Selasa, 30 Juni 2015

Bodoh

Arian bergegas mendatangi kamar Jonah, cemas.. Malam sebelumnya Jonah hampir tertangkap pihak kepolisan akibat bisnisnya dan terdengar sangat lemah saat menghubungi Ariana dan memintanya untuk datang. Meski berusaha, tapi Jonah sudah begitu dalam masuk ke dalam relung hati Ariana. Sebesar apa pun sakit dan penghinaan yang Jonah berikan, keselamatannya masih menjadi kepedulian Ariana.

Terengah-engah dia mendatangi kamar lelaki yang sempat menjadi mimpinya itu..

Jonah membuka pintu dan memeluk Ariana. “Are you okay?” kata Ariana sambil memeluk tubuh Jonah yang sangat dia rindukan itu. “I am fine, Sayang, thank GOD. Thank you for warning me about the police. I did not want to take that job actually but you know how things are. I desperately need the money so I thought at least I can get small. But I know, small money always bring problems. Thank you, Sayang.”

Keduanya lalu duduk di ranjang Jonah, tempat mereka biasa menghabiskan malam, memadu kasih, saling memeluk dan menukar isyarat cinta. “What happened?” tanya Ariana dengan penuh cemas. “Well, all was going well but the client got greede, so he wanted to get all. That was why he involve the police. He does not want to get to me, he wants the money. See, this is the picture that I showed him,” kata Jonah sambil membuka HP samsung putihnya. Tampak gambar dua bocah di latar depan HP Jonah. Hati Ariana terhenyak.

Dia mengenali wajah bocah 8 tahun, anak Jonah yang pertama tapi siapa bayi itu? Siapa bayi lelaki di gambar itu? Tapi Ariana diam saja.

“Who is he?” tanyanya dengan suara datar, “Who?” tanya Jonah.

“The baby on your phone.”

“Its Wako’s brother.”

“Oh, from who?”

“My son, I told you she was pregnant when I left Africa.”

“Oh.”

Usai Jonah menunjukkan gambar pekerjaan yang semula hendak ditunjukkan, Ariana bangkit dan membereskan semua barangnya. Sambil terus tersenyum hambar ke arah Jonah.

“Where are you going?”

“Home,” jawab Ariana singkat.

“So because of that picture, you want to go? See, this is why I did not want to tell you about her pregnancy. I know you will reacted this way. I know you will be angry.”

Ariana memandang Jonah dengan heran. Tuhan, kau pikir apa aku ini, Jonah? Apakah aku bahkan begitu tidak berharga di matamu sehingga tidak kau perkenankan aku merasakan sakit? Merasakan terluka dan terhina atas pengkhianatanmu? Kau menghamili wanita lain di saat masih bersamaku. Kau menuduhku selalu berkhianat, tapi sejatinya kau sudah sejak lama merencanakan pengkhianatan itu. Hati Ariana hancur.. Selama ini, aku diam saat kau menghajarku, aku diam saat kata-kata kasarmu mulai meluncur, untuk apa? Untuk fakta bahwa sebenarnya kau lah yang tengah berkhianat? Siapa sebenarnya yang tidak pantas dihormati, aku kah? Kau kah? Wanita mu itu kah? Kepala Ariana terasa pening. Mereka berdua mulai saling melempar kata-kata makian, meski kosa kata Ariana tidak banyak tapi luka dan duka membuat Ariana berusaha mengimbangi perkataan Jonah. Keduanya berteriak, memaki, menghina, mengumpat, mengutuk..

Ariana lalu terdiam, berlutut,.. menangis

Tuhan, aku bukan perempuan ini. Aku bukan pencaci, aku bukan pengutuk.. Seumur hidupku aku menghindar dan berusaha diam agar tidak ada kutuk atau murka keluar dari mulutku. Siapa aku ini, TUHAN?

Ariana membalikkan tubuh dan meminta maaf pada Jonah. Meminta maaf atas semua kata kutuk dan caci yang sempat dia ucapkan. Memberi Jonah selamat atas kelahiran putra keduanya sambil matanya penuh dengan air mata, sambil hatinya tercekat dan terluka.. Jonah tetap meradang..

Kata-kata kasarnya terus terlontar..

Ariana terpancing..

“You know what? Pay me!! I am not going to let you get away that easy.”

“Pay you for what? You enjoy my dick too.. You should pay me too.”

“I pay you? Who is the prostitute here? You or I? You always say I am an old street woman, so you pay me. For each night that we spend for the past 3 years, pay me. Just see me as Jaksa street woman, give me that money.”

“What money? You look around, find the money.. You stupid bitch.”

“Then let me sell these phones!!” Kata Ariana sambil mengambil dua HP Jonah yang tergeletak di atas tempat tidur.

Jonah meradang..

Direnggutnya pergelangan tangan Ariana dengan tangan kirinya sambil tinju kananya terus menerus menghujam ke tangan Ariana, “Put my fucking phones down, You Bitch!!”
Ariana melepaskan HP itu dengan kesakitan. Satu tamparan juga mendarat di pipinya dan Jonah melangkah pergi..

“Don’t go, let us talk about it until all is clear.”

“I have nothing to talk about with you, Bitch!!” teriak Jonah sambil melangkah pergi.. Ariana merenggut dua HP Jonah dan memasukkannya ke dalam tas untuk mencegah Jonah pergi. Ariana tahu Jonah tidak akan pergi tanpa dua Hpnya ini. Tapi Jonah tetap melangkah pergi, membawa kunci pintu kamar yang juga pemicu listrik. Dengan dicabutnya kunci, listrik di kamar Jonah mati dan Ariana tertinggal di dalam gelap.

Ariana terdiam sedih.. Hatinya makin hancur..

Dengan lunglai Ariana keluar dari kamar, menenteng sandal tingginya, berjalan keluar dari kamar menuju ke jalan raya.. Ariana menangis sedih di sepanjang jalan. Membiarkan malam menyerap semua sedih dan lukanya.. Membiarkan malam mendengarkan keluhan hatinya.

TUHAN, ke mana kakiku harus melangkah? Apa yang harus aku lakukan? Selama ini aku sudah berusaha keras untuk bersabar, terus berpikir positif dan berharap di tengah begitu deras guncangan dan cobaan. TUHAN, mengapa KAU tempatku aku begitu rendah? Apa yang sudah aku lakukan? Apa salahku hingga KAU letakkan aku begitu rendah? Kenapa KAU biarkan dua makhluk ini mempermainkanku? Kenapa KAU biarkan mereka menghinaku? Kenapa KAU tempatkan aku di posisi ini? Aku bukan perempuan mandul, TUHAN. Aku punya dua putra sebagai saksiku, kenapa tak KAU biarkan aku hamil dan menjalani hidupku dengannya? Kenapa tak KAU biarkan aku menjadi miliknya seorang? Oh TUHAN.. TUHAN..

Ariana terus berjalan, melangkah, tanpa alas kaki, membiarkan jalanan menyentuh kulitnya.. merobek kulitnya.. Ariana membiarkan sakit di kaki itu menggantikan sakit di hatinya.. Ariana ingin melihat darah.. Ingin melihat wujud luka di hatinya. Dia berjalan terus tertatih dan menerjang malam.. Ariana tahu dia tidak bisa pulang, dia hanya bisa berjalan menuju TUHAN.. menuju Pendetanya.. menuju pulang..

Tiba-tiba Hpnya berdering..

“Sayang, where are you? I am home. I did not go far, I only went down to buy water. Where are you? Please come back..Please.” Rengek Jonah di telepon.

Ariana tercekat, “You don’t need to ask me to come back, your phones are not with me. Search your room. I did not bring your phones with me.” Ariana berbohong. Tapi Ariana tidak mau kembali dan membiarkan dirinya dimanfaatkan lagi.

“Sayang, this is not about the phone.. Please come back. Where are you? Let me come for you..”

Bodohnya, tololnya Ariana percaya.. Ariana luluh.. Dia menaiki taksi dan bergerak kembali ke kamar Jonah.

Sesampainya di kamar, Jonah terkejut melihat kaki Ariana yang sangat kotor. “What are you doing? You walked?” tanyanya heran. “Yes, I need to clear my mind. You know I always walk when I am confused.” Kata Ariana sambil bergerak ke kamar mandi untuk mencuci kakinya.

“Go and take shower,” kata Jonah seperti biasa.. Ariana memandangnya dengan heran dan entah kenapa kali ini dia menolak mematuhi perintah Jonah. “No. I will do that later.”

Lalu Ariana duduk di ujung ranjang sementara Jonah berbaring sambil memandangi Ariana dengan tatapan mata yang aneh.. menusuk dan mengerikan..

“Give me my phone!” katanya segera.

Ariana langsung bangkit dari duduknya sambil terus mengapit tas “I knew its all about the phones, I told you its not with me. Why did you call me back?”

Jonah meradang..

Dia bangkit dari tidurnya, merenggut tas Ariana dan menumpahkan semua isinya keluar. Keduanya terlibat tarik menarik tas hingga tali tas kulit itu pun putus. Ariana berteriak meminta Jonah melepaskan pegangannya. Jonah makin marah..

Saat barangnya berserakan di lantai kamar Jonah, Ariana membuka pintu, Jonah manarik gaun batik Ariana, menariknya masuk.. reflek Ariana membuang beberapa barangnye keluar sambil berteriak minta tolong..

Dengan kuat Jonah menarik Ariana, menghempaskannya ke ranjang sambil menendang pintu agar tertutup.. Ariana yang terbaring terlentang didudukinya, tangannya mencekik leher Ariana sambil berteriak meminta telponnya diberikan.

Ariana berteriak marah dan meminta tolong.
Jonah mengarahkan kepalannya ke wajah Ariana.. Ariana menutupi wajahnya dengan lengan, akibatnya lengan itu menjadi sasaran amukan Jonah. Ariana berusaha sekuat tenaga mendorong Jonah. Terlepas..

Ariana bergegas mencoba lari.. Jonah menangkapnya kembali..

Dihempaskannya lagi Ariana ke atas ranjang.. Ditamparnya wajah Ariana dua kali, dijejakkannya kakinya ke tubuh Ariana sambil terus berteriak-teriak meminta Ariana menyerahkan kedua Hpnya. Ariana terus berteriak meminta tolong..  Ariana tahu, dia harus lari.. tidak ada seorang pun yang bisa mendengar teriakannya jika dia ada di dalam kamar ini. Pemilik kos tidak akan peduli, dia tahu karena sebelumnya ada perempuan yang dihajar kekasih Afrikanya di kamar sebelah. Saat Ariana melapor, mereka mengaku tidak punya hak untuk bertindak.. Oh..

Akhirnya kesempatan itu datang..

Ariana menendang Jonah dan membuatnya mundur ke belakang.. memberi Ariana sedikit ruang untuk berlari keluar.. dan dia berlari, tanpa HP yang sudah direnggut Jonah, tanpa dompet yang juga sudah direnggut Jonah.. tanpa sandal tingginya.. Ariana berlari.. kembali menembus gelapnya malam.. Menghentikan taksi yang lewat di depan gedung kos Jonah,  hanya satu tempat yang terpikir.. rumah.. rumah TUHAN.. menuju ke Pendetanya..

Ariana tiba di depan rumah Pendeta, membuka pintu dan berkata, “Please help me pay the taxi, he tried to kill me over phones. I ran away.. Please help me.”


Dan dunianya gelap... Ariana terjatuh diam..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar