan. Bukan karena dia begitu luar biasa tapi aku memberinya ruang yang sangat besar hingga kekosongan itu terasa dengan sangat, menyergap seluruh rasa dan menyedot semua kebahagiaan. Aku terjebak di pusaran ketakutan, kesedihan dan perasaan tak berharga. Segala daya dan upaya aku lakukan untuk melawan pusaran arus itu, kesedihan yang terus berusaha mengambil alih seluruh pikirku, berusaha aku tepiskan. Dalam benakku aku membayangkan betapa kata-kata firman TUHAN bak cahaya yang terus berusaha menghalau kegelapan yang diakibatkan oleh depresiku.

Bahkan kamar baru yang kami tempati bertiga tidak mampu mengibaskan luka dan kenangan akan kebersamaan kami berdua. Kamar besar dan bersih berukuran 5x5 ini terasa menyesakkan. Meski tidak ada kenangan akan Jonah di sudutnya, tapi kotak ini terasa membekapku. Aku tidak lagi bisa tahan berada di dalam ruangan, aku terus merasa sesak. Helaan napasku terasa berat dan penuh dengan kesedihan. Tuhan, aku tidak mau depresi itu kembali melingkupiku. Aku tidak mau aku kembali masuk ke putaran yang sama. Ke kegelapan yang sangat aku takuti.

Entah seperti sudah ada kode di kepala dan semua saluran komunikasiku, makin banyak pria Afrika yang mendekat dan menghubungiku. Dengan gigih mereka berusaha meraih hatiku, kembali dengan kata-kata yang 3 tahun lalu aku dengar dari mulut Jonah. Kata-kata yang sejalan waktu berubah menjadi hinaan, bahkan cacian. Mulut yang menyanjung kebaikanku, kecantikanku dan segala kelebihanku, yang sepengalamanku akan berubah menjadi mulut yang terus mencercaku, mengkritikku dan menyalahkanku serta menghina. Aku yang dulu, akan menikmati perhatian berlebihan itu dan memakainya untuk pengalih perhatian, pelupa dan pengebas. Tapi aku tidak bisa lagi melakukan itu, aku sudah ikut TUHAN. Aku sudah mendeklarasikan cintaku pada-NYA. Kesetiaanku dan niatku untuk mengikuti-NYA dan melepaskan apa pun yang membuatku tidak bisa berlari kencang ke arah-NYA. TUHANku merengkuhku dengan kuat, namun setan terus menarikku turun, dia kesepian di dalam lubang gelapnya, dia ingin aku ikut, menemaninya.

Malam itu aku baru kembali dari hari keduaku di kantor. Kantor baruku cukup jauh dari rumah tinggal kami saat ini. Aku harus naik angkot selama 20 menit ke belakang sebuah mall besar dan berjalan sejauh hampir 500 meter untuk naik bis ke arah Senen. Perjalanan dengan bis ini memakan waktu sekitar 30 menit. Aku turun di terminal senin dan berjalan kaki sejauh 300 meter ke tempatku bekerja. Malam itu melelahkan, aku hanya berbaring di lantai, mendengarkan kedua anakku berceloteh dan tetangga baru kami, seorang pria Afrika kesepian yang mencari keluarga untuk menemani dia. Tiba-tiba teleponku berdering

Ariana                   :               Halo?
Nena                     :               Hi Ariana, apa kabar?
Ariana                   :               Oh, Kakak, kabar baik, Kak. Ada apa nih, kok                                                    tumben nelepon Ariana?

Nena adalah perempuan yang sudah sangat lama bergaul dengan para pria Afrika. Pertemuan pertemaku dengan dia adalah saat aku harus mengurus visa bisnis Jonah untuk pertama kalinya. Pelayanan pertama Nena cukup memuaskan namun saat aku mengurus visa Jonah untuk tahun kedua, Nena membuatku dicaci maki Jonah tiap malam, akibat kesalahan yang dia lakukan. Saat pertama bertemu Nena dan berinteraksi dengannya, aku terkejut. Nena perempuan setengah baya n yang baik, jauh di dalam hatinya dia sangat baik dan peduli. Tapi seperti perempuan-perempuan lain yang aku kenal, yang sudah bersama Afrika, Nena juga sudah tidak lagi memiliki pemikiran perempuan kebanyakan. Aku bahkan tidak bisa mengidentifikasi pemikirannya. Nena bangga menyebutkan pengalaman-pengalaman seksualnya dengan lelaki. Saat ini dia dibiayai dan diberi usaha oleh seorang lelaki Afrika yang sudah menikah di negaranya. Keduanya bekerja bersama, berhubungan seks, tanpa peluang untuk menikah. Nena juga dikenal banyak memiliki lelaki Afrika selain lelaki ini, dan sang lelaki tidak peduli karena Nena bukanlah istri atau pun calon istri, hubungan mereka hanya berlandaskan kesamaan keuntungan duniawi, tidak ada sedikit pun sisi spiritual di dalamnya. Meski sudah separuh baya, Nena cukup punya banyak penggemar,  bukan karena wajahnya yang luar biasa cantik atau bentuk tubuhnya yang sangat sangat terawat. Bukan itu yang dicari para pria Afrika ini, tapi Nena sudah begitu paham seluk beluk kehidupan para pria Afrika di Jakarta ini, Nena paham pekerjaan ilegal yang mereka lakukan dan bahkan sesekali terjun ke dalamnya. Nena paham bagaimana diam saat para lelaki ini menjalankan bisnisnya, bersenang-senang saat diperlukan dan tetap menjaga penampilan kudus di depan orang banyak. Perempuan seperti Nena adalah surga, mereka tidak perlu menjelaskan dengan kebohongan tentang alasan mereka datang, menutupi dengan kebohongan tentang perempuan-perempuan lain yang menjadi korbannya, tidak perlu menjelaskan dengan panjang lebar tentang apa-apa yang mereka sukai dan inginkan. Bagi Nena, kebersamaan dengan mereka mengisi kekosongan masa tuanya yang harus dia lalui tanpa anak maupun keluarga. Mereka juga memberi Nena kehidupan yang dia inginkan. Perjalanan ke Malaysia, uang saku yang lumayan besar, HP, Tablet, peluang memiliki perusahaan dengan namanya sendiri, mobil, minuma keras dan segala yang di usia ini tidak bisa lagi dia nikmati dengan pria Indonesia. Pertemuan dengan Nena membuatku terhenyak, tidak, aku tidak bercerai untuk hidup seperti ini. Aku tidak meninggalkan biduk rumah tangga semuku untuk kehidupan semu seperti ini. Aku tidak diciptakan TUHAN untuk kehidupan seperti ini.  Itu sebabnya meski banyak dari perilaku, pemikiran dan perkataan Nena yang tidak aku sukai dan setujui, namun aku menghormati dia karena dia membuatku tersadar akan mimpi salahku. Nena adalah panutanku, bisa dibilang begitu. Bukan untuk ditiru, tapi menjadi barometer akan segala yang tidak boleh aku lakukan.

Nena                  :  Cuma kangen aja. Sudah lama Nena gak ketemu Ariana. Apa kegiatan Ariana sekarang?
Ariana                :   Puji Tuhan aku sudah bekerja, Kak.
Nena                  :   Ah luar biasa. Puji Tuhan, bagus atuh. Apa kabar Jonah?
Ariana                :  Oh, kami sudah putus, Kak, tapi kurasa Jonah baik-baik saja.
Nena                 :  Kenapa putus? Kemarin sepertinya baik-baik  saja. Jonah berulah lagi? Bagaimana sikap dia setelah kembali dari Malaysia?
Ariana               : Sikap Jonah berubah terus, Kak dan aku sudah lelah. Terakhir dia bentak dan hina aku hanya demi perempuan dia di Afrika. Bagiku itu sudah cukup. Sejak urusan KITAS, aku sudah kelelahan tapi aku bersaha bertahan, Kak tapi sekarang sudah tidak bisa lagi.  Ariana tidak bisa membiarkan Jonah terus menghina dan menginjak-injak. Ariana memang mencintai Jonah, Kak tapi Jonah perlu juga menghargai cinta Ariana.
Nena                 : Sudahlah, Ariana, kau tinggal saja si Jonah itu. Dia bukan lelaki yang baik. Aku tidak pernah berkata apa-apa tapi sebenarnya aku tahu banyak. Ariana tahu Jonah punya pacar di Malaysia?
Ariana               : Setahuku tidak, Kak. Jonah tidak pernah tinggal di Malaysia tapi kalau di Bangkok ya, ada perempuan Afrika dan perempuan Bangkok di sana yang menjadi kekasih dia selama di sana. Keduanya juga tetap Jonah kunjungi apabila dia kembali ke Bangkok untuk VISA. Tapi setahuku Jonah tidak bersama siapa pun selama di Malaysia.
Nena                 : Ah Ariana, Jonahmu itu sangat buruk kelakuannya. Saya ini sering mondar-mandir ke Malaysia. Sebenarnya basis saya itu di Malaysia hanya sesekali saja saya kembali ke Indonesia. Saya tahu perempuan itu sekarang pindah ke Malaysia. Di FB si perempuan itu ada banyak foto mereka berdua. Aku tahu tapi gak mau kasih tahu Ariana karena kau tampak sangat cinta dan Jonah baik-baik saja memperlakukan Ariana. Tapi nanti kalau kita ketemu, aku kan tunjukkan FB-nya.
Ariana                : Untuk apa, Kak? Aku tahu semua kebusukan Jonah dan aku gak merasa perlu untuk mencari bukti.  Aku sudah cukup disakiti, Kak. Dan Aku sudah memutuskan untuk pergi, tidak perlu lagi aku disakiti dengan bukti-bukti yang sudah lewat. Biarkan aku mengenang Jonah sebagai lelaki baik yang aku kenal, hatinya yang aku lihat, Kak.
Nena                  : Ariana, jangan buang waktumu. Jonah bukan lelaki baik. Kau terlalu baik dan lugu buat dia.
Ariana                : Terima kasih, Kak.

Dan aku menangis lagi. Semalaman aku sesenggukan bercerita di atas balkon gelap kamar kami. Aku bertanya pada TUHAN mengapa aku tidak bisa lepas dari belenggu kegelapan Jonah. Untuk apa mereka  menelepon dan menyampaikan semua berita ini, buat apa? Aku tidak mau tahu. TUHAN, jauh di dalam hatiku aku masih berharap dan berdoa, Jonah bisa dijamah, bisa dimenangkan, tapi aku juga tahu saat ini Jonah tidak ingin dijamah, tidak mau diubah. Jonah masih menikmati hembusan lembut hangat neraka dan belaian lembut setan. Jonah masih menjadikan dunia sebagi tuhannya. Setiap minggu dia ke gereja, memimpin doa, bersujud, berpuasa tapi Jonah gagal memahami apa yang menjadi pesan TUHAN.

Hari lain, sepulang dari kantor, aku berusaha menghubungi agen KITAS kami untuk menanyakan surat ketenaga kerjaan asli yang akan aku perlukan untuk mengurus perpanjangan KITAS Jonah. Meski kami tak lagi bersama, aku merasa Jonah tetap berhak mendapatkan kebaikan. Sayang tiga nomor perempuan itu tidak bisa dihubungi. Geramku berubah cemas, apakah perempuan ini baik-baik saja? Lalu aku beranikan diri untuk menghubungi kekasih agen kami yang juga pria Afrika.

Ariana               : Boby, how are you? I am trying to reach your woman, but all of her phone were off. Is she ok?
Boby                 : She is fine, Darling. I think her battery are off. How are you my Darling?
Ariana               : I am doing fine. Thanks, just got my self a new job.
Boby                 : Ah Darling, that is great!! I am happy for you. How is your family? And your husband?
Ariana               : Me and my boys are fine, thank you. My husband? Oh, you mean Jonah? We broke up, hehehe
Boby                 : Ah, its about time, Darling. That man is fucked up. He made to many mistakes. Every body is talking about him, Darling. They all call him a fool. He has you by his side but he keeps on playing around. You know how the footballers call you? They call you A Mugu. You are like his ATM. When they saw you, they said, you are Jonah’s mugu. And I know how nice you are to him, Darling. It hurts me so bad to hear those words. That fucking man have so many women in Jakarta. His girlfriends are all over Jakarta. Not to mention his fucking wife in Africa. Baby, leave him.
Ariana               : Boby, why are you telling me this? I told you we broke up. I don’t need to know all of these any more. It is over. Let me remember him as a nice person with a very good heart as I knew him before. I don’t want to hate him, Boby, even though I know I will never go back to him again.
Boby                 : So you still love him, right?
Ariana               : Yes, sure. He is my man for 3 years, how can I just stop loving him like that.
Boby                  : Then no need to call me. Go back to your fucking boy friend. Go and get your self kill with his dick.
Ariana                : Oh my, is ok, good bye

Dan  aku pun menangis sedih.

Aku tahu para pria Afrika ini tidak akan bisa memahami betapa aku sangat mencintai Jonah, meski begitu aku tahu, aku tidak bisa menerima dia kembali. Tidak apabila aku masih tetap berada di posisi yang sama. Aku ingin Jonah hanya jadi milikku, dan bersama kita berjuang meraih hidup. Jika masih ada perempuan-perempuan lain dalam hidupnya, lebih baik aku menyingkir dan sendiri. Aku ingin lebih dekat ke TUHAN, ingin benar-benar bisa bekerja tanpa ada rasa bersalah di dalam hatiku. Rasa bersalah atas dosa itu lah yang selama ini menjadi belengguku. Sangat sulit bagiku untuk bisa menyanyi lepas memuja TUHAN. Suaraku seolah tidak mau keluar.

Namun sejak aku deklarasikan keinginanku untuk hidup kudus, bahkan di depan Jonah dan berjuang sekuat tenaga untuk bertahan kudus, aku bisa menyanyi dengan lantang, begitu banyak suara TUHAN yang aku dengar. Rhema yang terus menggema di kepalaku.

Dalam sedihku, aku sempat berdiskusi dengan pendetaku, dan perkataannya sangat menampar wajahku.

Pendeta Joshua   : Sister, kita bukan manusia biasa. Sister sendiri yang berkata bahwa sister ingin bekerja untuk TUHAN. Bahwa Sister ingin menjadi pendeta. Saya tahu sister berkata dengan tulus dan sungguh, karena saya melihat betapa hidup sister dibersihkan TUHAN. Sister tidak bisa lagi main-main dan melihat diri dengan standar manusia. TUHAN menuntut jauh lebih tinggi pada mereka yang ingin melayani-NYA. Hubungan yang sister lakukan dengan Jonah bukanlah hubungan yang kudus dan apabila sister terus melakukannya, akan ada lebih banyak keburukan yang terjadi dalam hidup Sister. Sister harus membuat keputusan dan melangkah menjalankannya. Langkah pertama memang sangat sulit, namun sister akan melihat begitu banyak mukjizat di kala sister mengambil langlah itu.

Rhema minggu ini adalah kehidupan yang kudus dan keimanan yang teguh. Aku tahu TUHAN ingin aku benar-benar mengerjakan itu. Dalam kehidupanku yang kudus, aku tidak hanya dituntut untuk melepaskan diri dari dosa perzinahan tapi juga melepaskan diri dari dosa kebencian. Rasa marah luar biasa yang aku tanggung dalam hati, kebencianku pada perempuan di Afrika dan perempuan-perempuan lain dalam hidup Jonah, pada mereka yang selama ini tahu tapi diam saja dan membiarkanku tenggelam dalam kebodohan. Tidak, jika itu masih ada di dalam hatiku, maka kau bukanlah manusia yang hidup dalam kekudusan. Aku harus bisa memaafkan dan melepaskan.

Dan kidung Mazmur pun terus menemaniku, memberiku damai yang luar biasa di tengah tarikan depresi dan godaan bermain nakal yang terus begitu deras melingkupiku.

Aku seperti terdiam dan membiarkan tangan TUHAN menyelamatkanku.

TUHAN, aku membutuhkan-MU...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar