Selasa, 30 Desember 2014

Ah Kamu..

Setelah tiga bulan menunda pertemuan dengan Jonah, akhirnya aku kehabisan alasan untuk menolak. Disamping itu ada rasa penasaran untuk melihat lelaki yang sudah setahun ini menjadi salah satu teman chattingku di FB ini. Perbincangan kita selalu menarik. Pengetahuannya luas dan dia tampak seperti pria yang senang membaca, kualitas yang jarang aku temui di diri para pria Afrika ini. Hanya foto yang beberapa hari ini dia kirimkan lewat MMS tidak begitu meyakinkan.

Berbicara dengan seseorang selama setahun tanpa sekali pun melihat wajahnya di kamera membuatmu perlahan menciptakan citra wajah yang kau inginkan. Lewat foto yang mereka pasang di FB, dengan sedikit keterangan hidup yang mereka paparkan, kita mulai menciptakan sosok yang sesuai dengan gambaran benak kita. Dan itu lah yang selalu digunakan oleh para pria Afrika dalam mencari target sasaran mereka. Apabila cara beroperasi mereka adalah dengan menggunakan kekuatan sosial media, maka mereka akan memasang foto pria tampan mapan berkulit putih. Mengapa kulit putih? Karena orang Asia entah mengapa secara budaya lebih mempercayai pria atau pun wanita berkulit putih. Ada harapan masa depan yang indah dan cerah apabila ada pria kaukasia mendekati perempuan kita. Terbayang indahnya kehidupan di Eropa atau Amerika, bahagianya hidup dalam dekapan romantisme pria kulit putih seperti yang sering kita tonton di film-film Hollywood. Anak-anak turun kita yang pasti akan cantik dan tampan luar biasa, seperti anak-anak indo yang kita tonton di TV, yang sukses menjadi bintang di semua yang hendak mereka lakukan. Mimpi, itu yang mereka permainkan. Emosi, itu yang mereka andalkan. Para lelaki ini bak binatang pemangsa yang sangat pandai mengendus kelemahan targetnya. Hanya dengan memandang foto kita saja, mereka bisa menceritakan dengan gamblang apa yang ada dalam kehidupan kita, apakah kita bisa mereka jadikan target dan kemudian memberikan banyak uang untuk mereka. Dalam marahnya di kemudian hari, Jonah sering berkata bahwa semua yang mereka lakukan adalah bentuk balas dendam atas kejahatan yang sudah dilakukan oleh dunia pada benua mereka. Keserakahan yang mendorong dunia mengeksploitasi benuanya, merusak manusia di dalamnya dan juga alam sekitarnya. Karena itulah, kami punya hak untuk bergerak dan membalas, memanfaatkan kalian untuk kehidupan kami sendiri.

Dalam kesempatan lain, seorang pria Afrika berkata bahwa mereka terpaksa melakukan semua ini karena rasialisme yang masih begitu kental di Asia. Tidak ada pekerjaan untuk mereka di Asia ini. Kebanyakan dari mereka yang keluar dari Afrika bukanlah orang-orang terpelajar, mereka keluar mencari penghidupan, mencari pekerjaan yang bisa mereka lakukan untuk menghidupi keluarganya di rumah. Tapi di Asia tidak ada pekerjaan. Orang Asia selalu jijik memandang mereka. Seolah mereka barang kotor yang tidak berguna.

“So please don’t blame my brothers, Sweety. They are just doing what they can do to survive. We spent quite a lot of money to come all the way here. We have to go back with something. So please don’t curse them.” Demikian katanya padaku.

Semula aku meyakini alasan kedua, memang benar, aku menyaksikan sendiri bagaimana bangsaku memperlakukan para kulit hitam ini. Mulai dari cara mereka membicarakannya, memandang dan bahkan memperlakukan mereka. Sering kali aku malu dengan apa yang aku lihat. Bangsaku terkenal sebagai bangsa yang ramah, bangsa yang penuh sopan santun tapi rupanya hanya kepada kulit tertentu saja. Aku masih ingat betapa sulit masa kecilku, yang selalu dibully dan dihina hanya karena kulitku yang tergolong hitam untuk kebanyakan perempuan jawa. Aku juga masih ingat bagaimana mantan mertuaku selalu berkata bahwa aku beruntung memiliki suami yang berkuit putih, sehingga anak-anakku tidak hitam seperti ibunya, perbaikan keturunan itu istilah yang sering kita gunakan. Seolah anak yang hitam bukanlah keturunan yang baik, seolah anak yang berkulit terang adalah segala kebaikan.

Dalam kehidupan masa dewasaku pun aku menemukan begitu banyak kisah memilukan perlakukan bangsa kita terhadap saudara-saudara yang berbeda warna ini. Salah satu teman Afrika-ku pernah bercerita bagaimana dia berenang di sebuah hotel bintang lima di Jakarta, dan semua orang di sana menyingkir karena melihatnya masuk ke air. Betapa mata selalu memandang ke arah mereka, dan bahkan sering kali Jonah disentuh kulitnya dan digosok karena orang mengira hitamnya adalah daki yang begitu tebal karena mereka begitu jorok. Secara bercanda teman-temankku sering berkata, “Aku gak keberatan dengan kulit hitam, asal setampan Will Smith atau sehebat Denzel Washington.” Sering kali aku berkerut mendengarnya, bagaimana mungkin kalian memberikan syarat pada manusia. Tidak keberatankah kalian apabila mereka juga memberikan standar yang sama pada diri kita? Bahwa mereka hanya mau berbicara dengan kita asal kita secantik Siti Nurhaliza? Berapa banyak dari kita yang seberuntung itu? Yang  berwajah cantik dan berotak hebat? Meski sering kali aku dibuat kagum dengan kepintaran, kecerdasan dan kemampuan adaptasi teman-teman Afrika ini.

Namun makin aku menyelami apa yang terjadi, makin aku menyadari bahwa Jonah benar. Ini bukan tentang tidak ada pilihan. Dalam hidup pilihan selalu ada. TUHAN selalu menyediakan pilihan itu untuk semua umat-NYA. Mereka sudah membuat pilihan, mereka merasa menjadi korban besar rasialisme dan karenanya beranggapan bahwa mereka berhak melakukan apa pun. Ini khas psikologi seorang korban. Meski mereka tampak garang dan kuat, tapi jauh di dalam hatinya mereka hanya jiwa-jiwa rapuh yang marah.

Kembali ke gambar emosional kita tentang pria yang kita ajak chatting di FB. Banyak dari perempuan Indonesia yang menjadi korban penipuan cinta para pria Afrika ini. Dengan menggunakan rayuan yang bahkan bukan tingkat Don Juan, tidak perlu, para perempuan kita haus akan perhatian, kurasa aku sudah menyebutkan itu di depan. Dari sana impian kita dijalin, gambar emosional kita diperkuat. Impian dan harapan, kerinduan kita akan sosok yang secara logika tidak akan mungkin kita dapatkan di dunia nyata makin memperkuat keyakinan semu kita akan sosok ini. TUHAN sudah menjawab doa kita.. Akhirnya, kita dipertemukan oleh sosok yang sudah lama kita impikan. Duka dan derita kita selama ini akan segera terbayarkan. Kenapa kita? Karena kita berhak mendapatkan kebahagiaan, karena kita sudah berbuat baik, karena kita sudah begitu pasrah, karena kita sudah bersabar, tidak seperti perempuan lain, tidak seperti orang lain. Keserakahan dan sikap korban kita akhirnya mendorong kita untuk  masuk ke dalam perangkapnya, para pria ini mengendus impian kita. Mereka sudah punya pola dan cara, persis seperti bagaimana para pelatih MLM (Multi Level Marketing) mengajarkan langkah-langkah sukses mendapatkan klien, demikian pula para penjerat cinta dan uang di dunia maya ini. Ada langkah-langkah standar yang harus mereka ikuti guna menjerat perempuan-perempuan kesepian di dunia maya ini. Dan bak penjual dari pintu ke pintu, dari begitu banyak perempuan yang mereka jerat, pasti ada satu atau dua orang yang terjerat dan memberikan penghasilan untuk mereka.

Kembali ke Jonah, wajah dan suaranya sudah begitu melekat di benakku dan menimbulkan gambar emosional tertentu namun foto yang dia kirimkan kurang meyakinkan. Ada sedikit kecewa melihatnya tapi seperti paparanku sebelumnya, gambar emosional itu begitu kuat. Aku yakin Jonah tampak seperti yang aku bayangkan, lelaki cerdas dan lembut. Lucu, jenaka dan tampan luar biasa.. Mirip-mirip Will Smith lah J Itu membuatku makin penasaran tapi aku juga tidak ingin terkesan terlalu bersemangat, tidak, bukan begitu caranya, Jonah harus juga ingin bahkan lebih ingin dariku untuk menemuiku, Jonah harus lebih penasaran, harus lebih ingin.. kurasa tiga bulan sudah cukup..

Untuk kesekian kalinya Jonah menghubungiku lewat telepon menanyakan waktuku untuk bertemu.

Jonah               : Hi Baby, what’s up? How are you this morning?

Me                   : Hi, Jonah. I am fine. How are you today?

Jonah               : I am fine, Baby. I just got back from Bangkok and been looking forward to meet you. When do you have time to see me, Baby? I know you are busy, but maybe we can just sit and have our self a cup of coffee.

Me                  : Ha ha, Jonah, you are right. I don’t want to sounds like I am playing hard to get. I do have small gap of time this afternoon. I will be at Sarinah area to wait for my next meeting time. For that I will have about 2 hours time to spend. Is that ok with you?

Jonah               : What time to be exact?

Me                  : Around 5pm? I will have another meeting by 7pm at one hotel near that area so maybe we can meet at Starbuck?

Jonah               : That will be perfect, Baby. I am so exited to meet you after a long time. I be there by 5pm. Have a nice day, Baby.

Me                  : You too, Jonah. I am looking forward to meet you too.

...

Jam menunjukkan pukul 5 sore tepat saat sesosok pria kulit hitam masuk ke Starbuck tempatku duduk. Lelaki ini tampak sangat rapi, dengan baju dan celana kain hitam, lengan panjangnya ditekuk sampai ke lengan. Sepatunya tampak tersemir rapi, rambut dipotong hampir gundul, mata ramah dan wajah tenang, dia berjalan dengan perlahan dan penuh percaya diri ke dalam ruangan yang segera menoleh dan memandang sosoknya dengan penuh rasa ingin tahu. Wow, ini Jonah yang sudah lama aku banyangkan, dan lelaki ini jauh lebih tampan dari apa yang ada dalam bayanganku. Dia tepat waktu! Ini juga sesuatu yang baru bagiku, biasanya pria Afrika akan terlambat setidaknya 1 jam dari waktu yang dijanjikan. Tidak ada pria Afrika yang pernah datang tepat waktu seperti ini.

Hmmmm...

Jonah menjabat tanganku dengan hangat namun percaya diri. Ada sorot ragu di matanya yang terpancar hangat dan ramah. Mata Jonah menyiratkan lelaki yang lembut dan inosen. Badannya tegap, tidak gemuk namun juga tidak kurus. Dia memandangku dengan lembut dan suaranya terdengar utuh, persis seperti suara penyanyi R&B yang sering kita dengar di TV, sosoknya sangat tinggi bagiku, dengan sepati but hak 9 cmku aku hanya sampai ke dadanya. Oh Tuhan, lelaki ini sangat tampan.. Jantungku berdetak keras, mataku berbinar menandakan kebahagiaan dan kekaguman. Meski aku menjabat tangannya dengan lembut dan tenang tapi hatiku melompat-lompat gembira.. Aku menemukannya!! Lelaki idamanku berdiri tepat di depanku!!!

Kami duduk berhadapan, Jonah menawarkan untuk membelikanku segelas kopi. Hmmmm, nilai dua untuk lelaki ini. Kebanyakan lelaki Afrika tidak akan mau mengeluarkan uang untuk pertemuan pertama, kecuali jika pertemuan itu sudah dipastikan akan berakhir di tempat tidur atau apabila perempuan yang dia temui adalah calon korban untuk bisnis mereka. Yang pertama sudah jelas, membelikan makan dan minum adalah termasuk paket untuk kesenangan seksual. Toh seksnya sudah gratis, tidak masalah mengeluarkan sedikit uang untuk makan malam dan taksi juga hotel. Yang kedua, sangat penting untuk menunjukkan pada calon korban bahwa kau pria berduit. Karena seorang investor pasti punya banyak duit dan akan sangat aneh apabila sang investor bahkan tidak mampu membayar kopi di starbuck.

Lelaki ini kurasa tidak melihatku sebagai calon korban, karena sejak awal dia tahu aku bukan perempuan kaya. Aku juga menutup jaringan teman-temanku di FB agar lelaki ini tidak tahu teman-teman seperti apa yang aku miliki di sana. Baginya aku hanya aku, perempuan sederhana yang hidup dari gaji ke gaji. Atau mungkin semula dia berharap dia menemukan calon korban, tapi melihat penampilan sederhanaku dia kecewa, mungkin itu kenapa tatapan matanya tampak terkejut dan ragu. Bagaimana pun, sikapnya yang menawarkan membayar kopiku adalah nilai tersendiri bagiku.

Selama dua jam perbincangan kami berjalan dengan lancar. Jonah terus memandangku dengan lekat. Tangannya disimpan dengan sopan di atas kedua kakinya. Dia duduk tegap, berbicara dengan bahasa Inggris yang jelas dan suara yang tegas. Kami berbicara tentang banyak hal. Tentang perjalanannya ke Bangkok, tentang pengalamannya datang ke Indonesia untuk kali pertama, tentang kesannya tentang negaraku ini, tentang semua kecuali seks. Itu normal katamu? Sebenarnya tidak, pengalamanku berinteraksi dengan Afrika, mereka akan merasa sudah begitu akrab dengan kita hanya karena kita sudah chatting selama beberapa waktu. Beberapa waktu itu bahkan bukan hitungan bulan tapi kali... Mereka begitu yakin akan kemampuan mereka di atas ranjang, sehingga sangat penting untuk membuat perempuan ini merasakannya. Dalam bahasa  mereka, “Baby, the moment you feel me and I feel you, it is a token of intimacy. It is like a declaration of love between you and I.” Ha ha ha..

Tapi lelaki ini berbeda, dia terus memandangku lekat-lekat. Ada sorotan heran dan ragu di matanya, tapi dia terus menatapku lekat. Membuat wajahku memerah. Aku yang sudah terbiasa dengan bujuk rayu para lelaki penggoda berkulit hitam ini merasa jengah dengan kecerdasan, ketampanan dan pandangan matanya yang lembut menusuk. Dua jam berlalu dengan cepat dan kami berjanji untuk bertemu kembali minggu depan di Starbcuk yang lain, karena hari itu aku ada pertemuan di blok M sehingga lebih mudah bagiku untuk bertemu dia di sana. Jonah menyanggupi. Ah, anganku melayang membayangkan pertemuan kedua kami yang akan lebih private, karena hanya kami berdua tanpa teman-temanku yang kebetulan ada di stabuck untuk menantikan pertemuan kami.

Malamnya, Jonah mengirim pesan singkat ke teleponku. Lelaki ini benar-benar unik. Dia tidak memakai BBM, tidak memakai YM, dan lebih memilih menelepon atau mengirim SMS. Lebih privat katanya, dia lebih suka menelepon dan mendengar suaraku langsung, karena suaraku indah aaaaaahhhhhhh... meleleh hati perempuan baja ini.

“Hi, Baby.. I was so happy to see you today. You look as beautiful as I thought you would be. Even more. Thank you ya.”

“Hi, Jonah.. you too.. I am also very happy to see you. You too look so handsome. Even much better than your picture. And I love the conversation that we had. I also appreciate your kind gesture by not touching nor talking naughty with me. That was such refreshing.”

“Ha ha ha.. how can I do such thing, Baby. I respect you. You seems to be such a nice lady, how can I do such thing to you. I cannot wait to see you again, Baby. Meanwhile, please take care of your self. If I may, I want to call to kiss you good night.”

“Sure, Jonah. I am home and not actually doing anything right now. I am preparing my self to sleep. I have to sleep by 11.30 or else I am going to have difficulty to sleep.”

Lalu teleponku berdering..

“Hi, Baby..”

Oh hatiku melayang..

Ini adalah awal rutinitas kami untuk saling menelepon saat Jonah sudah tiba di rumah. Di masa awal pertemuan kami, aku tidak tahu bisnis apa yang dia kerjakan, meski aku punya dugaan tapi seperti biasa, aku tidak suka berasumsi, aku biarkan Jonah merasa aman dan nyaman denganku dan kemudian mengungkapkan apa yang dia kerjakan di sini. Bagiku pertemuan pertama ini sangat mengesankan. Dan hatiku melayang.. Malam itu aku tertidur dengan senyum mengembang..


Tuhan, terima kasih..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar