Senin, 22 Desember 2014

Dan Aku pun runtuh

Malam itu Jonah menelepon memberitahukan bahwa dia akan pergi sampai pagi untuk menemani salah satu kliennya minum. Aku tahu itu berarti aku tidak boleh menghubungi dia sampai dia selesai dan menghubungiku. Jonah tidak suka aku menghubunginya saat dia masih berada di luar rumah. Alasannya, dia tidak mau harus berteriak untuk berbicara denganku atau pun terpecah konsentrasinya saat berbicara dengan teman atau kliennya. Terutama kliennya. Penting bagiku untuk tidak menghubungi saat dia bersama klien, kerena kepada si klien dikatakan bahwa dia baru tiba di negara ini dan tidak mengenal siapa pun. Yah, memang menjadi kekasih seorang Jonah sangatlah sulit...

Jonah berjanji akan menghubungiku seperti biasa di saat dia sudah berada di rumah, seperti biasa..

Malam itu aku tidur dengan nyenyak di kamar kecilku sendiri, memasang jam beker tepat pukul 4 pagi karena ada beberapa tulisan yang harus aku selesaikan untuk gereja. Aku kirimkan sms selamat malam ke kekasihku tersayang yang tengah bersenang-senang dengan kliennya itu. Mengucapkan doa untuknya agar Tuhan senantiasa melindungi diri dan hatinya. Dan aku tertidur dengan hati damai..

Tepat pukul 4 pagi wekerku berbunyi dan aku tersentak dari tidurku.. Secara reflek kuraih ponsel yang selalu aku letakkan di samping bantal dan diset dengan dering normal agar aku bisa terbangun saat Jonah menelepon. Bagiku berbicara dengannya di malam hari, meski hanya selamat malam, adalah sesuatu yang selalu ditunggu. Tanpanya malamku gelisah dan tidak nyaman. Hubungan kami sudah berlangsung selama 2,5 tahun dan kebiasaan ini kami lakukan tiap malam. Jonah tidak pernah lalai menghubungiku setiap malam, di mana pun dia berada. Meski saat dia harus bepergian baik untuk visa maupun bisnis, Jonah tidak akan melupakan jam tidurku dan tahu bahwa kekasihnya ini tidak akan dapat tidur sebelum mendengarkan kata selamat malam dan i love you darinya. Hari ke hari berlalu dan itu menjadi sebuah kebiasaan manis kami. Sesuatu yang aku nantikan dan aku syukuri. Setiap malam.

Aku menarik BB-ku dari samping bantal dan melihat belum ada telepon maupun pesan masuk ke ponselku itu. Seperti kebanyakan perempuan Indonesia, aku punya lebih dari satu ponsel, dan Jonah tahu kedua nomorku dan tahu dia bisa menghubungiku di nomor mana pun. Aku cek ponsel kedua dan tetap tidak ada telepon maupun pesan masuk. Oh, di mana kah kau, Jonah? Apakah kau baik-baik saja?

Jonah selalu mengira ritual telepon itu adalah salah satu cara bagiku untuk mengendalikan dia. Dia selalu mengira bahwa dengan membuatnya meneleponku, aku bisa mengecek apakah dia bersama perempuan atau tidak. Sebuah pemahaman yang sangat salah. Aku bukan anak kecil maupun anak kemarin sore. Aku tahu bahkan dalam kondisi memeluk perempuan pun, Jonah bisa dengan mudah meneleponku dan memanggilku sayang serta menyatakan cinta. Aku tahu bahwa beberapa perempuan sudah tahu “aturan main” sesama pencinta kesenangan. Atau bahkan dalam beberapa kasus, mereka diam karena tahu perempuan yang tengah dihubungi itu adalah calon korban. Sehingga si lelaki perlu untuk mengumbar kata-kata manis demi untuk meyakinkan si calon korban akan perasaannya. Maka teleponnya bukanlah jaminan bahwa Jonahku tidak sedang memeluk perempuan lain, tidak sedang bersama perempuan lain, tidak sedang berkhianat.. Bagiku telepon itu menandakan bahwa lelaki yang sangat aku cintai ini selamat, sehat dan tidak dalam masalah. Mengapa aku begitu cemas?

Jonah bukanlah lelaki dengan pekerjaan normal, dia bukan lelaki yang pergi ke satu kantor di pagi hari dan pulang di sore hari. Pekerjaan yang dia lakukan di negaraku dan juga di negara lain yang sudah dia kunjungi, merupakan sebuah permainan yang membutuhkan konsentrasi besar karena apabila terjadi kesalahan, akan berakibat pada nyawanya. Kapan pun, di mana pun, salah satu korbannya bisa mengenali kekasihku dan menyeretnya ke kantor polisi. Well, diseret ke kantor polisi adalah sesuatu yang lebih ringan, kebanyakan teman Jonah akan dipukuli lebih dulu sampai babak belur sebelum diserahkan ke polisi. Acap kali polisi akan menerapkan “teknik interograsi” yang sama, meski di ujungnya selalu bertumpu pada kemampuan kita untuk membayar sejumlah dana. Dan Jonah sendirian di sini. Dia punya teman senegara tapi aku tidak yakin mereka akan mau melakuan apa yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan Jonah apa bila terjadi sesuatu. Meski beberapa kali aku melihat kelompok ini berkumpul dan mencoba untuk membantu saudara-saudaranya yang tertimpa masalah hukum. Tapi tetap, aku melihat diriku sebagai satu-satunya keluarga Jonah. Aku yang bertanggung jawab atas keselamatan dan kesehatannya di sini. Karena itu, telepon malamnya sangat penting bagiku. Namun aku tak tahu bagaimana menjelaskan hal ini pada Jonah. Lelaki yang hanya memahami bahasa uang. Baginya, kepercayaan sama dengan uang. Mereka mempercayaiku, itu karena secara finasial mereka bergantung pada kekasihku ini. Dia tidak bisa memahami ketidakpedulianku pada kondisi keuangan dia, miskin atau kaya aku tetap melihatnya sebagai Jonah. Dia tidak bisa melihat kepedulianku ini sebagai bentuk kasih sayang.. Jonah adalah lelaki Afrika, begitu selalu dia katakan. Bangsa Afrika tidak hidup dalam romantisme. Kami hidup di dunia nyata, dunia yang keras dan penuh dengan tipu daya. Sementara aku, aku tidak mengenal semua itu. Bagiku hidup hanyalah satu, berbuat baik.

Well..

Setelah mandi dan menyiapkan laptop untuk memulai pekerjaanku, aku memberanikan diri untuk menghubungi Jonah.

Me                         : Hello?
Jonah                    : I am online, let me call you back...

Lalu dia lupa mematikan teleponnya denganku dan aku bisa mendengar perbincangannya di sana..

Jonah               : This is exactly what make me angry at them. I don’t know why my mother asked for that kind of thing. I am here working, and I am not risking my life for someone who only want to flex and don’t have any plan for their future.
                           You are my girlfriend, my fiancee, I will also put an X on you if you behave the same. Please understand, Love..

Lalu aku matikan teleponku....

Aku kirimkan pesan ke BBM Jonah

“Hi, you don’t need to call me back. All I need to know is you are safe, and I know you are. I woke up not because of I wanted to check on you but I need to do some works for the church. I am sorry I have disturbed your conversation with your fiancee.”

Hatiku tiba-tiba kosong. Sudah beberapa bulan ini Jonah bersikap sangat aneh. Dia tiba-tiba menjadi kasar dan sering sekali menghina. Berkali-kali aku bertanya apakah dia kembali dengan ibu anaknya di Afrika, apakah mereka kembali merajut tali cinta. Dan Jonah selalu menolak. Dia selalu berkata bahwa dia ada di sini dan aku tidak perlu mencemaskan apa pun. Bahwa semua kecemburuanku tidak berasalan. Toh selama 10 bulan dalam setahun dia berada di pelukanku dan bukan bersama perempuan yang jauh di Afrika. Berbulan pula aku selalu menanyakan hal yang sama, dan makin lama Jonah makin kasar menolak dan mengelak. Dan malam ini semua sudah terbongkar, dia memanggil seseorang dengan panggilan Cinta, sesuatu yang hanya dia lakukan untukku. Untuk semua mainan dan korbannya, Jonah akan memakai kata Sweety, Sweetheart, Honey tapi tidak Love. Dan malam ini dia menyebut seseorang sebagai tunangannya, mendiskusikan masalah yang dihadapi ibunya dengan perempuan itu. Aku belum sempat merasa marah atau kecewa, hanya dingin..

Lalu pesan masuk ke BBMku

“Hi Love, I am home now, please call me.”
“What do you mean? What fiancee?”

Mataku membelalak, apa?
“How many fiancee do you have?”

Dan Jonah meledak..

“You are full of shit. What do you mean by that? I have the right to do anything I want. You are not my wife. Do you think I can marry some old woman like you? You have slept with many of my friends, do you think I can marry you and introduce you as my wife? You must be totally crazy.”

“Who said I want you to marry me? A scammer like you? It would be a total shame to have you as my husband. I am a bitch? Well you bitch over there is worst than me. She is full of shit. All she knows is money money money and you are stupid to think that she loves you for real. Just becoz she has your son? Stupid man. I am a mother too and I never use my children for anything!!! So stop giving me those shits and crawl to your stupid woman. Obviously stupid man can only be a stupid 
woman”

“Hey You!! She is 10 times better than you. She is beautiful and intelligent. She is kind and a good Christian. And she loves me very much. I have done so many bad things but she stayed and waited. This is her prayer come true!! I love her, you stupid bitch!”

“Then go to her. What are you doing with me? Or do you think you can use me to reach what ever evil goal you have? Hey you, you said she is a good Christian? What kind of a woman allow her man to use women in order to bring money home? What kind of woman allow any body to give her son the devil money? You are both evil!!  And more over, you are more stupid than I thought!! Evil to the core!!!”

“Hey Fuck you!! You stupid bitch!! You are worst than a prostitute!! At least they fuck for money, you!! You are giving it for free!! All this time I am just put up with you coz I want to help you. I want to change your life. I want to put you in a different level.”

Lalu sepi.. Jonah rupanya tertidur.

Apakah aku menangis? Kata-kata kasar itu sudah dia ucapkan berkali-kali, sejak dia pulang dari negaranya dan kembali bersama ibu anaknya di sana. Sedikit saja aku berbuat salah, atau menunjukkan tuntutan, Jonah akan segera memborbadirku dengan kata-kata kasar yang hanya biasa aku dengar di film-film gangster. Aku sudah pernah meminta agar kita berhenti saja menjadi pasangan karena aku merasa tidak pantas mendapatkan perkataan seperti itu. Aku memang bukan perempuan suci, tapi bahkan pelacur pun tidak pantas mendapatkan cacian dan makian seperti itu. Aku perempuan mandiri yang selama 20 tahun hidupku, aku sudah berjuang untuk mengurus kedua anakku sendiri. Ya, aku pernah menikah selama 14 tahun, tapi di dalam pernikahan itu aku lah yang harus mengambil semua tanggung jawab di keluarga, baik secara finansial maupun mental. Aku tidak pantas mendengar semua itu..

Jonah selalu saja meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Selalu saja memeluk dan memohon agar aku memahami tekanan yang dia hadapi saat ini. Aku diam saja biasanya. Aku tahu betapa sulit hidup yang harus dia hadapi di kotaku ini. Sebagai orang asing yang pekerjaannya tidak tetap, dengan segunung kewajiban yang harus dia selesaikan, hidup tidaklah mudah bagi Jonahku tercinta ini. Dan biasanya aku mengalah..

Segera aku lupakan sms yang entah kesekian ribu aku terima selama beberapa bulan belakangan ini. Meski begitu, aku tidak bisa lagi menuliskan artikel-artikel yang seharusnya aku kerjakan untuk gereja hari ini. Hatiku begitu panas, kepalaku serasa hendak meledak.. Bagaimana mungkin dia menghinaku sementara dia yang tertangkap basah sudah berbohong. Begitu tidak berharganyakah aku? Aku memutuskan untuk membereskan rumah dan kemudian menyiapkan diri untuk gereja hari ini. Aku pilih baju oranye untuk menutupi kegalauan dan sakit hatiku, agar di mata orang, mereka melihat kebahagiaanku bertemu dan melayani Tuhan hari itu. Aku kenakan sandal tinggiku dan berdandan untuk memastikan semua sempurna.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang saat tiba-tiba BBMku berbunyi tanda ada pesan masuk:

“You Bitch! Get out my life...”

Dan aku pun meledak.. Aku kirimkan sms ke teleponnya karena kecepatan BBM kami melamban akibat sinyal yang memburuk di siang itu.

“Hey You! Stop insulting me!! Just go! If you keep on sendig me message, I will come to your house.”

Jonah dan aku memang tidak tinggal bersama. Namun biasanya dia akan datang ke rumah beberapa hari dalam seminggu untuk berbicara dengan anak-anak dan menghabiskan waktu sebagai sebuah keluarga, sesuatu yang sangat aku syukuri tadinya, tapi dia berubah.. semua berubah..

Dan Jonah terus melancarkan sms penuh dengan hinaan dan perkataan kotor. Memuji-muji perempuannya di Afrika, membandingkan dengan ketuaan dan kenaifanku dalam berhubungan. Termasuk ketidakmampuanku memberinya anak meski kami sudah tiga tahun bersama.

Darahku mendidih, aku ambil tas tanganku dan bergegas turun dari unitku di lantai 6. Sambil terus mengirimkan sms meminta Jonah untuk menghentikan hinaannya, aku menaiki ojek menuju ke rumah Jonah. Di jalan aku terus merasa bahwa aku akan terjatih, bahwa aku akan terluka, entah bagaimana. Apa aku akan terjatuh dari ojek ini, karena motor ini melaju cukup kencang. Entah kenapa tapi perasaan bahwa hari ini aku akan celaka begitu kuat.. dan aku terus mengirimkan sms demi sms membalas hinaan dan cacian Jonah. Emosi kami berdua makin tinggi, makin memuncak.

Unit Jonah terletak di lantai 9 sebuah apartemen yang cukup ramai di bagian barat kotaku. Jarak antara apartemenku dan apartemen dia tidak jauh, hanya dengan 20 ribu aku bisa tiba di sana dengan menggunakan ojek. Apartemen ini banyak dihuni oleh warga asing, hal ini yang membuat Jonah betah, tidak ada pertanyaan dan pandangan aneh yang biasa dia dapatkan jika berada di tempat umum. Para satpam di tempat ini sudah terbisa dengan tingkah polah pria Afrika yang berteriak-teriak keras saat mabuk atau membawa berganti-ganti perempuan ke rumah mereka. Mereka juga terbiasa melihat perempuan keluar menangis atau pun mabuk. Meski tidak terlalu mewah, tapi kenyamanan dan kesunyian ini menjadikannya sebuah tempat persembunyian yang sangat pas. Para Afrika selalu melakukan kegiatannya di dalam rumah, jarang kita bisa melihat mereka bergerombol di luar atau bergaul dengan para penghuni yang non Afrika lainnya.

Setibaku di apartemen Jonah, tidak seperti biasanya aku bisa naik tanpa perlu bantuannya membukakan pintu. Aku bergegas ke unitnya dan mulai menggedor pintunya. Aku bisa mendengar Jonah mondar mandir di balik pintu sambil terus berteriak-teriak memakiku. Dan aku terus menggedor. Siang itu, suasana sangat sepi dan senyap. Semua pintu tertutup dan tidak terdengar suara di baliknya. Dan hanya suara teriakanku dan gedoran tanganku ke pintu unit Jonah yang menggema.

“Open the door, you coward!! Face me! Say those nasty things in my face!! Don’t be like a sissy!!”

Jonah terus menyanyi-nyanyi keras di balik pintu Bak orang gila dan aku pun terus menggedor pintunya seperti orang gila.. Dan dua orang gila ini mengaku saling mencintai L
Akhirnya aku berteriak, “Forget about everything! Open the door, let me take my laptop that you used and also my phone!”

Tiba-tiba senyap..

Lalu terdengar Jonah membuka kunci pintu..

Aku bersiap untuk masuk dan mengambil barang-barang itu. Hatiku sudah sangat panas, kepalaku serasa terbakar.. Emosiku sudah tiba di puncaknya, semua gelap..

Jonah membuka pintu, dan aku pun melangkah masuk.

Tanpa aku sangka, dia mendorongku dengan sekuat tenaga.. Aku terhuyung ke belakang tapi tidak jatuh.

Kembali aku mencoba melangkah masuk.. ya, logikaku sudah hilang.. Tidak! Aku tidak akan mengalah! Cukup!!

Dan Jonah mendorongku lagi dengan sekuat tenaganya, dan aku roboh terjengkang..
Dalam jatuhku aku bisa mendengar suara “krek” di lututku, pertanda ada yang bergeser.

Tubuh besarku terjengkang dan menabrak dinding di belakangku.

Lututku terasa lemas, tak bertenaga, perlahan aku mencoba untuk duduk dan kemudian berdiri, namun setengah jalan aku duduk, Jonah melayangkan tinjunya tepat ke wajahku dan mendarat di bibir kananku dan darah pun muncrat.

Aku palingkan wajahku ke lantai dan melihat merahnya darahku, aku tercekat.. Aku hanya bisa menyebut nama Tuhan dan menutup kepalaku. Di atasku, lelaki yang aku cintai itu sibuk memaki, menendang dan menginjak pantat dan pahaku. Dan aku hanya diam...
Aku memegang sabuk hitam Karate, dan tahu bagaimana melawan dan membela diri, namun saat itu, di saat aku melihat darah yang disebabkan oleh tangan yang sangat aku puja keindahannya, segala ajaran itu sirna. Aku hanya merasakan sedih yang luar biasa, sakit yang tiada tara dan harga diriku jatuh, ke tempat paling rendah. Aku diinjak dan ditendang dengan penuh kemarahan oleh sosok yang sangat aku sayangi, sosok yang selama ini berkata akan melindungiku. Aku mendongak memandang wajah kekasihku itu dan meski aku tahu dia Afrika, berkulit hitam. Belum pernah aku melihatnya sehitam itu, matanya menyala merah...Aku bak melihat setan sendiri.. Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi? Bagaimana ini bisa terjadi padaku? Aku perempuan yang kuat, yang selalu berusaha mandiri. Aku menghormati semua makhluk, berusaha selalu baik meski banyak sudah melukaiku, kenapa KAU biarkan ini terjadi padaku? Apa salahku? Apa yang sudah salah aku lakukan? Tuhan, apalagi yang ingin KAU katakan padaku? Tuhan!!!!

Lalu beberapa tetangga Afrika kami keluar, mendorong kekasihku masuk ke dalam rumahnya,

“Are you crazy!! She is a mother! What are you doing!”

“You are all full of shit!! Where are you before!! She was knocking like crazy and none of you came out!!”

Seorang perempuan yang biasa membersihkan rumah Jonah memelukku dan tangisku pecah.

“Ibu, Ibu, apa yang terjadi? Kenapa ibu diam saja? Kenapa ibu diperlakukan seperti ini? Ibu kenapa tidak pergi? Oh Ibu, apa yang terjadi?” katanya berulang-ulang sambil menangis memelukku. Dan aku hanya bisa terisak. Hancur semuanya.. Harga diriku terkoyak dan robek.. Siapa aku? Apakah aku masih perempuan terhormat yang tahu bagaimana membela diri? Perempuan pintar dan cerdas yang tahu bagaimana melindungi dan merawat dirinya sendiri? Apakah aku masih ibu yang hebat dan kuat? Lihat diriku sekarang, rambut kusut masai, tubuh memar-memar penuh bekas injakan dan tendangan, bibirku robek dan penuh darah, lengan kiriku memar berat dan kaki kananku kehilangan tenaga sama sekali. Aku harus dibopong bahkan setengah digendong untuk dipindahkan dari tempat jatuhku. Sepanjang waktu mereka berusaha menenangkanku, takut aku memutuskan untuk memanggil polisi dan memberi saudaranya masalah. Dan selama itu aku hanya bisa menangis, bingung, takjub, terkejut dan tak bisa percaya hal ini bisa terjadi padaku.

Selama ini aku bekerja sebagai konselor perempuan dan anak yang teraniaya, selama itu pula meski aku penuh empati pada mereka tapi aku tidak bisa sepenuhnya paham. Aku selalu berkata mengapa mereka bisa begitu bodoh dan membiarkan hal seperti ini terjadi? I mean, mereka bukan perempuan lemah, mereka cukup mandiri, bisa menghasilkan uang sendiri dan mampu membuat keputusan cerdas sendiri tapi mengapa mereka jatuh dalam hubungan ini? Mengapa mereka membiarkan lelaki menyerang dan menghina sedemikian rupa? Apakah karena mereka tidak pernah belajar bela diri? Huh, berbeda denganku, aku tahu cara membela diri. Aku tahu cara melawan, aku tahu cara menghajar.. Aku bisa menjaga diri, aku takkan pernah membiarkan hal itu terjadi padaku.

Dan hari ini aku  disadarkan oleh Tuhan, betapa kesombonganku itu sangat keliru.. Oh Tuhan, KAU begitu baik..

Aku tiba-tiba sadar bahwa aku tidak punya hak untuk menghakimi siapa pun. Sebuah hubungan bukanlah perhitungan laba rugi dalam berusaha, tidak bisa kita logikakan semua keputusan di saat ada perasaan yang berbicara. Tidaklah semudah itu mengatakan para perempuan bahwa mereka sudah begitu bodoh, di saat ada perasaan yang terlibat. Mudah bagi kita untuk melihat jalan keluar saat kita tidak di dalam jeratan labirin masalah seperti yang sedang di alami teman atau saudara kita. Tugas kita bukan menyalahkan atau pun menghakimi karena labirin itu tampak mudah dari atas, namun bagi yang ada di dalamnya, perlu usaha ekstra keras dan bahkan sebagian besar mati putus asa saat mencoba keluar. Tidak juga aku bisa mengatakan bahwa mereka begitu karena tidak tahu cara membela diri, well, aku tahu.. Tapi sulit membalas pukulan di saat yang memukul adalah sosok yang sangat kau cintai dan kau hormati. Melihatnya memandangmu dengan penuh kebencian, memandangmu dengan jijik sembari mengayunkan tangan dan kakinya untuk menyakitimu, menghancurkan semua logika dan kepandaianmu, di saat itu kau hanya bisa berkata, “Ya Tuhan, lindungi aku. Ya Tuhan, peluk aku dalam lindungan-Mu. Aku pasrahkan hidupku pada-Mu, Tuhan.”

Aku yang semula begitu bangga dengan kemampuanku membela diri, tiba-tiba di tempatkan di posisi terendah, posisi di mana aku harus mengakui bahwa aku bukan siapa-siapa. Segala pengetahun dan kepintaranku tidak berarti apa-apa. Tidak pantas bagiku untuk menepuk dada dan mengklaimnya sebagai kehebatanku. Aku selamat, aku baik-baik saja, aku bisa mencapai semua ini bukan karena kekuatanku tapi karena kebaikan TUHAN. Aku bisa menjadi seperti diriku ini, bisa berada di tempatku ini, bisa menjadi ibu seperti ini, menjadi pasangan seperti ini, bukan karena kekuatanku, bukan karena kepandaianku, bukan karena otakku tapi semata karena TUHAN. Karena DIA melindungiku, DIA menuntunku. Dan DIA menunjukkan bahwa sekali DIA melepaskan perlindungan-Nya, maka aku akan jatuh ke dalam luka, dan duka..

Tuhan, ampuni kesombonganku.. Aku mengerti dan aku bersyukur..

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar