Sabtu, 22 Oktober 2011

Bertahan demi kalian, Anak-anakku..

Setiap berbicara tentang pilihan untuk berpisah, perbincangan selalu mengarah ke anak-anak. Bahwa di tengah porak porandanya hati, terbelahnya jiwa, teralihnya rasa, sangatlah tidak tepat untuk mengambil pilihan berpisah. Terasa egois katanya.. 

Aku jadi ingin terbang dan berandai menjadi anak.. Apa sebenarnya yang lebih nyaman bagiku, berada di lingkungan yang bagaimana? Ada di setting yang mana?

Sosok indah yang baru tiba dalam hidupku berkata, bahwa hal terpenting dalam hidup ini adalah membuat dirimu bahagia, hanya setelah kau bahagia maka kau bisa menularkan kebahagiaan itu pada mereka di sekelilingnmu... Pernyataan menarik yang masuk dalam logikaku kini..

Lalu pikiranku melayang ke masa aku kecil.. Saat kedua orangtuaku mengambil pilihan normatif yang sama. Bertahan demi kami, anak-anak mereka, buah cinta mereka, kehidupan mereka.. Dan bagaimana aku sebagai anak, bagaimana aku berpikir, apa yag kurasakan di saat itu?

Sebagai putri kesayangan ayah, kemanjaan nenek dan kakek dan tumpuan kehidupan semua pihak, aku kebingungan. Aku yang sejak awal tidak diajarkan untuk merasa nyaman dengan kebohongan, dengan kemunafikan, begitu tersiksa melihat kedua orang yang paling dekat dengan hatiku, paling dekat dengan anganku memilih untuk menjadi dua makhluk tersiksa dalam panggung sandiwara tanpa penonton itu..

Semula aku tak paham saat pelantun berlagu "hidup adalah panggung sandiwara".. bagiku hidupku bukanlah sandiwara, dia adalah manifestasi dari perasaan, pikiran dan ide-ideku. Dia adalah wujud dari kesadaran dan kebanggaanku sebagai manusia, sebagai perempuan.

Tapi melihat mereka.. Bertahan di satu atap, bertahan di situasi menyakitkan, situasi memalukan, situasi memilukan.. untuk apa? Untuk kami? Apa yang kalian pikir kami, anak-anak pikir dan rasakan, saat melihat, merasa dan meraba luka di wajah ibu, lelah di paras ayah, luka di suara dan lantun keduanya? Apa yang menurut kalian kami rasakan, pikir dan bayangkan, saat melihat kedua orangtuanya menyunggingkan senyum palsu di depan orang asing, melantunkan kata cinta masa lalu, mendengungkan kekaguman masa dulu yang semua itu langsung pudar begitu keduanya menginjakkan kaki di rumah?

Ataukah kalian lebih mampu menyembunyikan perasaan kalian di depan kami anak-anak dibanding orangtuaku dulu? Ataukah kalian begitu yakin, kami anak-anak tidak bisa merasakan? Dari mana? Dari tatapan "bahagia" kami? Dari teriakan kanak-kanak kami? Kami memang anak-anak tapi tidak berarti kami tubuh kecil yang kosong.. Yakinkah kau bahwa kami tidak tahu? Yakinkah kau adalah tawa bahagia yang kami suarkan? Yakinkah kau adalah tatapan mata bahagia yang kami sorotkan? Ataukah hanya cara kami bertahan? Ataukah hanya cara kami memanifestasikan pemahaman kami akan hubungan kalian? Bahwa kami "tidak peduli"? Bahwa kami menafikkan luka dan duka yang berselimutm menafikkan kebingungan yang bergejolak?

Sampai usiaku menginjak remaja akhir, aku tetap bingung dan kebingungan itu membuatku kehilangan panduan dan arahan tentang apa sebenarnya sebuah "hubungan". Apa yang menjadikan sesuatu itu pantas dipertahankan? Mengapa aku perlu menjadi bagian dari sebuah hubungan? Dan sampai kini aku masih terus berlari dan mencari..

Lihat kembali anak-anak kalian, Sahabatku.. Bercerminlah di bening mata mereka.. Kejujuran kaliankah yang tampak atau ketidakpedulian mereka pada kebohongan kalian.. terutama pada hati nurani kalian..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar