Senin, 29 Desember 2014

Kelukaan 1

Udara di dalam kamar ukuran 3X5 ku terasa dingin. AC di ujung ruangan berhembus kencang. Apartemen dua kamarku ini memang hanya menggunakan satu AC jadi meski kedinginan, aku tidak bisa mematikan AC karena anak-anak di kamar sebelah akan kepanasan. Aku tarik lagi selimutku sembari meniupkan kecupan selamat malam ke kekasihku yang berbaring lelah di kamarnya sendiri. “I love you, Baby.. Have a nice rest..”

Waktu sudah menunjukkan pukul 5.45 pagi, namun aku tidak ada janji apa pun di pagi Natal ini, setelah kemarin seharian berkutat dengan persiapan misa malam natal di gereja, kurasa hari ini aku bisa agak bermalas-malasan sedikit. Aku tarik lagi selimutku dan bersiap kembali berenang ke alam mimpi.. tiba-tiba Bbku berbunyi, tanda ada BBM masuk. Hmm siapakah yang mengirimkan pesan sepagi ini? Biasanya Pendetaku yang mengirimkan BBM untuk memberitahukan sesuatu. Dengan malas aku ambil BB-ku dan membuka pesan di dalamnya.

Oh ternyata dari perempuan yang pernah menjadi pacar gelap Jonah.

“Apa kabar, Kak? Selamat Natal.”

“Hi, Dik. Terima kasih, selamat natal untukmu juga.”

“Aduh, aku suka pp (picture profile) kakak, cantik..”

“Awww, terima kasih.”

“Kak, aku sudah baca kisah kakak di blog dan aku jadi  malu dan menyesal. Aku mau minta maaf. Kakak sungguh baik dan penuh kasih dengan Jonah, aku merasa sangat bersalah.”

“Oh, terima kasih tapi itu kan sudah berlalu, aku gak tahu apa aku pantas mendapatkan maafmu.”

“Kakak, dia beruntung bertemu dan mendapatkan cinta kakak. Kakak sangat baik dan penuh perhatian. Kakak benar-benar mencintai dia. Kak, boleh aku cerita?”

“Tentu, Dik. Silakan.”

“Aku sebenarnya gak mau cerita tapi aku terharu membaca kisah kakak dengan dia. Aku gak tahu apa kisahku ini lebih sedih dibanding kisah kakak. Tapi aku cuma ingin cerita.”

“Silakan Dik, biar jadi lega.”

“Kakak, kapan kakak ketemu Jonah?”

“Tiga tahun lalu, sekitar tahun 2005 bulan November. Tapi kami baru pacaran Januari 2006. Kenapa?”

“Tuhan, berarti saat denganku, dia sudah mengenal kakak (hmm pernyataan yang aneh, bukankah itu sudah kita ketahui berdua?). Maafkan aku ya Kak, sebenarnya saat aku mencoba menghubungi kakak dulu, aku sedang dalam keadaan hamil 4 bulan. Setiap kali aku memeriksa ponsel dia, aku sangat terluka melihat foto kakak sementara fotoku sama sekali tidak ada. Dia menuliskan nama kakak dengan nama My Love sementara nomorku disimpan dengan nama lelaki.”

“Setiap kami bertengkar, dia selalu memuji-muji Kakak dan menyebut kakak sebagai perempuan yang baik dan bisa dia percaya. Kakak, aku memang hanya pelacur di bar jalanan tapi aku juga punya harga diri. Aku sangat mencintai Jonah dan menganggapnya lelaki yang baik, yang sangat perhatian dengan ketiga anak dari pernikahanku dulu. Dan aku sedang hamil anaknya. Tega sekali dia memuji perempuan lain dan menyebutnya sebagai perempuan terbaik. Siapakah aku di hadapannya? Hanya pelacur bayaran? Sumpah aku tidak pernah menerima uang dia, Kak. Hanya sesekali jika ada uang, Jonah akan memberiku sedikit uang untuk membeli susu dan membayar uang sekolah anak-anak.”

“Semua temannya tahu aku kekasihnya, Kak. Setiap dia datang ke bar tempatku bekerja, dia selalu mengumumkan bahwa aku kekasihnya sehingga tidak ada lelaki sebangsanya yang berani menyentuh atau menggangguku. Aku merasa bangga, Kak.”

“Karena itu dulu aku memberanikan diri untuk menghubungi Kakak. Aku ingin Kakak tahu tentang kami dan meninggalkan kami berdua. Sudah lama aku mengambil nomor telepon kakak dari ponsel Jonah tapi aku tidak berani menghubungi Kakak. Aku hanya menyimpannya saja.”

Nafasku sesak. Hatiku tercekat. Mengapa perempuan ini tiba-tiba ingin membagikan kisahnya denganku? Apa yang sedang dia rasakan? Apa yang dia bayangkan? Jika dia berteriak tentang kesakitan dan kelukaan, tidakkah dia juga memahami bahwa aku pun mengalami sakit yang sama? Bahwa di saat yang bersamaan, dulu, aku harus menelan pil pahit menyadari bahwa lelaki yang aku hormati telah menduakanku dengan perempuan yang bahkan tidak berada di kedudukanku sekarang. Dan aku diam saja, terus menyebut nama TUHAN dan membiarkan perempuan ini mengeluarkan uneg-unegnya.

“Akhirnya aku memberanikan diri untuk menghubungi kakak lewat whatsapp tapi Kakak tidak merespon. Saat akhirnya kakak merespon, aku sangat takut dan malu karena Kakak berbicara denganku dengan penuh kelembutan. Kakak tidak memaki atau mengancamku. Kakak memberiku wejangan dan memberiku tuntunan. Kakak begitu santun dan begitu lembut, begitu sangat mencintai Jonah. Dan aku merasa sangat malu.”

“Satu jam setelah kita bertukar kata di WA, Jonah meneleponku dengan sangat marah. Dia bertanya kenapa aku menghubungi Kakak, istrinya. Dia mengatakan bahwa apa pun yang terjadi, dia tidak akan meninggalkan Kakak. Karena hanya Kakak yang dia percayai di negara ini dan bodoh apa bila dia meninggalkan Kakak demi perempuan seperti aku. Duh, rasanya runtuh duniaku, Kak.”

“Akhirnya aku memutuskan untuk menggugurkan kandunganku. Aku tidak mau mempertahankan anak di saat hubungan kami ternyata tidak punya masa depan. Aku tidak mau harus menanggung anak lagi, anakku sendiri sudah banyak, Kak. Aku menggugurkannya secara diam-diam tapi salah satu temanku memberitahu Jonah tentang hal ini dan Jonah sangat amat marah. Dia mendatangiku, memaki dan memukulku. Sambil marah dia melemparkan uang 3 juta ke mukaku dan memintaku untuk tidak pernah menghubunginya lagi karena aku telah membunuh anaknya. Tiga juta! Mana cukup, Kak! Dana pengguguran kandunganku yang sudah 4 bulan mencapai 10 juta! Ah biarlah.”

Aku makin tercekat.. Tuhanku, sampai hari ini aku terus berdoa agar Engkau menganugerahiku seorang anak, agar bisa kupersembahkan kepada-Mu. Agar bisa kuajarkan untuk setiap hari bermasmur bagi-Mu dan perempuan ini membunuh anaknya hanya karena cemburu..

“Kenapa kau gugurkan? Andaikan saat itu kau teruskan kehamilanmu lalu kau serahkan kepada kami, aku akan dengan senang hati memeliharanya. Dia adalah anak dari lelaki yang sangat aku cintai, dan karenanya dia juga adalah anakku. Jonah pernah bertanya, seandainya dia berbuat kesalahan dan membuat perempuan lain hamil, apakah aku sanggup mengurus anaknya? Dan aku sudah berkata, ya. Bagiku anak adalah anak dan aku sangat bahagia menjadi ibu.”

“Benarkah, Kak? Oh sunggung mulia hatimu. Anak itu lelaki, Kak. Setiap aku datang ke kuburannya aku menangis dan memohon ampun. Aku beri nama Jonah, Kak, seperti nama ayahnya.”

“Dik, ini bukan tentang Jonah. Kau telah melakukan sesuatu yang sangat salah. Kembalilah ke TUHAN dan mohon ampunan. Lepaskan marahmu dan maafkan kesalahan Jonah agar TUHAN bisa memaafkan kesalahanmu. Anakmu tidak berdosa dan dia tidak minta dijadikan, tapi kau telah membuatnya menanggung deritamu. Kau jadikan dia tumbal untuk menyakiti ayahnya meski dia tidak menganggung salah itu. Mohon ampunlah, Dik.”

“Entah apa aku bisa, Kak. Maaf aku jadi curhat.”

“Tiada hal kebetulan di dunia ini. TUHAN memang ingin aku mendengar ini. TUHAN ingin aku memahami siapa lelaki yang aku cintai juga TUHAN ingin aku membantumu bernapas lega. Aku cuma berharap kau bisa lebih bijak dan kembali ke TUHAN.”

Sepanjang pagi aku cuma bisa terdiam. Semua cerita perempuan itu benar-benar menyesakkan dadaku. Perutku bergolak. Entah apa yang harus aku lakukan. Marahkah aku? Entahlah.

Jonah sering menyebutkan perempuan naif, perempuan rumahan yang tidak tahu kehidupan di jalan. Dia sering menasihatiku untuk tidak terlalu baik, untuk tidak selalu menganggap manusia baik karena tidak demikian adanya. Aku sering tidak bisa memahami kecurigaan Jonah pada apa pun yang terjadi di hidupnya. Tidak ada satu orang pun yang bisa mendapatkan kepercayaannya, baginya semua orang berpotensi berkhianat. Tidak terkecuali!!

Dan kali ini aku harus mengakui bahwa Jonah benar. Bukan, bukan bahwa semua orang tidak baik, tapi bahwa aku memang naif...

Aku sama sekali tidak menduga ada ibu yang tega membunuh anaknya hanya karena cemburu. Aku tahu sejak awal Jonah tidak akan mungkin menjanjikan sebuah pernikahan, tidak akan mungkin menjanjikan sebuah hubungan jangka panjang.. Lalu mengapa dia harus cemburu? Kenapa marah? Kenapa mengancam dan akhirnya membunuh? Bukankah selama mereka bersama, aku tidak pernah menyentuh mereka? Bukankah Jonah tidak pernah meminta dia untuk menggugurkan kandungannya?

Jika dia memang ingin mempertahankan Jonah, seharusnya dia tahu, pria Afrika tidak akan pernah meninggalkan anak-anak mereka. Dan perempuan yang memberikan anak selalu akan mendapat tempat istimewa. Itu sebabnya banyak perempuan Indonesia, terutama para pekerja seksual yang merelakan dirinya hamil. Dengan begitu dia akan menjadi peliharaan tetap para pria Afrika ini. Mereka tidak perlu lagi menjajakan tubuh dan akan mendapatkan uang jajan lumayan tiap bulannya. Juga dana untuk diberikan pada keluarga mereka di kampung. Mereka juga bisa ikut merasakan kehidupan “mewah” tiap malam, duduk di bar, minum bir dan memakai baju-baju bagus dengan biaya pria pemeliharanya ini. Sayangnya, banyak dari perempuan ini yang harus membayar mahal “kemewahan” ini. Sebagian besar dari mereka menjadi “tahanan rumah” sementara si lelaki meneruskan kebiasaan mereka untuk berburu perempuan.

Ketakutan akan kehilangan sumber penghasilan sering kali membuat perempuan-perempuan ini nekad. Mereka cenderung menjadi kasar pada perempuan lain yang mereka anggap ancaman. Tidak peduli siapa perempuan itu. Bahasa mereka hanya satu.. UANG. Ini sumber pendapatanku dan keluargaku, berani kau menyentuhnya, aku akan menghabisimu.. dan aku menghela napas sedih..

Tangisku perlahan turun..

Aku tidak tahu mengapa perempuan ini memutuskan untuk menceritakan kisah yang terjadi dua tahun lalu ini padaku. Sama sekali aku tidak bisa memikirkan alasan dibaliknya. Terutama saat dia tahu bahwa aku tahu tentang hubungan mereka berdua dan memutuskan untuk diam, tidak memukul (meminjam istilah perempuan ini). Tidak cukupkah baginya aku diam dan terluka, ataukah menurutnya aku tidak punya hak untuk menangis karena penderitaannya lebih dalam dari penderitaanku? Apakah tidak terpikir padanya betapa hancur hatiku mendengar kisah ini. Betapa sakit hatiku mendengar bagaimana kekasihku berbagi tubuhnya dengan perempuan lain, perempuan yang bahkan menjajakan tubuhnya untuk mencari makan. Aku tidak pernah punya masalah dengan para pekerja seksual dan menghormati mereka selayaknya manusia, tapi apakah kemudian membuatku pantas untuk dihina dan dinirmanusiakan?

Perutku mendadak mual, seperti biasa jika ada sesuatu yang menggangguku, penyakit magku langsung kambuh. Aku mual dan pusing berat. Badanku terasa ringan.. air mataku tidak berhenti turun. Aku gagal paham..

Sejak lama aku selalu curiga Jonah membawa perempuan itu ke kamar kami. Aku tahu perempuan ini masih terus mengubungi kekasihku untuk meminta uang. Aku tahu mereka masih berhubungan bahkan sampai tahun lalu. Tapi aku diam saja. Aku tahu aku tidak bisa berebut lelaki, bagiku semua manusia memiliki hak yang sama untuk bahagia. Aku tidak punya hak untuk berteriak dan memutuskan kebahagiaan perempuan lain. Aku tidak bisa berteriak dan menganggap diriku lebih pantas menerima kebahagiaan. Aku seperti perempuan lain tentu ingin menjadi yang utama, yang pertama, satu-satunya... Tapi hidup memang tidak sempurna, hidup memang tidak selalu seperti yang kita inginkan. Aku sudah diam saja. Aku biarkan alam yang bekerja, apabila memang perempuan itu lebih penting di mata Jonah, maka alam akan membawaku pergi, apabila aku lebih berharga di mata Jonah maka alam juga akan membawanya pergi. Tidak perlu aku turut campur, menyelidik, menerjang dan menyerang seperti yang dilakukan banyak perempuan di sekitar pria Afrika. Aku tidak membutuhkan bantuan finansial, bukan karena aku kaya tapi karena aku tahu aku mampu, aku tahu TUHAN akan selalu melindungi dan mencukupiku. Aku tidak perlu bergantung pada satu pria untuk itu. Dua anakku akan lebih berharga dan bermartabat apabila ibunya menggunakan dua tangannya dengan baik untuk mencari penghidupan yang disukai TUHAN. Dan aku sudah bekerja keras untuk itu. Aku tidak perlu takut ditinggalkan karena aku tahu TUHAN tidak akan pernah membiarkanku sendirian. Aku tahu aku bisa hidup sendiri dan cukup mampu untuk mandiri. Jadi tidak perlu bagiku untuk menyerang dan mempertahankan pelindungku. Tapi juga tidak membuatku merasa angkuh dan bisa melangkah pergi. Aku melakukannya dulu, pada mantan suamiku, pada kekasih-kekasihku dulu. Tapi sekarang tidak.Aku tidak menyerang tapi juga tidak pergi. Aku hanya diam dan belajar menyerahkan semua ke tangan TUHAN. Menyibukkan diriku lebih ke hal-hal yang aku tahu membangun diriku dan tidak menjadikan hubungaku sebagai pusat kehidupanku. Dan segalanya jadi lebih mudah. Aku tidak pergi, aku ada dan terus memberi tanpa aku tahu apa akhirnya nanti. Aku mencintai Jonah dan melayaninya selayaknya lelaki yang aku hormati dan aku cintai. Oh TUHAN, apa yang sedang terjadi.. hadiah Natal apa yang sedang KAU berikan  padaku?

Perempuan itu juga menyebutkan beberapa hadiah yang diberikan Jonah selama mereka bersama, salah satunya Blackberry yang dulu dia pakai. Dia juga mengaku menerima uang dari Jonah yang katanya untuk membiayai hidup anak-anaknya. Oh TUHAN, apa sebenarnya yang diinginkan perempuan ini? Untuk apa dia menyebutkan bahwa sampai beberapa bulan lalu pun Jonah masih menghubunginya dan memberi uang untuk anak-anaknya. Perempuan itu sempat bertanya mengapa aku tidak mau menikah saja dengan Jonah. Aku katakan bahwa pekerjaan yang dia kerjakan kini tidak bisa aku terima sebagai pekerjaan suamiku. Aku tidak bisa membiarkan anak-anakku dibiayai dengan uang yang tidak diperoleh dari jalan TUHAN. Aku tidak akan mampu menahan duka dan derita yang aku tahu akan terus aku rasakan selama dia masih di dalam permainan ini. Selama itu dia akan terus terlibat dengan perempuan dan alkohol, dua hal yang menjadi mimpi buruk bagi pernikahan mana pun. Aku nyatakan bahwa sampai hari ini aku hanya bisa berdoa, menanti TUHAN menjamah hati kekasihku dan membawanya ke perubahan. Aku tidak akan mampu mengubahnya, tidak akan mampu menyediakan jalan baginya untuk keluar. Jonah sudah sangat lama berada di permainan ini, dan sudah begitu nyaman dengan permainan ini, perlu kekuatan dan kemauan yang luar biasa kuat baginya untuk bisa keluar. Dan dalam semua kasus, keinginan ini selalu terdesak oleh kebutuhan keluarga mereka di Afrika. Kebutuhan yang tidak akan mungkin bisa dipenuhi dengan melakukan pekerjaan yang “normal”.

“Ah, Kakak. Jangan begitu dong, kan aku menerima uang dari dia, juga HP.”

“Ah aku kan sedang berbicara tentang diriku, Dik, bukan dirimu. Apa yang kau anggap baik, lakukan lah dan aku tahu Jonah akan dengan senang hati membagikan berkatnya apalagi untuk ibu dan anak-anak. Aku paham benar sifat kekasihku yang satu ini. Terimalah uang itu dan gunakanlah untuk kebaikan anak-anakmu.”


Aku bergerak gelisah di atas tempat tidurku. Perutku sakit tiada terkira, hatiku perih, otakku terbakar karena gagal melogikakan apa yang baru aku baca. Di mana garis merahnya? Apa yang sedang terjadi? Pesan apa yang hendak disampaikan perempuan ini? Apa yang seharusnya aku rasakan? Marahkah pada Jonah? Atau pada perempuan ini? Atau pada diriku sendiri? Aku yang sudah tua namun selalu berada di kenyamanan rumah sungguh tidak mampu memahami apa yang sedang terjadi. Hanya mulutku yang terus menyebut nama TUHAN, telingaku terus mendengarkan lagu-lagu pujian, mataku terus mengalirkan air mata..  Oh TUHAN, beri aku kekuatan, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku rasakan?

Aku memutuskan untuk membagikan keterkejutanku ini dengan istri pendetaku, aku berharap meski usianya masih jauh lebih muda dariku tapi pemahamannya akan Alkitab bisa memberinya lebih kebijakan dan mau memberiku kesejukan.

“Leona, kau sudah bangun?”

“Sudah, Kak. Kakak baik-baik saja?”

“Leona, ingat pelacur yang pernah aku ceritakan dulu? Yang pernah menjadi simpanan Jonah?”

“Ya, Kak? Kenapa dia?”

“Dia baru bercerita kalau dia pernah hamil dengan Jonah dan digugurkan di usia 4 bulan.”

Dengan singkat sambil mataku dipenuhi air mata aku menceritakan ulang semua yang dikatakan perempuan itu. Sulit sekali buatku menekan tuts BB saat mataku dipenuhi air mata dan dadaku sesak tidak terkira.

“Kak, untuk apa perempuan itu menceritakan semua ini padamu? Toh itu sudah terjadi begitu lama? Mengapa dia memutuskan untuk menggugurkan kandungannya sementara Jonah tidak pernah memintanya melakukan itu? Maaf, Kak, aku sangsi dengan kisahnya. Setahuku Jonah lelaki yang sangat berhati-hati dan tidak sembrono. Membiarkan perempuan pelacur mengandung anaknya saja sudah mengejutkan buatku, apalagi membiarkan perempuan itu membunuhnya. Kakak, kau gak usah sedih. Kalau pun cerita dia benar, itu sudah lama berlalu dan kakak sudah melewati begitu banyak kisah dengan dia. Kakak sudah bertahan sejauh ini. Jangan dengarkan perkataan dia.”

Aku terus menangis..


(bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar