Sabtu, 10 September 2011

Apakah aku dimanfaatkan?

Setiap kali bicara tentang hubungan, aku selalu tergagap. Setelah 14 tahun menikah, kupikir aku sudah menemukan rumus mantab. Tapi setelah hubungan lamaku itu kehilangan makna dan akhirnya bubar, banyak dari pemahamanku itu kembali kupertanyakan.

Salah satu pertanyaan terpelik adalah urusan mendukung atau support dalam bahasa Inggrisnya.

Setelah sempat bangkrut dan menggeliat lagi dari nol, aku punya pandangan baru tentang uang. Aku memutuskan bahwa kemandirianku sangat ditentukan oleh aliran uang yang masuk ke dompetku. Sejak itu aku memutuskan untuk tidak menerima uang dari lelaki, demi menjaga kemandirianku. Sudah pasti pandangan baru itu berdampak pada kesediaanku memberikan dukungan. Kupikir adalah adil apabila masing pihak tidak saling membebani.

Namun berkali, aku menghadapi dinding yang sama.. Penolakanku atas pemberian membuat (calon) pasanganku terluka dan juga penolakanku untuk memberi membuat (calon) pasanganku terluka. Hasilnya sama.. mereka hanya menjadi calon.

Namun sebenarnya, inti dari semua penolakanku itu adalah ketakutan akan dipermainkan. Ketakutan akan dimanfaatkan. Ketakutan akan dianggap perempuan bodoh yang mudah ditipu dan dipermainkan perasaan. Ego untuk mempertahankan citra sebagai perempuan mandiri dan cerdas (ha ha ha ha)

Saat selalu aku menyarankan untuk lebih mendengarkan hati kecilmu dan tidak lagi terlau peduli dengan apa yang dikatakan orang kecuali itu menyentuh kesadaran Illahiahmu. Aku ternyata masih berada di belenggu itu. Dalam ketakutan tidak mampu memuaskan ego manusia sekitarku. Ketakutan dianggap berbeda dan tidak diterima.

Lalu aku tersadar..
Hubungan pada intinya sama.. Percintaan atau pertemanan. Persaudaraan atau keorangtuaan.. Intinya hanyalah memberi atas nama Allah. Menebar kebaikan dan kasih pada semesta. Menjadi sejatinya khalifah Allah di dunia. Pemberian kita adalah bentuk terima kasih pada Allah atas semua kebaikan dan kelebihan yang sudah dilimpahkan atas kita. Bukankah kemampuan kita memberi menandakan kelebihan yang sudah diberikan-Nya? Memberi adalah sebuah hak istimewa yang luar biasa indah. Ada masa di mana kita tidak diberi keluangan untuk memberi dan hanya bisa diberi.

Bagaimana dengan kemungkinan dimanfaatkan? Dengan kemungkinan ditipu?
Kadang kupikir kekompleksitasan pikiran kita sebagai dampak dari gabungan semua pengalaman membuat hidup kita makin rumit dan berat. Kita sering iri melihat kepolosan dan kebahagiaan murni anak-anak. Lalu kita timpali dengan pembenaran karena hidup mereka masih sederhana. Sebenarnya apa yang disebut dengan sederhana dan apa yang disebut dengan rumit?

Pada akhirnya semua ada di kepala kita. Ada di benak kita. Padahal sebenarnya ramuan bahagia sangatlah sederhana. Hanya ketulusan dan kepasrahan. Namun atas nama intelektual kita mencoba melogikakan semua dan akhirnya terjebak dalam jaringan logika kita yang belum tentu juga benar alurnya.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan itu.
Pertanyaan yang aku ajukan bukan, apakah aku dimanfaatkan, apakah aku ditipu, apakah aku dibodohi..
Tapi aku bertanya, apakah aku mampu membantu? Apakah aku mau membantu?
Selebihnya aku serahkan kembali pada Allah SWT.

Berpikir apa yang bisa dipikir, menganalisa apa yang bisa dianalisa, mengendalikan apa yang bisa dikendalikan. Selebihnya, kembali menjadi hamba Allah SWT dan menyerahkan perlindungan kepada-Nya.
Bismillah..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar