Senin, 05 Januari 2015

Hidup yang terbelit sulit

Malam itu aku baru kembali dari doa tutup tahun yang setiap tahun diadakan oleh gereja tempatku dan Jonah menyembah. Jalanan dipenuhi orang-orang yang berdiri menantikan momen tahun baru. Aku beranjak pulang dengan taksi yang melenggang lancar. Rupanya semua orang menuju ke pusat kota, sementara aku menuju ke tepi kota di mana rumahku berada. Sejak sore Jonah mengirim pesan di BBM yang menyatakan bahwa dia tidak keluar rumah sehingga tidak bisa bergabung denganku untuk doa tutup tahun, dia memintaku berdoa untuk kami berdua (tentu saja, Sayangku. Aku selalu berdoa untuk kita berdua). Bagus juga, pikirku. Overstay membuat dia enggan keluar rumah, yang berarti kekasihku tidak akan mabuk malam ini. Dia punya sebotol Gin di rumah tapi itu tidak akan membuatnya terlalu mabuk.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Blackberry-ku berbunyi. Rupanya salah satu sahabat tampan kulit hitamku menelepon. Dengan suara yang terdengar gugup dan panik dia menyapaku:

Yannick                 : Hi, Love. How are you?

Me                         : I am fine. Happy new year.

Yannick                 : Happy new year too, Darling. Where are you?

Me                         : I am on my way home from the church. What’s up?

Yannick                 : Sweetheart, I am having problem with her again. I don’t think I can do this anymore. I cannot live my life as if I am in prison. I am a man, I need my freedom. I need to free my self.

Me                         : Hmm.. I agree with you, Yannick. Is there anything I can help you with?

Yannick                : Baby, can I crash in your place just for tonight? I be with my suitcase though. Not many, just one lugage and one backpack. Do you think you can do that for me?

Me                         : Hmmmm.. Ok, just come.

Yannick                : Ok, Sweety. When I get my taxi, I will call you.

Me                         : Ok, take care of your self.

Yannick adalah lelaki tampan yang aku kenal dari seorang teman. Saat itu malam ulang tahunku dan teman ini membawaku ke apartemennya untuk bertemu dengan sepasang kekasih Kulit Hitam yang tengah terlibat pertengkaran. Mereka saling memukul dan menggigit hingga menimbulkan keributan. Akibatnya mereka berdua diusir dari tempat kost dan terpaksa harus mengungsi. Selain luka fisik, hati, malu, mereka juga kebingungan mencari tempat untuk tinggal. Kebetulan temanku itu hendak pulang ke negaranya, jadi dia menawarkan apartemen kecilnya untuk ditempati mereka berdua. Aku diminta hadir untuk merayakan ulang tahunku di sana dan juga untuk berbicara dengan kedua pasangan ini.

Pertama kali aku melihat Yannick, mataku benar-benar terbuka lebar dan rahangku hampir terjatuh ke tanah. Lelaki ini sangat tampan, dengan tinggi hampir 2 meter dan badan langsing tegak, mata lembut dibingkai wajah bulat telur dengan jambang tercukur rapi, membuat Yannick tampak bak patung dewa kulit hitam. Dia tengah berdiri di depan pintu unit apartemen, menunggu kekasihnya membuka kan pintu. Saat disapa, Yannick mengeluarkan suara yang sangat lembut. Terlalu lembut untuk perawakan tinggi besarnya. Terlalu lembut untuk wajah garangnya. Jika dipandang sepintas, maka kau akan melihat sosok yang mengintimidasi, tapi bila kau diberi kesempatan untuk memandang kedua matanya, TUHAN, sorotnya begitu lembut dan bahkan hampir seperti ketakutan. Membuat siapa pun yang memandang ingin memeluknya, menenangkan sorot takutnya dan membiarkannya menjadi sorot mata bahagia. Ah Yannick, TUHAN sangat mencintaimu. DIA menciptakanmu begitu indah.. Perkenalan kami singkat saja, Yannick terkesan tidak terlalu bisa berbahasa Inggris karena dia berasal dari negara di Afrika yang menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa nasional mereka.

Saat kami akhirnya masuk ke dalam aparetemen berukuran 32m2 itu, aku melihat sesosok perempuan Afrika yang juga tidak kalah tinggi. Dengan rambut keriting yang terusai masai, tubuh yang lentur dan langsing. Perempuan ini tampak sedih dan kosong. Tubuhnya tampak penuh luka, mata kanannya kehitaman akibat tonjokan. Perempuan ini berusaha tersenyum, namun ada sesuatu dari wajahnya yang tidak bisa aku gambarkan. Ada kekosongan yang luar biasa hampa, ada ketidak percayaan, kecurigaan dan begitu banyak tanda tanya di wajahnya. Meski dia berusaha tersenyum dan menyapaku dengan ramah, namun ada jarak dan jurang yang aku tidak bisa gambarkan. Perempuan ini terasa jauh.

Sejak awal pertemuan yang kemudian diikuti dengan dua pertemuan berikutnya, Yannick selalu menceritakan atau tepatnya mengeluhkan pola hubungan mereka yang penuh kekerasan. Vanessa selalu curiga, selalu cemburu.

Yannick                   : I never go out without her. We do our job together. We go out together, hang out together. Everything we do, we do it together. She will check my phone, my Facebook, my Tango, everything. If I went out alone, she will smell my underwear, looking for a trace of sperm. She will smell my penis to check if I made love to another woman.

                                   If ever we had a fight, she would threaten to kill her self or at least hurt her self. She loves me so much. She is a nice woman but I can never marry her. Not because I don’t love her, but because she is married in our country. She has 2 children and until now, they are still together. So I cannot marry her unless she divoces her husband. She is older than me, she is 45 years old and I am 30 but that doesn’t matter. She has done a lot for me and I am determine to make her happy.

                                   One night I came home from meeting my client. A woman, you know we have to sleep with the client in order to gain her trust and to get her pay. I my self, I don’t like it. To me making love is with someone you love not a client. Even though the lady was not ugly but still I cried when I made love with her. But I had to do it. I had to.. We needed the money. When I came home with 15 million from the client, I gave her all 10 million and took 5 million for my own expenses. I told her she is the lady of the houose, so she has to manage our money. But after received my money, she started to insult me. She said she is ashame of me, because I am like a gigolo who have sex for money. But she took the money, and she use it for her life. I felt so hurt, Baby. So humiliated. I felt bad about my self, about my life. I was not always like this, Baby. And this is not the life I wanted.

                                   Vanessa did the same thing before, and it was I who told her to stop. It is not good for a woman to use her body to get money. But I have to admit, since then, it is very difficult for Vanessa to get money. But I cannot let the woman I love do such thing, Baby. She is going to be my child’s mom one day. I want her to live a good life.

Mendengarkan kisahnya bak mendengarkan kisah dari dunia yang berbeda. Aku bak mendengarkan dongeng yang terasa berjarak. Seolah tak mungkin hal seperti ini terjadi di dunia kita. Seorang laki-laki yang begitu tampan, duduk di sebelahku, memandang nanar ke kehampaan, menceritakan kisah hidupnya sebagai penipu. Tidak mudah memang menjadi penipu, kau harus benar-benar meyakinkan klienmu bahwa kau memang punya sesuatu yang bisa mereka andalkan. Bagi beberapa bangsa, mereka menggunakan kekuatan cinta. Seperti yang aku tuliskan di bab sebelumnya, kita perempuan sangat mengagungkan cinta. Sering kali kita melepaskan akal dan nalar demi cinta. Baik cinta pada seorang lelaki, anak atau bahkan diri kita sendiri. Sangat penting bagi perempuan untuk memiliki cinta yang dia perjuangkan, menjadikannya alasan hidup, menjadikannya dorongan hidup dan perjuangan. Kita akan merasa bersalah apabila kita tidak memiliki cinta itu, apabila tidak ada kekasih, suami atau pun anak yang bisa kita jadikan kredo hidup kita. Dan itu yang mereka makan, itu yang mereka cari. Dengan meyakinkan mereka bahwa dia adalah cinta sejatinya, maka para  perempuan ini lalu melakukan apa pun demi menyenangkan lelaki ini, cinta ini.

Pernah satu kali di sampingku Yannick menerima telepon dari salah satu kliennya. Dengan wajah yang tiba-tiba memelas, bahasa Inggris yang sangat terbatas dan suara yang sangat lemah, Yannick berkomunikasi dengan perempuan asal Papua yang juga memiliki kemapuan berbahasa Inggris minim.

Yannick                 : Honey, where are you?

Papua Woman  : Me home. Where are you?

Yannick                 : Me home too. Honey, me sad. Me confuse. Why you don’t love me anymore?


Papua Woman  : Why sad? Why confuse. I love you, Honey. But me waiting for me brother. He in Papua but come to Jakarta next week. He come with  money for your money, Honey.

Yannick                : Good, Honey, but me need money now. Me cannot eat. Me have to pay the room. Honey, me confuse. Me don’t want to live in the street. (dengan suara menangis) Honey, me confuse.

Papua woman   : But me give you money for food. Don’t cry, Honey. Me give you money again. Come to me home. Me pay taxi ya.

Yannick                : Honey, me no money. Cannot taxi. No money (kali ini dengan tangis yang lebih keras dan aku memukul dahiku penuh tawa).

Papua woman   : Come, Honey. Me pay taxi, me give you money. Brother come Monday. He give money for your money. We go Papua and married.

Yannick                : I love you, Honey. Wait for me.

Mendengar perbincangan ini aku ingin tertawa geli tapi juga kasihan. Berapa banyak perempuan seperti perempuan Papua ini. Bagi mereka bukan uang yang jadi indikator kau calon korban atau bukan, tapi kesepianmu. Kerinduanmu akan memiliki. Kekosonganmu.

Malam itu Yannick datang dengan kopornya. Memintaku untuk membayar taksi yang dia gunakan untuk datang (di jam macet seperti itu, biaya taksi yang seharusnya 80 ribu membengkak menjadi 200 ribu) dan naik ke ruang kamarku.

Sambil memelukku seperti anak kecil yang mencari perlindungan ibunya, Yannick menceritakan kesalahpahaman mereka. Tanpa sengaja Yannick mendengar Vanessa berbicara dengan salah satu teman perempuan mereka betapa muak dia dengan lelaki ini. Bahwa dia lah penyebab Vanessa tidak lagi bisa mendapatkan uang. Bahwa Vanessa tengah bersiap untuk meninggalkan lelaki ini selamanya. Dia sudah bertekad untuk meninggalkan Indonesia, meninggalkan lelaki ini dalam kebingungan. “He will cry,” Kata Vanessa. “He will know who I am.” Dari mana Yannick tahu semua itu? Dalam curiganya, Yannick meninggalkan ponselnya dalam kondisi merekam dan berpura-pura ke kamar kecil. Lalu kembali untuk mendengarkan hasil rekamannya di kamar kecil. Menurut Yannick dia begitu kaget dan syok. Dan merasa harus segera pergi karena meski cintanya begitu besar bagi perempuan ini, namun lebih baik dia pergi karena dia yakin perempuan ini akan mencelakainya. Aku hanya tersenyum. Hubungan apa yang tengah kalian rajut? Sebuah cinta dan hubungan seharusnya dilandasi rasa percaya dan bukan curiga. Hmmm.. jadi terpikir hubunganku sendiri.

Jonah pun tidak pernah benar-benar mempercayaiku. Dia selalu takut aku akan mencelakakannya apa bila ada hal yang tidak sesuai mauku. Selama tiga tahun kami bersama, Jonah selalu memastikan dia tidak terikat erat denganku, dan bahwa aku tidak punya celah untuk mencelakakannya. Dalam tiap pertengkaran kami, Jonah selalu menyebutkan segala peluang yang bisa aku gunakan untuk mencelakakan dia. Hal yang sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku. Aku mencintainya dengan tulus, atau setidaknya aku merasa begitu. Aku tidak punya harapan apa pun, selain harapan agar kami bisa bersama dan saling  mendukung. Bahkan tidak untuk pernikahan. Aku tidak punya tujuan selain tujuan untuk menjadi satu dengannya dalam TUHAN. Bagaimana bentuknya? Hanya TUHAN yang tahu.

Malam itu Vanessa tengah larut dalam pesta bersama teman-temannya. Dia tidak peduli lelakinya tengah kesakitan (meski hanya pura-pura) dan memilih untuk berpindah dari satu klab ke klab yang lain, menikmati malam pergantian tahun. Meski setiap 2 jam dia akan menelepon Yannick, sekedar mengabarkan di klab mana dia kini berada dan menayakan di mana Yannick berada. Setiap kali Yannick selalu menjawab dia ada di rumah. Jawaban yang tidak bohong meski tidak benar, memang dia ada di rumah, tapi di rumahku.

Lalu tibalah saat yang dinantikan, akhirnya Vanessa kelelahan dan memutuskan untuk pulang. Aku hanya bisa membayangkan wajahnya saat dia melihat rumah kosong dan kekasihnya tidak ada. Dan telepon Yannick berdering lebih sering..

Vanessa               : Where are you?

Yannick                 : I am gone, Vanessa. You don’t love me and you talk about me in a bad way with our friend. I don’t know how many others you talk like that.

Vanessa               : Ok, have fun.

Dan telepon ditutup.

Sekitar 30 menit kemudian, telepon Yannick berdering lagi.

Vanessa               : Yannick, what have I done? (sambil menangis). Please come back, I cannot live without you. I did not say anything. I love you, Yannick. Please come back. I rather die then live without you. Do you want me to kill my self?

Yannick                : You don’t need me. You are sick of me. You said that to her last night.

Dan kejadian ini berulang sampai pagi menjelang.

Vanessa akan menelepon menghiba dan berkata bahwa dia sudah menusuk tubuhnya dengan pisau dan kini darah terus mengalir, Yannick akan terdiam dan merenung tapi memutuskan untuk memelukku lagi dan tidur. Kemudian telepon berdering lagi, kali ini Vanessa berteriak marah dan mengancam akan mencelakakan Yannick, kembali Yannick tersenyum dan memelukku. Dan berdering lagi, Vanessa mengeluh perutnya kesakitan karena darah sudah begitu banyak mengucur. Dia perlu ke rumah sakit dan tidak ada satu pun yang bisa dia hubungi. Bahwa dia membutuhkan Yannick untuk membantunya. Yannick tampak bingung dan terdiam tapi tetap memutuskan untuk tidur sambil memelukku.

Dering telepon sepanjang malam, dan keberadaan lelaki di sampingku benar-benar mengganggu tidurku, aku memutuskan untuk bangun dan berdoa. Dalam doaku tiba-tiba aku begitu digerakkan untuk duduk memegang tangannya dan berdoa. Aku doakan lelaki ini agar keduanya menemukan kedamaian, agar keduanya kembali ke TUHAN dan menyerahkan segalanya ke tangan yang Kuasa.

Yannickku sayang, demikian kataku, kehidupan apa yang sedang kau jalani ini? Kau berada jauh dari rumah, mengerjakan pekerjaan yang tidak disukai TUHAN dan menjalani hubungan yang penuh dengan kekerasan dan kecurigaan. Hidupmu tidak tenang, kau terus gelisah. Kau tidak lagi muda meski belum setua aku, tapi kau menjalani hubungan bak anak 17 tahun, yang masih menempatkan ego di atas segalanya. Pekerjaan kalian membuat kalian berdua terus mempertanyakan diri, uang yang menjadi TUHAN kalian telah begitu dalam merusak persepsi kalian tentang cinta. Selalu saja semua dihubungkan dengan uang. Kau bertahan karena perempuan ini sudah banyak membantumu, dia bertahan karena keyakinan bahwa suatu saat kau akan berhasil dan dia ingin menikmati keberhasilan itu. Sejatinya kalian berdua memiliki kegelisahan yang sama seperti para perempuan dan lelaki yang jadi korban kalian. Kebohongan dan cerita yang kalian gunakan untuk menjerat mereka begitu detail dan mendalam, membuat kalian sulit membedakan mana yang fakta dan bualan. Aku tidak meminta kalian untuk putus, tapi aku meminta kalian untuk mengubah bentuk hubungan kalian. Cara pandang kalian, aku memintamu untuk kembali ke TUHAN. Kau sudah begitu jauh, Sayang. Kekasihmu begitu kosong. Kau pun begitu bingung, resah dan gelisah.

Seorang teman kulit hitam lain yang aku kisahkan tentang Yannick mengatakan bahwa Yannick tidak akan pernah bisa meninggalkan perempuan itu, karena dia juga berasa dari Afrika. Bagi mereka sangat penting untuk menjaga nama harum mereka di tanah asal. Tak banyak yang tahu apa yang mereka kerjakan di luar dan penting bagi mereka untuk menjaga hal itu. Perempuan mereka di Afrika adalah jaminan nama baik, jaminan kelayakan dan pencitraan. Mereka tidak peduli apa pun yang terjadi di negara tempat mereka mencari uang. Nama mereka boleh hancur asal perempuan di rumah tetap memberikan nama baik. Ah Jonah, itukah juga yang sedang kau lakukan?

Apakah aku hanya alat bagimu? Apakah aku hanya persinggahan sementara? Apa yang kau pikirkan tentangku dan banyak perempuan lain yang pernah kau singgahi? Apakah bagimu kami ini tidak punya perasaan atau kah perasaan kami tidak bernilai sehingga layak untuk disinggung? Apakah perempuan Afrika jauh lebih berharga dan kami lebih tidak bernilai? Mengapa sangat penting bagi kalian untuk menjaga hati perempuan Afrika tapi dengan seenaknya kalian menghancurkan hati perempuan-perempuan lain di dunia? Kalian begitu bingung dan gelisah saat perempuan Afrika kalian menangis dan meradang tapi melihat kami terluka, kalian hanya tersenyum dan menghina. Kami juga manusia.. Kami juga perempuan. Mungkin ada sebagian dari kami yang punya niatan berbeda tapi ada juga yang berhati tulus dan mencintai kalian hanya sebagai lelaki, bukan kulit hitam bukan penis besar.. tapi lelaki. Pada perempuan-perempuan ini dianugerahkan hati yang tulus dan cinta yang besar, tidakkah kau pikir TUHAN akan mendengarkan tangis mereka? Tidakkah kau pikir TUHAN akan melindungi mereka? Tidakkah kau takut akan karma?

Siang menjelang, Yannick membersihkan diri di kamar mandi, saat aku menyetrika baju yang akan digunakannya. Dengan tersenyum Yannick memelukku. "Semua kebaikanmu akan selalu dikenang, dan TUHAN akan membalasnya. Kau begitu baik dan manis, kau tidak bertanya dan tidak mengharapkan apa pun. Belum pernah aku diperlakukan selembut ini oleh perempuan," demikian bisiknya. Dan aku hanya tersenyum. Perempuanku adalah perempuan lembut, kami hanya tahu memberi dan melayani. Kami tidak pernah dikenalkan dengan tuntutan. Meski hati kami terluka, kami akan tetap tersenyum dan memberikan pelayanan yang sama lembutnya bagi lelaki yang ada di hidup  kami. Yah, kau bisa sebut itu kebodohan tapi bagiku itu sebuah kelebihan yang tidak ingin aku hilangkan. Aku peluk dia dengan hangat..

“Take care of your self, Yannick. Please rely your self to the LORD. Don’t ever leave your pray. Be a man and act like one. No, not to be hard and harsh but to be firm and kind. You are a very  handsome man. GOD bless you with a good mind and apperence. Use it wisely, My Dear. I know we will never be together, because we have the same way of loving, for that we need to be with other kind to make us complete. But I believe when GOD said those who are united by GOD no man can seperate, was not only talking about marriage. Baby, just be the you that GOD wants, then let everything in HIS hands. If she is for you, My Love, there is nothing you can do to push her away but if she is not for you, there is nothing you can do to make her stay. Let GOD be your center, Sayangku, and rely your self on HIM. People will always let you down, but when you see HIM, what ever you face in your relationship will feel easier.”

Lalu aku kecup keningnya sebagai tanda perlindungan dan mengantarnya turun ke lobby.
Setelah Yannick pergi, aku kirimkan pesan singkat ke teleponnya.

“Yannick, I love you very much but I refuse to be one of your hiding place. Please take care of your self and stay close to GOD. This will be my last text and I will block you from my phone. Don’t call me anymore, if you want to see me, come to church, I will gladly welcome you there. God be with you.”


“Thank you.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar