Jumat, 09 Januari 2015

Debar Tahunan

Hari ini aku gelisah luar biasa. Hal biasa kalau bulan sudah masuk ke Oktober. Bukan, bukan karena sebentar lagi Natal, bukan karena sebentar lagi Tahun Baru atau karena ulang tahun kebersamaan kami, tapi karena sebentar lagi VISA bisnis Jonah akan habis masa berlakunya dan sekali lagi, seperti tahun-tahun yang lalu, aku harus berurusan dengan para Agen pengurus Visa ini.  Dan sungguh, bulan-bulan ini adalah bulan yang membuat jantung habis berdenyut kencang dan air mata terkuras habis.

Tahun pertama aku berkenalan dengan tata cara pengurusan visa bawah tangan adalah saat Jonah terpaksa harus menyerahkan urusan ini padaku. Saat itu Agen yang dia gunakan untuk mengurus VISA gagal memberikan Telex dari Imigrasi dan membuatnya terdampar di Bangkok selama 2 minggu. Tak ada pilihan lain, Jonah memintaku untuk melakukan sesuatu agar dia bisa kembali masuk ke Indonesia. Aku bingung.. Selama ini aku selalu hidup dengan aturan yang ketat, aku tidak suka melanggar aturan apa pun. Aku tergolong kaku untuk urusan satu ini tapi kini kekasihku memintaku untuk melihat apa yang bisa aku lakukan. Sampai hari itu aku bahkan tidak tahu, izin tinggal apa yang  mereka gunakan, bagaimana mengurusnya, siapa yang mengurusnya.. Aku sama sekali buta. Tapi jelas aku tidak mau Jonah terlantar di Bangkok, aku tidak mau dia tidak bisa masuk ke negara ini, aku tidak mau kehilangan pria yang saat ini menjadi sangat penting dalam hidupku. Dia kekasihku, rajaku, pelindungku.

Secara natural aku mencoba mencari tahu apa yang bisa kau lakukan sesuai aturan yang berlaku di negaraku ini. Sebagai perempuan berpendidikan dan berpengalaman kerja cukup panjang, bukan hal sulit bagiku untuk mencari koneksi di Imigrasi dan menanyakan secara gamblang apa yang bisa aku lakukan untuk mengundang calon suamiku ini ke Indonesia dan jawabannya sangat mengecewakan. Aku diminta untuk berpikir ulang tentang hubungan kami. Dan apabila aku melanjutkan keputusanku untuk mengundang lelaki ini ke Indonesia, pihak Imigrasi akan benar-benar mempersulit prosesnya. Proses normal akan membutuhkan waktu 3 bulan dan izin tinggal hanya bisa diberikan untuk 1 bulan. Tuhan..

Akhirnya aku menghubungi salah satu kawan Afrikaku di gereja, aku tahu mereka pasti menggunakan jalur yang sama dengan kekasihku untuk mengurus izin tinggal mereka. Aku sampaikan aku membutuhkan bimbingan, aku minta dipertemukan dengan agen pengurus izin tinggal mereka di Indonesia. Aku ingin tahu bagaimana prosedurnya dan berapa biayanya. Ya, aku perempuan yang terbiasa berpikir dengan cara memahami masalah, menganalisa peluang lalu membuat rencana tindakan. Aku tidak biasa terjun tanpa memahami apa yang terjadi, dan bergantung sepenuhnya pada perlindungan lelaki.

Seorang teman Afrika dari negara yang berbeda dengan kekasihku membawaku ke seorang Agen yang juga berasa dari Afrika. Lelaki ini sudah bertahun-tahun berada di Indonesia dan bahkan sudah memegang paspor Indonesia. Dia sudah sangat dikenal di kalangan kaum Afrika di Indonesia dan bahkan di luar negri. Posisinya sebagai sesama Afrika memberinya keuntungan, karena mereka yakin sesama Afrika tidak akan merugikan atau mencelakakan saudaranya. Sebuah persepsi yang sangat amat keliru..

Singkat cerita, aku dibawa ke kantor Darameh yang berada di sudut wilayah yang dikenal sebagai wilayah kulit hitam di Jakarta. Di kantor berbentuk Ruko 2 lantai tersebut, Darameh menempati ruangan 4X6 di lantai bawah. Ruangan itu dia sekat dengan kubik kaca untuk membedakan antara ruangannya dan ruangan umum untuk tamu dan pegawai lainnya. Di kantor tersebut, Darameh menggantung baju-baju agar di mata orang luar dia tampak sebagai pengusaha legal yang berdagang pakaian, seperti stereotipe kulit hitam di Jakarta. Kalau bukan berdagang baju ya pemain bola hehehehe.. Pegawainya sebenarnya hanya satu perempuan muda yang sudah bertahun-tahun menjadi sekretaris pribadinya. Perempuan ini mengurus segala sesuatu di kantor Darameh. Dia yang setiap hari akan selalu ada sementara bosnya berkeliling mengurus segala urusan bisnis kantor kecil ini. Perempuan ini berjilbab, tampak sudah berusia 25 tahunan, pendek dan agak berisi. Dia tampak riang dengan bahasa Inggris yang dicampur bahasa Indonesia, dia menyapa orang-orang kulit hitam yang datang silih berganti ke kantor kecil itu. Para lelaki Afrika ini memang sangat suka berkelompok, entah karena mereka berada di tanah rantau ataukah sudah  merupakan kebudayaan asli mereka. Tapi satu saudara yang memiliki kantor, maka dia akan menjadi tempat berkumpul para lelaki Afrika lainnya. Kebanyakan mereka berkelompok menurut negara asal. Pernah seorang lelaki dari Sierra Leon bercerita padaku tentang pengalamannya pertama kali menginjakkan kaki ke Jakarta. Dia mendarat di Jakarta pukul 9 malam, tanpa tujuan, dengan uang hanya 40 dolar di saku dan tanpa siapa pun yang dia kenal di negara asing ini. Tapi itu  bukan hal baru bagi para pengelana ini. Bagi mereka, perjalanan ke negara lain adalah perjalanan Iman. Dia hanya berdoa, membiarkan TUHAN memilihkan tujuan langkahnya kemudian terbang dengan keyakinan bahwa TUHAN akan mengurus mereka di tempat tujuan.

Lelaki ini meminta supir taksi mengantarkannya ke tempat berkumpul orang Afrika di Jakarta. Dia tahu, langkah pertama adalah mencari saudara senegara, dia akan membantunya memulai hidup di negara asing ini. Supir taksi mengantarkannya ke daerah tempat Darameh berada, karena malam sudah larut, wilayah itu pun mulai sepi, beruntung seorang pria dari negara lain melihatnya berdiri di tepi jalan dengan koper di tangan. Dia dibawa ke kantor Darameh dan diizinkan untuk tinggal bersama salah satu lelaki di rumah kost-nya dengan catatan dia harus datang setiap hari ke kantor Darameh dan membantu membersihkan ruangan. Chris (Sebut saja begitu) tahu, ini konsekuensi dari hidup dengan saudara yang bukan senegara, posisi dia memang harus merendah. Sudah beruntung dia bisa ditampung di sana.

Kantor Darameh selalu dipenuhi oleh para lelaki Afrika dari bangsanya, sang istri, yang juga perempuan Afrika, dengan setia datang di jam makan siang dan makan malam, membawakan makanan untuk semua pria yang ada di kantor. Negara ini biasanya memiliki istri yang sangat patuh dan buta huruf. Mereka hidup berkelompok di satu wilayah dan cukup tertutup. Meski pemampilan mereka sangat mencolok dibanding sekitarnya, tapi jarang sekali kita bisa melihat mereka di tempat umum. Biasanya para pria menyediakan semua kebutuhan wanita agar kaum wanita ini tidak perlu keluar dari rumah mereka. Tugas mereka hanya mengurus rumah dan anak, selanjutnya adalah bagian dari lelaki. Sebuah pembagian peran yang sangat tradisional dan berjalan dengan lancar di tengah hiruk pikuk modernisasi di Jakarta. Para lelaki di kantor ini akan saling tanggung menanggung  biaya makan, sedangkan mereka yang saat itu sedang tidak memiliki uang boleh menikmati makanan secara gratis. Hidup seperti ini yang membuat mereka bisa bertahan hidup di mana pun. Segalanya dibagi bersama, baju, properti seperti TV, HP dan bahkan kadang perempuan.

Teman Afrika-ku memperkenalkanku kepada Darameh, seorang pria kecil kurus berwajah alim. Darameh memiliki reputasi yang baik di kalangan teman sebangsanya, kebetulan aku punya beberapa sahabat dari bangsa ini dan mereka semua merekomendasikan pria ini. Dia berpenampilan sederhana, tidak seperti Jonah yang selalu tampak perlente. Tidak ada aroma harum yang menguar dari tubuhnya, hanya bau jalanan akibat perjalanan dengan ojeknya tadi. Berbicara dengan Darameh tidak terkesan cerdas atau pun perlente, dia menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang sesekali ditingkahi dengan bahasa Indonesia jalanan. Bahasa yang kurang suka aku gunakan.

Aku duduk di depan Darameh, dibatasi meja kerja besar di dalam ruang kantor Direkturnya. Teman Afrika-ku duduk di sampingku dan sibuk menjelaskan mengapa dia membawaku kemari. Darameh memandangiku dengan penuh selidik, sambil tersenyum penuh arti (yang sampai detik ini, 2 tahun kemudian, aku masih tidak tahu apa makna senyumnya). Aku tahu bagaimana orang Afrika memandang perempuan Indonesia, aku tahu stigma apa yang mereka miliki pada kami, aku tahu pentingnya tampil menawan dan melepaskan diri dari stigma buruk tersebut. Karena itu aku sengaja menggunakan baju kerja yang rapi dan duduk dengan sangat sopan, mata memandang lurus ke mata Darameh (sesuatu yang bagi  mereka tidak biasa, karena perempuan tidak boleh memandang mata lelaki saat dia berbicara). Mike (teman Afrika-ku ini) memperkenalkanku sebagai temannya di gereja, dan aku membutuhkan bantuan Darameh untuk mengurus surat tinggal suamiku yang berkebangsaan N. Dia menyebutku ibu yang baik dan belum pernah mengurus hal ini sebelumnya. Aku hanya duduk tegak dan mengangguk dengan anggun atau setidaknya kurasa anggun.

Darameh berkata bahwa memang ada orang dari negara kekasihku yang datang mengurus surat padanya, tapi karena telex visa belum juga keluar di saat yang dijanjikan, Darameh mengembalikan uang lelaki itu dengan janji akan dibayarkan kembali saat telex keluar. Darameh menunjukkan selembar kertas permohonan Visa dengan nama Jonah di atasnya, dalam hati aku terkejut. Tapi sebagai perempuan dari pria Afrika yang bergelut di bisnis ini, aku sudah terbiasa menyembunyikan fakta bahwa aku mengenal kekasihku. Sering kali akan lebih aman bagiku untuk berpura-pura tidak mengenal, sehingga resiko hukumku berkurang.

Darameh lalu berbicara seolah sudah tahu bahwa aku datang untuk lelaki ini 
dan menjelaskan panjang lebar bagaimana kekasihku menjadi panik dan sangat marah.. Hmmm itu memang kekasihku, aku sangat mengenal temperamen panas dan mudah paniknya. Bagi dia dunia ini cepat sekali runtuh, segala masalah sering kali dipandang sebagai pertanda dari TUHAN yang menunjukkan bahwa dia tidak seharusnya berada di situasi itu. Baginya jalan TUHAN haruslah mudah dan mulus. Setiap masalah yang timbul, itu bisa menjadi tanda bahwa TUHAN tidak menginginkan dia berada di sini. Hmm terlalu sederhana.. sebenarnya TUHAN menempatkan masalah di jalan kita agar kita bisa lebih menghargai jalan tersebut saat kita ada di ujungnya. Karena pertanda dari-NYA bukanlah kemudahan, tapi kelegaan hati, kedekatan kita pada-NYA dan kedamaian yang kita rasakan. Meski jalan itu terasa mudah dan lapang, namun apa bila itu membuat kita lupa akan kekuatan dan peran-NYA, maka itu bukanlah jalan TUHAN.

Selama empat hari kemudian, aku duduk di ruangan itu selama 2-3 jam, mendengarkan Darameh yang terus memberiku alasan demi alasan tentang kenapa sampai hari itu telex untuk kekasihku belum juga muncul. Dan aku harus duduk diam, menekan marah dan perasaan tidak nyaman karena harus berada di tengah sekitar 10 pria Afrika tanpa kekasihku di sana. Sementara di Bangkok Jonah terus mabuk dan tiap malam melontarkan hinaan dan cacian karena ketidakmampuanku mengurus hal ini.

Darameh menyebutkan bahwa perusahaannya telah mengirimkan surat permohonan sponsor Visa bisnis ke pihak Imigrasi dan saat ini “bos” (demikian dia menyebut kontaknya di imigrasi) sedang mengurusnya. Sang “bos” perlu menandatangani surat persetujuan permohonan sponsor sebelum kemudian imigrasi mengirimkan surat pendaftaran visa ke kedutaan Indonesia di negara yang hendak dituju oleh penerima sponsor. Bisa Thailand, Malaysia, Singapura atau mana pun di Asia. Setelah itu pihak kedutaan akan mengirimkan surat rekomendasi ke Kehakiman yang kemudian mengirimkan persetujuan atas permohonan tersebut. Maka Imigrasi akan mengirimkan telex ke kedutaan dan si penerima sponsor diminta datang ke kedutaan Indonesia di negara tersebut dan menukarkannya dengan visa di paspor mereka. Untuk itu mereka harus membayar 100 USD. Menurut Darameh, saat ini aplikasi kekasihku sudah ada di meja si “Bos” dan menurut pembicaraan terakhirnya dengan si “Bos”, surat Jonah akan keluar besok. Dan kisah yang sama akan dia sampaikan keesokan harinya dan keesokan harinya.

Di hari kedua pertemuan kami, aku bertanya kemungkinan apa yang bisa terjadi, bagaimana aku bisa mengatasinya. Aku sampaikan bahwa aku bukan tidak percaya, tapi aku suka menyiapkan rencan-rencana pendukung untuk berjaga apabila rencana awal kami gagal. Aku tidak suka kejutan, aku suka apabila aku sudah memperkirakan lebih awal. Risk assesment kalau bahasa kerennya, dari sana baru aku melakukan risk mitigation.. hehehehe Untuk pertanyaanku itu, Darameh berkata aku tidak perlu cemas, karena dia juga tidak ingin surat ini gagal (belakangan aku tahu semua agen akan mengatakan hal yang sama meski kenyataannya jauh berbeda).

Darameh             : Don’t worry my Sister. Your husband will get his Telex. I also don’t want to spoil my name. I have done this for more than 10 years and I have a good reputation. That was why I told your husband to keep his money until I can give him his letter.

Me                       : I am sorry Sir, but what should we do if the letter did not come out? I need to know what steps we need to take. We don’t have money right now, and I don’t want to make him trapped into any bad situation. This is very important for us.

Darameh             : I will give him 1 month entry because once they deny my application, he have to apply using different sponsor.

Me                       : No, Sir, I don’t think one month is enough. You see, we need to start the process again, and as you said, it will take us another month. And we also need to find money, for him to fly to Bangkok the second time. I think at least he needs 2 months.

Darameh             : It will not happen, but yes, I will give you 2 months.

Me                       : Wow, thank you. Excuse me, Sir, may I know how much I should pay for the letter? Again we are not rich so we need to prepare for every thing.

Darameh             : Oh Sister, I will give you the letter for free. It is a compliment because I have let my client down and I have failed to do my job.

Me                       : Wow, thank you.

Dengan janji itu, aku merasa tenang. Setidaknya aku tahu Jonah akan tetap bisa masuk dan masih punya cukup waktu untuk mengurus visa lagi.
Hari ke hari aku lewati dengan duduk di kantornya, mendengarkan kisah-kisahnya. Aku diam menyimak dan tersenyum sopan, meski hati terasa lelah dan capek. Tuhan, aku hanya ingin kekasihku bisa masuk kembali ke Indonesia dengan selamat. Aku hanya ingin dia segera kembali, karena di sana aku tahu, dia akan sibuk “hang out” dengan teman-teman lamanya dan mabuk sampai pagi. Izinkan dia pulang, Tuhan, jangan biarkan dia kembali ke kebiasaan lamanya.

Hari keempat akhirnya Darameh mengirimkan email langsung ke kekasihku di Bangkok dan betapa terkejutnya kami saat melihat bahwa telex undangan tersebut hanya untuk 1 bulan tinggal. Kekasihku sangat marah dan kebingungan. Tapi dia memutuskan untuk tetap datang karena tidak ada yang bisa dia lakukan di Bangkok. Biaya hidup di Bangkok juga jauh lebih mahal dibanding di Jakarta. Sebenarnya ya lebih karena di sana dia hanya bersenang-senang, mabuk tiap malam dan bercengkrama dengan kekasih lamanya. Ya, Jonah pernah 2 tahun tinggal di Bangkok, tentu dia punya mantan pacar atau bahkan mungkin perempuan yang diam-diam masih dia pacari di belakangku.

Aku sebaliknya, merasa sangat marah dan dipermainkan. Aku mencoba menghubungi Darameh lewat nomor telepon yang dia berikan padaku, tapi tidak pernah dia angkat. Semua pesan singkat yang aku kirimkan tidak pernah dia balas. Padahal, aku sebagai perempuan jawa tidak akan pernah bisa mengirimkan atau mengatakan pesan-pesan marah dan kasar, dengan sopan aku meminta penjelasan mengapa surat yang keluar tidak seperti yang dijanjikan. Bahkan apabila surat permohonan setahun visa Jonah ditolak, Darameh berjanji akan memberikan surat masuk untuk 2 bulan dan bukan 1 bulan. Akhirnya aku meminta tolong Mike untuk menghubungi Darameh dan bertanya mengapa. Tidak mungkin bagiku untuk datang ke kantor Darameh lagi. Jonah sudah mendengar bahwa aku mendatangi Darameh, dan memintaku untuk tidak datang ke sana lagi.

Mike kemudian menghubungiku, dia berkata bahwa menurut Darameh, dia tidak bisa memberikan kekasihku sponsor untuk 1 tahun karena kekasihku tidak pernah melunasi biaya yang disepakati. Oh ya, biaya untuk pengurusan Visa tahunan ini mencapai  1,300 USD. Angka yang tidak sedikit. Mengapa begitu mahal? Karena negara asal kekasihku termasuk salah satu daftar negara yang ada di dalam daftar hitam, sehingga persetujuan masuknya perlu diberikan oleh 10 lembaga utama di Indonesia, termasuk Intelijen.

Me                       : What? But you were there with me when he told us how he returned my boyfriend’s money as a token of good intention? How come he said that my boyfriend never paid the fee?

Mike                    : I don’t know. I am also confuse. I also remember about that. I said that to him but he became more angry.

Me                       : Please tell him my message ya.. I know he hold an Indonesian passport, but I am still the citizen. He can not tell me that my husband is a liar. If you guys come from Africa and have a hot temper, I also come from Surabaya. If you asked any body in Jakarta, they will tell you Surabaya people are very hot temper. They would rather kill and die then to be called a liar or a thief. I am a lady but I am still a Surabay lady. I will not stand still if ever you told people that my husband is a liar. Even though he lied, you cannot tell me that. I will come and kill you with my own hands.

Mike                    : Please be patience, Baby. Stay calm, we will find a way.

Aku merasa sangat marah. Aku tidak pernah berhadapan dengan situasi seperti ini, di mana aku sudah membayar jasa tapi tetap diperlakukan seolah aku mengemis belas kasihan. Memang benar, kami bergantung padanya untuk mendapatkan izin tinggal, well bisa dibilang hidup kami bergantung padanya, tapi itu tidak memberinya hak untuk bersikap bak dewa yang menentukan hidup mati seseorang.  Dan semua berujung pada uang. Hanya uang yang berbicara dan bermakna di lingkungan ini. Ya, semua di lingkungan ini, baik itu dari Afrika maupun dari Indonesia, sedih..

Aplikasi berikutnya aku menolak untuk berhubungan dengan orang Afrika dan memilih untuk berurusan dengan orang dari bangsaku sendiri. Jonah mengamini dan membiarkanku melakukan tugas ini sesuai caraku. Aku meminta sang Agen membuat surat perjanjian dan menolak membayar sekaligus dimuka, meski ini bukan urusan legal namun aku memperlakukannya seperti urusan legalku lainnya. Lengkap dengan kwitansi, surat penjanjian bermaterei dan alamat kantor yang jelas. Kali ini aku selalu berusaha dekat dengan si Agen untuk memastikan bahwa dia melakukan segalanya sesuai dengan apa yang mereka jelaskan.

Tahun ke tahun aku berurusan dengan agen yang berbeda, tapi mereka punya satu sikap yang sama. Sikap yang menunjukkan bahwa kami sangat membutuhkan mereka, meski tahu bagi pria Afrika dan keluarganya di Indonesia ini adalah masalah hidup dan mati tapi bagi mereka ini hanya bisnis. Bahkan pandangan ini pun tidak bisa diaplikasikan ke cara mereka berkerja. Tidak satu pun dari para agen yang kutemui yang bisa menjelaskan dengan baik urutan kerja mereka, tidak bisa memberikanku timeline yang  jelas meski kebanyakan dari mereka sudah menjalankan usaha ini selama lebih dari 7 tahun. Setiap mendekati akhir tenggat, mereka selalu menyanyikan lagu yang sama, “Kalau tahu kau akan serewel ini, aku tidak akan menerima pekerjaan ini darimu.” Oh my, lalu apa yang seharusnya aku lakukan? Diam saja dan membiarkan mereka mengangkangi hidup kami? Membiarkan mereka bersikap seolah kami adalah manusia bodoh yang hidup dan matinya bergantung pada kebaikan hati mereka. Selalu saja menekankan pada kapan kami bisa membayar tagihan yang selalu membengkak karena keperluan ini dan itu, tapi saat janji ditagih, mereka akan berlindung pada fakta bahwa semuanya tergantung pada para raja di Imigrasi. Well bukankah kami sudah membayar mahal untuk pelayanan para “raja” yang menjadi “raja” berkat uang darah kami? Lalu mengapa kami juga tetap harus menghiba dan menghamba? Setiap tahun lelakiku akan berteriak marah dan panik dari negara seberang, menanti agar dia bisa kembali ke Jakarta dan bekerja. Sementara para Agen akan dengan mudah mengangkat tangan dan memintaku menunggu atau datang sendiri ke Imigrasi jika tidak percaya.

Tahun kedua, aku melakukannya. Aku datangi kantor Imigrasi menanyakan prosedur yang berlaku, karena tidak satu pun agen yang mau dan mampu menjelaskan bagaimana aturan mainnya. Bahkan aturan main resminya, cerita  mereka selalu berbelit, berputar dan intinya hendak mengatakan betapa mereka tidak berdaya. Namun saat aku ke Imigrasi, Agen yang aku gunakan saat itu menjadi sangat marah. Mereka takut pihak Imigrasi akan memblack list mereka. Apabila seluk beluk ini diketahui umum, maka mereka akan mendapatkan akibatnya. Tapi aku ke sana bukan untuk mencelakakan siapa pun, aku hanya tidak suka berada di tempat gelap, tidak tahu apa yang terjadi, dibohongi hari demi hari, dan tidak berdaya, tidak bertenaga. Aku ingin bisa berbicara dan memahami apa yang terjadi dan bagaimana aku mempersiapkan rencana-rencana cadangan apabila rencana awal gagal. Aku juga nekad menghubungi atase Visa di negara tujuan Jonah. Beliau menerimaku dengan sangat baik, sangat ramah. Beliau menyampaikan bagaimana urutan kerja surat tersebut dan berapa lama aku harus menunggu.

Secara resmi segala pengurusan visa ini hanya memakan waktu seminggu, entah mengapa justru dengan membayar upeti ke para “raja” ini membuat urusan jadi lebih lama.


Ah semoga tahun ini akan berbeda kisahnya..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar