Senin, 12 September 2011

Aku hanya bayangan

Hari ini aku mendengar kisah tentang perempuan yang bersedia hidup dalam bayang-bayang. Mencintai pria yang tidak punya daya untuk membawanya keluar ke dunia terang dan hanya bisa memberikan cinta dan dirinya dalam kegelapan. Kisah ini kudengar dari sesama perempuan yang segera menyatakan ketidaksetujuannya dan juga ketidakpahamannya akan pilihan perempuan ini.

Secara otomatis perbincangan merujuk pada betapa tidak bermartabatnya perempuan ini, merebut cinta lelaki yang sudah menjadi milik perempuan lain. Apakah dia tidak memiliki hati dan perasaan? Apakah tidak terpikir tentang perasaan perempuan lain yang dia sakiti? Secara normatif reaksiku adalah, tidak mungkin aku melakukannya, aku masih cukup cantik untuk memilih bujang sebagai pasanganku. Ow ow ow sangat sombong, aku tahu..

Benarkah itu yang terjadi dengan mereka?

Yang aku tahu, perasaan itu tidak bisa dirancang. Kita tidak tahu pada siapa kita jatuh cinta. Dan saat cinta itu jatuh pada pilihan yang "kurang" tepat, duka pun tiba.

Aku pernah berada di posisi cinta seperti itu. Dan ingat benar betapa menyakitkannya harus selalu berada dalam bayang-bayang. Tidak boleh menyebutkan secara bangga siapa lelaki yang tengah mengisi relung hatiku. Menjadi setia dalam ketiadaan, betapa sulitnya.

Sangat menyakitkan harus bersembunyi dan berdiam diri di hari-hari di mana orang lain berkumpul dengan cintanya. Di saat itu dia harus berdiam di gelap bayangan dan membayangkan kekasihnya bercengkrama dengan cintanya yang lain. Bahkan di alam maya sekali pun. Saat semua orang dengan bangga memasang foto pasangannya, atau bahkan foto mereka berdua di banyak jejaring sosial, aku harus berhati-hati bahkan saat menuliskan statusku. Jangan sampai seseorang yang kebetulan mengenal seseorang yang ternyata mengenal cintanya yang lain itu melihat apa yang aku tulis dan menyampaikannya. Bahkan harus hati-hati memasang fotoku sendiri agar tidak terlalu mencolok dan mengundang perhatian jika kebetulan cinta yang lain itu berkelana di dunia maya. Sangat menyakitkan.. sangat gelap..

Sering aku bertanya, apa yang dirasakan lelakiku itu. Sedihkah dia tidak bisa menghadirkanku? Aku belum sempat menanyakan ini, tapi seorang teman dengan pengalaman sama mengatakan hal itu sangat menyakitkan juga bagi sang lelaki. Sedih tidak bisa menghadir dan membanggakan kekasih gelapnya. Tidak bisa memeluk kapan pun ingin atau dibutuhkan. Tidak bisa bersama setiap saat ingin. Membayangkan sang kekasih sendiri merajut hari atau gelisah memikirkan siapa menggantikannya di keheningan dan kesunyian hidup.

Lalu apa alasan semua itu? Mengapa tidak memilih? Dikatakan padaku karena hubungan kedua ini sebagai pelarian atas kelelahan dan frustasi yang dirasakan di cinta pertama. Hubungan kedua ini bak oase atau terminal sementara untuk melepaskan lelah dan kepenatan dalam menjalin hubungan yang sebenarnya. Oh :( Pantas selalu aku dituntut menjadi sempurna. Pantas aku selau menjadi tumpahan amarahnya. Saat itu kupikir aku tonggak kuat bagi hidupnya. Hanya padaku dia merasakan kenyamanan untuk mengutarakan semua gelisahnya. Semua resahnya semua amarahnya. Tapi bukan itu..sungguh bukan itu. Dia simpan segala keindahannya untuk cinta pertamanya, dia simpan energinya untuk kekasih terindahnya. Pada diriku dia temukan segala keburukan sampai ke titik di mana aku tak lagi mengenali sosok yang dia ajak bicara maupun bicarakan. Aku menjadi segala negatif yang belum pernah kukenal sebelumnya. Dan aku tercenung..

Alasan kedua adalah karena dirasakan belum tiba saatnya untuk membuat pilihan. Oh betapa egoisnya alasan ini. Bersemnbunyi di balik waktu. Di balik takdir. Kapan saat yang tepat itu? Apa hak dia menilai, menimbang dan menguji kami berdua? Dua perempuan yang tak memilih untuk berada dalam kondisi ini.

Yang aku tahu semua orang berhak bahagia. Sebuah hak yang hanya dibatasi oleh hal bahagia orang lain. Tak pernah sekali pun aku meminta keindahanku itu untuk meninggalkan kekasih terangnya. Dan terus menerus kami terbelit dalam kesakitan dan kegelapan. Melepas juga sangat sulit karena setelah sekian lama, kami terbiasa dengan satu sama lain. Tapi ujung kepastian itu tak juga tiba. Keburukan yang begitu dalam dia temukan membuatnya ragu untuk membuat keputusan yang jelas tapi kebiasaan bersama membuatnya tidak mampu melepaskanku. Dan terus kami terseret dalam nestapa.

Jangan menghujat temanku, jangan menghakimi. Pada tiap manusia, pada tiap keputusan tersembunyi sebuah kebahagiaan dan kepahitan. Tak semua bisa kita pahami dan sepakati. Tapi wajib kita hormati dan hargai. Lebih baik dan bermanfaat jika kau mengulurkan tangan. Memberi mereka kepercayaan dan kekuatan untuk membuat keputusan. Untuk memilih. Lalu saat pilihan itu tetap tidak kita sepakati, ulurkan tangan untuk menunjukkan penghargaan kita atasnya.

Dan aku tetap menjadi bayangan...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar