Minggu, 25 September 2011

Gadis di lampu merah

Dalam perjalananku menuju tempat kesayanganku untuk duduk dan bekerja, aku melewati sebuah lampu merah dan di bawahnya duduk seorang gadis pengamen remaja dengan perut membuncit. Dan aku terhenyak. Anak semuda itu, dalam hidup sekeras itu, dia tengah hamil. Dan anganku melayang jauh. Apakah kehamilannya dia inginkan? Apakah dia tahu untuk apa dia hamil? Ataukah baginya ini hanya akibat dari kenikmatan sesaat namun berulang ?

Bertanya aku dalam hatiku, apa makna kehamilan itu baginya? Apa makna anak yang dikandung dalam perutnya? Rencana apa yang dia miliki untuk si jabang bayi? Sudahkah dia bahkan membayangkan kehidupan setelah sang bayi lahir?

Sering kali kehamilan hadir tanpa diinginkan, saat hal itu terjadi, tudingan keburukan langsung jatuh pada kaum perempuan. Karena dia tidak mampu menjaga kesucian tubuhnya, kemartabatannya, kekeramatan kandungannya. Dan pada akhirnya kaum perempuan harus menerima segala konsekuensi dari kehamilan itu...

Yang menjadi kecemasanku bukan hanya rusaknya masa depan si perempuan karena sistem pendidikan dan sistem sosial yang hanya bisa mengutuk tanpa bisa membantu dia menghadapi konsekuensi dari "kesalahan" itu. Kedua sistem ini tidak memberi pilihan bagi perempuan untuk melihat tubuhnya sebagai istananya, sebagai kuilnya. Dia diperintahkan untuk menjaga kuilnya demi dipersembahkan pada lelaki yang akan meminangnya. Kemudian saat lelaki peminang itu menanggalkan kejantanannya, tinggallah sang perempuan dengan segala hukuman tanpa ada sedikit pun mekanisme yang menopangnya. Meski perempuan dianggap sebagai penanggung jawab utama bagi keberlangsungan hidup janjin dalam kandungannya, tidak satu pun sistem sosial yang mendukung perannya itu, jika memang itu peran utamanya. Tapi aku juga mencemaskan anak yang kini tengah dikandungnya. Akankah anak ini mendapatkan semua hak yang sejak dalam kandungan telah wajib disediakan padanya oleh orang dewasa yang ada di sekitarnya? Akankah si anak mendapatkan kemartabatan dan penghargaan yang layak dia dapatkan sebagai calon pemimpin setidaknya bagi dirinya sendiri? Apakah kehadirannya disambut dan diiringi dengan kasih sayang dan penghargaan di saat kedua orangtuanya terlebur dalam kerasnya kehidupan?

Kembali ke gadis muda di tepi jalan yang duduk termangu dengan perut membuncit. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebingungan. Tidak ada sama sekali kecemasan dan tanda tanya yang biasa aku temui di para ibu dengan kehamilannya. Tidak ada usaha untuk menghitung gizi dan menata kesehatan atau mencemaskan apakah anaknya akan terlahir sempurna dengan kecerdasan yang memadai. Dia hanya duduk dengan minuman dinginnya, di tepi jalan penuh debu, diterpa asap kendaraan dan debu jalanan. Dia hanya memikirkan hidupnya hari ini.

Padanya tidak seharusnya direnggut hak untuk memiliki keturunan, tapi padanya sebaiknya diberikan kebebasan untuk memilih dan menentukan kesiapan akan menjadi orangtua. Atas kebebasan memilihnya, tidak seyogyanya dipertaruhkan kehidupan seorang anak, tidak sepantasnya dibiarkan satu lagi generasi hilang.

Pada mereka sebaiknya diberikan penyuluhan yang gamblang dan mudah dipahami tentang pentingnya bersiap menjadi orangtua, lalu kemudian diberikan fasilitas gratis KB, apa pun bentuk yang dipilih. Sebaiknya didatangi mereka setiap bulannya, diingatkan akan kesehatannya, diberikan fasilitas pemeriksaan bermartabat dan disediakan segala perangkat perlindungan diri dan perencanaan keluarga. Bagi para gadis dengan kehidupan keras ini, hendaknya dipermudah dan dipastikan kesehatan dan kondisinya. Dijaga agar dari mereka tidak lagi dihasilkan satu generasi yang hilang. Tidak lagi dihasilkan anak-anak yang kemudian dijadikan alat berdagang dan mencari uang. Martabatkan mereka dengan memberikan pilihan dan penghargaan atas tubuhnya. Diberikan pemahaman bahwa ada hak pada mereka untuk menolak atau menunda memiliki anak. Dan juga diberikan pemberdayaan untuk memahami hakikat dan keindahan menjadi orangtua.

Maka dari mereka tidak akan terlahir generasi yang hilang.

Anak-anakku, aku mencintaimu..




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar