Minggu, 02 Oktober 2011

Aku adalah cinta

Di ujung nmalam yang hangat aku mengirimkan pesan ke seorang kawan yang sudah lama tidak bersua namun selalu ada di jiwaku. Kebetulan aku akan singgah ke kotanya dan timbul inginku untuk bersua. Kawanku kemudian memberiku kabar yang mengejutkan, dia akan menjalin hidup dengan seseorang yang dia temui di jejaring internet, minggu depan. Wow!!

Lalu dia bertanya, apa yang kulakukan saat ini dan kujawab bahwa saat ini aku lebih memforkuskan diri pada karier dan kehidupanku. Menyisakan sedikit sekali ruang untuk kisah cinta, apa pun itu bentuknya. Dan cantikku itu berkata bahwa karier dan kehidupan itu tidak menjamin kebahagiaan. Bahwa dia sudah menerima fakta akan kebutuhannya pada kepemilikan seseorang. Aku membutuhkan memiliki dan dimiliki, Mbak, begitu ujarnya.

Temanku ini mengalami pernikahan yang buruk dan sejak menyadari kebutuhannya untuk keluar dari pernikahan itu, dia sudah berusaha keras mencari dan mencari pengganti sang suami yang bisa "tampak" lebih baik. Dicarinya sosok yang lebih muda, lebih kaya, lebih sayang. Dan dari pencarian demi pencarian itu, Cantikku ini terus berusaha, satu tangisan berganti dengan harapan yang lain.


Lalu apa sebenarnya yang harus dilakukan? Belahan jiwaku (yang tidak berarti kekasihku) mengatakan, bahwa ada orang yang memang membutuhkan kehadiran "seseorang" dalam hidupnya tapi ada juga yang telah merasa nyaman dalam kesendiriannya. Dan pada kehadiran, tidak berarti kita mencari dan mencari tapi membiarkan diri kita dicari. Membiarkan cinta itu datang. Hmmm.. agak bingung awalnya tapi kemudian agak terkuak..


Konsep ini terasa nyaman di kepalaku, dengan pemahamanku tentang bahagia. Bahwa bahagia berada sebesar-besarnya pada tangan kita sendiri. Dan menyerahkannya pada manusia lain hanya akan membawa duka dan nestapa. Dengan membiarkan orang mencarimu dan membutuhkanmu, berarti fokusmu bukan pada sosok di luarmu. Tapi terus menggali dan memfokuskan diri pada dirimu, pada kebahagiaanmu. Bukan menjadi egois tapi menjadi memahami, menjadi dewasa. Fokus pada bahagia.. 

Aku tahu.. sejak dulu kita diajarkan bahwa fokus pada diri sendiri adalah egois. Dan keegoisan akan berujung pada kesepian. Pemahaman itu membuat kita sibuk untuk terus mencoba membahagiakan orang lain, melupakan diri kita dan bahkan pada akhirnya mengorbankannya. Pada titik itu yang datang hanyalah mereka yang akan terus dan terus memanfaatkanmu. Menindasmu dengan dalih kebutuhan, cinta dan kasih sayang. Sudah lama aku meninggalkan pemahaman bahwa cinta itu berkorban. Bagiku, cinta bukan berkorban tapi memberi. Beri apa yang bisa diberi lalu kembali menjadi bahagia (menjadi dirimu sendiri).. Bila sudah terpancar cintamu pada diri sendiri, sudah terpancar pemahamanmu akan apa yang benar-benar penting dalam hidupmu.. Maka akan hadir sosok yang mencintai dirinya sendiri dan kemudian memahami makna memberi tanpa menuntut perubahan. Maka tidak akan ada yang bisa menggemingkan hatimu dengan luka dan air mata. Karena meski pun dia menjadi bagian hidupmu, ada dalam keseharianmu.. Dia tetap bukan penggenggam bahagiamu.

Sebagian teman mengambil jalan singkat dengan membagikan cinta dan perasaannya pada beberapa orang. Menemukan kehangatan dan kebahagiaan serta kenyamanan di pelukan madunya. Banyak di antara mereka tampak bahagia dalam pernikahannya. Bagiku itu juga bukan jawaban. Saat kau masih membagikan cinta, maka sebenarnya kau belum menemukan esensi dari sebuah cinta namun hanya berlari, berputar dan menghindar. Kau belum menemukan kesejatian dirimu, cinta yang berharga. Ya, kau adalah cinta..

Bahagia adalah kondisi bukan tujuan. Tidak ada fakta bahagia selamanya seperti di dongeng, hanya ada bahagia saat ini untuk sedih di esok hari. Kuncinya adalah menempatkan cinta itu pada porsinya. Tidak menjadikannya begitu penting bahka melebihi kepentingannya sendiri. Tidak menjadikannya satu-satunya faktor pembahagiamu, melainkan hanya bagian dari proses hidupmu. Faktornya hanya dirimu. Bahagialah dengan dirimu.. Bahagialah dengan keadaanmu.. Bahagialah dengan hidupmu..

Aku pernah di sudut itu. Mengira menyadari bahwa aku membutuhkan sosok seseorang, menjadi milik dan memiliki. Dan dari sana aku memulai perjalanan pencarian yang terus berakhir dengan air mata. Sampai akhirnya memutuskan untuk lebih fokus pada kehidupan indah yang sudah Allah berikan selama ini. Pada karier, anak, keluarga dan teman-teman. Apakah aku menyerah? Cinta itu masih terus singgah di hatiku. Godaan untuk memiliki dongeng itu masih kuat melekat dan aku masih terus tertatih dalam usahaku memahami bagaimana sebenarnya kau mencintai. Aku masih terus mencari dan melihat, membongkar dan mendobrak. Aku adalah cinta.. Aku adalah berharga.. Aku dobrak semua penghalang yang membuatku tak bisa merasakan cinta.. Cinta sejati yang tak pernah pudar.. Cinta Allah padaku di dunia ini.. Dan perlahan aku melihatnya, pada kedua anakku, pada kedua adikku, pada kalian sahabatku dan pada kehidupanku..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar