Minggu, 25 Januari 2015

Siapakah Kami Bagimu...

Lia                   : Who can stand this, ya? When money banyak, you go and chase pussy all over Jakarta. Indonesia, Afrika, all kind. You enjoy, pay for her everything but when things gone bad. Sudah sakit begini, no body wants to take care of him. All call me. Enak aja.
                        
                    Kau mungkin tahu, Ariana, Jonah juga pasti tahu. Itu pelacur Sierra Leon, dia juga sering dibawa ke gerejamu kok. Ada kok fotonya sama Jonah dan latar belakangnya gerejamu. Masa kau gak tahu, Ariana? Coba kau lihat chat mereka di FB. Kau lihat, tuh cewek selalu manggil duluan (sambil membuka lama FB kekasihnya). Lihat, dia bilang “apa adikmu tidur?” ini ngomongin barang dia, Ariana. Tuh lihat, dia bilang “I love you” segala. Maaf ya, Ariana.  Tapi sampai hari ini, sudah tiga hari Andy tergeletak seperti ini dan dia sama sekali gak muncul. Adiknya kemarin muncul dan waktu aku berikan resep dokter yang kudu ditebus, dia langsung ngibrit hahahaha Takut dia, Dik. Takut kudu ikut biayai kali. Padahal resep yang aku kasih murah banget, paling cuma seratus ribu rupiah.

Aku hanya bisa tersenyum kecil sembari memandangi kekasihku yang dengan wajah kuyu lelah dan prihatin memegang tangan teman senegaranya itu. Andy, kekasih mbak Lia, adalah satu teman dekat Jonah di negara ini. Mereka sering beroperasi berdua. Aku sendiri kurang suka dengan pertemanan mereka, karena Andy memang sangat doyan minum dan juga perempuan. Setiap kali Jonah beroperasi dengan Andy, hampir bisa dipastikan akan terdengar suara kikik perempuan di latar belakang. Mereka akan beroperasi dengan seks dan merayakan keberhasilan dengan minuman keras dan seks lagi.

Sekitar 8 bulan yang lalu, aku mengirimkan pesan singkat ke Andy dan kekasihnya. Meminta mereka untuk berhenti berbicara denganku. Aku lelah mendengarkan kata-kata terlalu positif dari Andy tentang kekasihku dan kemudian semua keburukan tentang kekasihku dari kekasihnya. Semua suara itu membuatku bingung dan membuat hubungan kami memburuk hingga Jonah menghajarku. Sejak itu Andy menolak berbicara denganku, Lia bahkan memaki-maki aku di depan Jonah. Dan hubungan kami pun berhenti.

Saat ini Andy tengah terbaring lemah, stroke melanda dan melumpuhkan tubuh kirinya. Lelaki bertubuh besar ini berbaring gelisah. Mulutnya terus menceracau akibat tekanan darah di otaknya. Lelaki ini tampak lusuh, kotor dan lemah. Segala marahku sirna. Aku hanya melihat lelaki lemah, sendiri, tak berdaya dan dia berada di kotaku, di negaraku.  Tangan kirinya yang tak bisa digerakkan, ditusuk jarum infus yang bahkan pacarnya pun tidak bisa menjelaskan untuk apa. Aku yang terbiasa bertanya tentang segala hal, sama sekali tak bisa memahami, mengapa dia bisa membiarkan begitu banyak benda masuk ke tubuh pria yang dia cintai tanpa dia tahu apa nama dan bahkan guna apa lagi dampaknya.

Kak Lia tampak sangat tua, sangat lelah. Sudah tiga hari tiga malam dia ada di rumah sakit ini, menemani kekasihnya. Kekasihnya ini terjatuh dalam diam ,setelah beberapa hari sibuk bersenang-senang, mabuk sampai pagi dan tidak mengindahkan perasaan sang perempuan. Dia baru selesai melakukan perjalanan ke Malaysia bersama perempuan Afrikanya (entah bagaimana aku harus mendefinisikan perempuan ini) menikmati seminggu penuh kemesraan sambil membiarkan perempuan yang mendampinginya selama 3 tahun di Indonesia dalam kegelapan. Dan perempuan ini hanya bisa diam dan menangis, seperti kebanyakan perempuan lain yang ada di sisi para pria Afrika.

Lia                   : Dua hari setelah Natal, anak-anakku menunggu Andy untuk datang. Tapi Andy tidak datang dan tidak menelepon. Waktu aku telepon, dia malah memaki-makiku dan kemudian mematikan teleponnya. Aku sakit, Dik. Aku gak peduli kalau dia hanya menyakiti hatiku, tapi ini menyangkut anak-anakku. Mereka tidak berhak disakiti. Mereka tidak pantas dilukai. Mereka gak tahu apa-apa, Dik dan mereka sudah diabaikan oleh ayah kandung mereka. Tapi aku diam saja, Dik. Aku jemput dia saat tengah mabuk berat. Semua bilang aku harus datang karena Andy bertingkah aneh.

Dia selalu bilang gak punya duit, tapi semua foto perempuan brengsek itu selalu nampak mereka sedang bersenang-senang. DI pantai lah, di restoran lah. Semua hanya menghamburkan duit.

Cewek Sierra Leon tuh, Ariana, kalau di sini gak ada kerjaan. Mereka gak ikut bisnis seperti para lelaki ini. Gak jualan di Tanah Abang, apa lagi coba yang mereka kerjakan, selain jual pussy-nya. Mereka ini kan cuma cari lelaki Afrika yang cukup goblok untuk mau ngurusin mereka. Gimana gak goblok, Dik. Punya cewek Afrika di luar negeri berarti kudu ngurusin juga kan? Emang kita, Ariana. Bisa urus diri sendiri? Mereka mah kudu dibayarin VISA, belum sewa rumah di sini, makan, kirim uang ke Afrika. Andy aja bego. Ariana cuma mau cari pussy aja. Padahal juga apa bagusnya kan?

Ariana          : Lalu kenapa Andy melakukannya, Kak? Untuk apa dia mencari cewek Afrika?  Kenapa gak cari cewek lokal aja kalau memang mau main-main?

Lia                   : Karena membanggakan buat mereka, Dik. Punya cewek Afrika itu membanggakan. Sekarang coba? Kita kan yang kelimpungan? Kenapa coba saat senang dia ingatnya nomor cewek-cewek lain? Kalau susah, kenapa nomor kita yang dia putar?

Teriakan perempuan ini sebenarnya mewakili begitu banyak perempuan lain yang tengah berhubungan dengan pria Afrika di Indonesia. Siapakah sebenarnya kami ini di mata mereka? Siapakah sebenarnya kami ini di dalam hubungan dengan mereka?

Selama di Indonesia dan di negara mana pun di dunia, mereka membutuhkan perempuan untuk menjadi teman tidur, untuk menemani dan mengurus keperluan fisik mereka selama mereka jauh dari keluarga. Tidak  hanya seks, namun banyak kebutuhan lainnya.  Kebanyakan, di awal hubungan akan dijanjikan pernikahan di ujung hubugan. Sesuatu yang masih sangat didambakan oleh kebanyakan perempuan di dunia. Dengan berbekal mimpi akan dinikahi, akan diajak menemui keluarga di Afrika, para pria ini menjerat perempuan-perempuan di dunia. Bagaimana jeratan ditabur? Tergantung bagaimana ikan yang akan dijerat. Mereka bisa berubah menjadi apa pun yang diinginkan perempuan ini, ya, karena mereka menebarkan ilusi, mimpi dan bukan sejatinya dirinya.  Tapi apakah mimpi itu ada?

Beberapa teman Afrika sebangsa Jonah pernah berkata bahwa pria Afrika akan menikahi perempuan Indonesia yang membantunya dalam bisnis. Perempuan yang membantunya mendapatkan banyak uang. Dan kebanyakan perempuan ini juga menikahi sang pria karena tidak mau pria ini membagikan uangnya ke perempuan lain. Pria Afrika kebanyakan hanya akan menikahi perempuan dari negaranya, karena di sini dia tidak bisa berinvestasi dan menginvestasikan uang atas nama perempuan lokal sangatlah beresiko. Begitu banyak kisah pria Afrika yang dihabiskan hartanya oleh perempuan yang sudah menjadi kekasihnya. Namun aku juga tidak bisa menyalahkan para perempuan ini. Banyak dari kami yang sudah dirusak oleh gaya hidup dan pemahaman materialistik para pria Afrika ini. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan muda dari keluarga sederhana dan pendidikan yang rendah. Kepada mereka diperkenalkan kemewahan yang disebutkan didapat dari “permainan” mereka. Betapa mudah sebenarnya mendapatkan uang dan betapa manisnya kehidupan saat kita punya uang banyak. Mereka inilah yang “beruntung” dinikahi para pria Afrika. Keduanya kemudian menjalani kehidupan yang mewah di satu saat dan kemudian miskin di saat yang lain. Meski sedang miskin, para pria Afrika ini tetap hidup di atas standar miskin Indonesia. Mereka tinggal di apartemen, berkeliling menggunakan taksi, minum bir hampir tiap malam, memegang HP mewah dan berpakaian keren serta wangi.

Aku sudah menemani Jonah selama 3 tahun, dan tidak sekali pun aku terlibat dalam permainan-nya. Di awal pertemuan aku sudah menyatakan bahwa aku belum tertarik untuk menikah dan apabila Jonah memang menginginkan pernikahan, lebih baik kami tidak memulai apa pun, karena aku tahu aku akan jatuh cinta dan juga akan terluka. Tapi Jonah tetap meminta kami bersama, dia mengatakan juga tidak tertarik untuk menikah. Dua tahun berlalu dan Jonah mulai menjejaliku dengan kebaikan-kebaikan ibu dari anaknya di Afrika dan betapa dia pantas dinikahi sementara aku tidak. Berulang Jonah menyebutkan betapa dia tidak akan pernah bisa menikahiku. Selalu saja digunakan fakta bahwa aku pernah bercerai sebagai alasan. Katanya dia tahu aku akan pergi begitu ada masalah, dia tak peduli betapa aku memerlukan waktu 14 tahun sebelum memutuskan bahwa aku harus keluar dari pernikahanku. Dalam setiap pertengkaran kami, dia selalu meyebutkan kebaikan perempuan itu dan menyatakan cinta luar biasanya kepada perempuan ini dan aku selalu terpuruk diam dan menangis.

Setiap Jonah mengalami masa buruk, pikiranku melayang.. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalaku. Siapakah kami ini? Saat harus dihadapkan pada situasi seberat ini, bagaimanakah kami harus bersikap? Apakah menjadi pacar sementara, seperti yang selalu didengungkan oleh Jonah di telingaku? Lalu apakah seorang pacar sementara akan meluangkan waktu dan tenaganya demi menjaga dan menyelamatkan lelaki pasangannya? Apakah kami harus mengorbankan segalanya saat bahkan posisi dan status kami tidak jelas? Saat Jonah mengalami masalah di imigrasi, siapakah aku hingga aku harus melepaskan semua urusanku demi membantu dia menyelesaikan masalahnya? Saat Andy terbaring lemah dan sakit, siapakah kak Lia,  hingga dia harus mengorbankan segala waktunya untuk lelaki yang bahkan di saat uang datang, hal pertama yang dia lakukan adalah pulang ke negaranya, sendiri?

Kami di sini untuk menemani para lelaki ini berjuang. Kami ada saat mereka tidak punya uang sama sekali, menemani saat mabuk, menemani saat sakit, menemani saat dia marah-marah akibat stres tekanan kebutuhan di sini dan di Afrika, menelan ludah saat dia ketahuan berselingkuh, menelan marah saat kata-kata mereka menjadi kasar akibat mabuk. Menutup mata melihat semua pesan mesra di FB, Badoo, WA, LINE dan banyak alat komunikasi lain, karena kita tidak tahu mana klien dan mana yang dia rencanakan untuk menjadi kekasih berikutnya. Menelan ludah dan menahan hati saat dengan bangga dia memasang foto perempuan Afrikanya, memuja bak dewi dan menyebutnya pasangan hidup, sementara semua sakit kami yang rasakan, kami yang tanggung. Lalu saat uang datang, mereka bergegas pulang, bersenang-senang di negaranya dan berharap kami menunggu, menghormati dan setia?

Sampai tahun ketiga kami bersama, aku tidak pernah bisa memahami konsep hubungan ini. Tiap tahun Jonah pulang, aku selalu mengatakan bahwa ini adalah akhir hubungan kami. Bahwa dia sudah menemukan kekasihnya dan aku tahu betapa aku sangat mudah untuk digantikan, maka aku rela digantikan. Bagiku, aku tidak melihat Jonah sebagai pasangan sementara. Bagiku dia adalah kekasihku, pasanganku, mitraku, orang yang sangat aku kasihi, yang sangat aku cintai, aku hanya tahu satu bentuk cinta. Tapi aku tidak pernah bisa memahami apa yang dia inginkan dalam hubungan kami. Dia seolah memisahkan kehidupannya di Afrika dengan kehidupannya di Jakarta. Well itu juga bisa dilakukan, tapi kudu konsisten. Jangan pernah kau menceritakan kehidupan Jakarta mu kepada dia di Afrika seperti kau putuskan hubunganku dengan semua keluargamu di Afrika.

Mungkin memang benar, aku terlalu naif untuk bisa memahami bentuk hubungan seperti ini. Kebanyakan perempuan yang berhubungan dengan pria Afrika akhirnya beradaptasi. Mereka melihat si lelaki hanya sebagai sumber kesenangan. Karena itu mereka melindungi si sumber dengan segenap kekuatan. Mereka akan menendang, mencakar, menghancurkan perempuan lain yang berusaha merusak sumber ini. Tak peduli dengan apa yang ada di negara lain, selama “kebutuhan” mereka terpenuhi. Mereka menerima lelaki lain sebagai teman bermain, karena tekanan hubungan begitu kuat dan untuk apa setia? Toh hubungan ini tidak akan membentuk apa pun. Kebanyakan dari mereka kemudian terjebak dalam kehidupan bersenang-senang, melompat dari satu pelukan ke pelukan yang lain, menikmati kehidupan bebas dan penuh kesenangan duniawi. Aku pernah hampir terjatuh ke dalam kehidupan itu. Aku tidak memandang lelaki Afrika sebagai lelaki, melainkan hanya sebagai sumber kesenangan. Lelaki Afrika menyenangkan, karena mereka membutuhkan perempuan paling tidak untuk seks. Dalam kebutuhan itu, mereka akan menempatkan diri di bawah si perempuan, berusaha keras membuatnya bahagia, setidaknya di saat itu. Berbeda dengan pria Kaukasia, mereka terlalu percaya diri. Terlalu yakin rasnya tertinggi dan akan selalu didambakan oleh ras yang lebih rendah.

Dan aku tercenung...

Kakaku yang baik, kau begitu terberkati. Kau diberi kesempatan untuk menunjukkan baktimu pada TUHAN. Seperti yang selalu aku katakan pada diriku sendiri, tiap kali aku harus melalui api demi menemani Jonah di negara ini. Aku melakukannya untuk TUHAN. Karena hanya DIA yang tidak akan pernah mengecewakanku. DIA melihat semua usahaku untuk menemani dan berlaku baik pada lelaki yang DIA kirimkan ke kehidupanku. Aku tahu tiap manusia punya tujuan saat dia hadir dalam hidup manusia lain. Aku punya tujuan saat hadir di kehidupan Jonah, begitu pula Jonah punya tujuan saat hadir di kehidupanku. Meski peluangku tampak sangat kecil, bahkan hampir tak munkin. Meski dalam pikiran logika aku tampak bodoh dan memperjuangkan sesuatu yang tak mungkin, tapi aku tahu TUHAN bisa mengubah segalanya. Berkali-kali TUHAN menolongku di saat sempit, berkali pula DIA menunjukkan kuasa-NYA dalam perkara-perkara kecil. DIA ingin aku mempercayai-NYA untuk perkara yang lebih besar.

TUHAN, aku tidak tahu ke mana arah hubungan kami dan kurasa itu bukan bagianku. Bukan urusanku. Itu adalah pekerjaan-MU. Tugasku hanyalah memastikan semua langkahku sudah sesuai dengan petunjuk-MU. Bahwa aku memberikan cinta sesuai dengan apa yang kau inginkan, bahwa aku berbuat baik sesuai dengan kebaikan-MU padaku.  TUHAN-ku, KAU tahu hatiku, KAU tahu tangisku dan KAU akan mengubah segala tangisku menjadi senyuman.

Demikian juga kau, Kakakku Sayang. TUHAN akan membayar lunas semua peluhmu untuk lelaki yang kau cintai. DIA akan menggantikan semua lukamu dan sakitmu dan DIA akan turun tangan untuk segala perkara dalam hidupmu..

Malam itu, Jonah memelukku erat..
"Ariana, I love you.." Dan aku kembali terhanyut.. TUHAN, aku mencintai lelaki ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar