Selasa, 20 September 2011

Aku perempuan dan aku menghargai..

Belakangan heboh dibicarakan dan didiskusikan tentang perempuan dan rok mininya. Muaranya dari kasus perkosaan di angkutan umum yang memancing pejabat publik mengeluarkan pendapat. Sayangnya kedua pejabat publik yang diharapkan menjadi pengayom masyarakat baik perempuan dan lelaki itu malah mengeluarkan pendapat yang lebih melindungi satu gender warganya. Dengan mudah keduanya menyalahkan kaum perempuan sebagai penyebab angkara murka yang menimpanya. Dikatakan mereka pantas mendapatkan angkara murka tersebut karena telah berbuat nista menjadi penggoda, menjadi penggoyah iman lelaki yang ada di dekatnya.

Ya, kau benar, kedua pejabat itu berkelamin lelaki. Maka kau menghela napas dan terdiam paham.

Bukan, bukan itu sumber resah gelisahku hari ini. Tapi membaca semua debat dan pendapat, sangat jelas terlihat betapa secara umum memang seluruh angkara itu masih menjadi duka perempuan. Terus kami disalahkan mulai dari cara berpakaian, bersikap dan berbicara. Disebutkan betapa seluruh tubuh kami adalah sumber petaka lelaki, neraka lelaki. Maka sebaik-baiknya kami adalah mereka yang terdiam, membisu, menghela di pojok gelap dan sepi. Dia yang tertunduk dan mengabdikan dirinya pada lelakinya. Mempersembahkan seluruh indahnya pada lelakinya. Dan kembali aku menggeliat...

Benarkah aku memakai bajuku untuk itu? Benarkah di pagi hari aku mematut dan berdandan untuk menarik lawan jenisku? Benarkah keseluruhan keberadaanku telah ditakdirkan menjadi pemuas bagi lelaki yang konon kabarnya telah ditakdirkan menjadi suamiku? Hmmm..seingatku, tadi pagi aku memilih baju untuk membuat KU senang. Untuk membuat KU nyaman. Untuk membuat KU cantik. Tidak ada sama sekali faktor Nya di benakku. Tidak sama sekali ada niat untuk itu.

Adalah bukan salahku apabila kecintaanku pada diriu, kebanggaanku pada diriku menghasilkan kekaguman di mata yang melihatnya. Bukan dosaku saat kau tak bisa mengendalikan diri dan terpana melihatku. Karena saat aku merasa cantik, apa pun baju yang kukenakan, sepanjang apa pun kain itu kusarungkan, kau akan bisa melihat pancarannya. Kau akan bisa merasakan kehangatannya. Kau akan bisa merasakan kekuatannya. Aku perempuan yang bahagia dan bangga akan keberadaannya di dunia ini.

Benarkah? Kau bertanya. Benarkah bahkan saat kain itu begitu panjang disalurkan, kau akan tetap terpana melihat kecintaanku pada diriku? Bukankah minimnya kain, tingginya rok menjadi pemicu dan akhirnya menimbulkan angkara?

Kalau benar itu yang jadi logikanya, maka sepatutnya kejahatan itu hanya dirasakan oleh mereka yang bergaun minim, yang bersikap genit, dan segala yang negatif menurut budaya lainnya. Tapi fakta kehidupan menyebutkan betapa angkara itu tidak memilih usia, tidak memilih baju yang dikenakan dan tidak juga memilih sikap yang ditunjukkan. Korban yang jatuh beragam dan bahkan pada mereka yang jelas telah menuruti kehendak lelaki untuk menutupi dan berdiam di sudut sepinya. Maka bukan itu intinya, bukan itu akarnya, bukan itu pemicunya...

Bukan pada perempuan dan segala atributnya.. Tapi pada si pelaku. Pada pikirannya, pada jiwanya, pada kemampuannya mengendalikan dirinya. Sudah saatnya para lelaki diajak untuk melihat tubuh perempuan sebagai tubuh ibunya. Tubuh yang telah membantu menghadirkannya di dunia ini, tubuh yang membagikan nyawanya demi kehidupan selanjutnya, tubuh yang meregang dan terus diregang bahkan jauh setelah kehidupan itu dilahirkan. Sudah saatnya para lelaki diajak untuk melihat tubuh perempuan sama seperti tubuhnya sendiri. Benda ilahiah yang menjadi kuil tempat di mana Tuhan bersemayam. Melihat tubuh perempuan sebagai manusia, bukan obyek yang dirasa berhak dinikmati baik dalam pandangan dan bila diberi kesempatan,disentuh dan dihancurkan.

Maka seyogyanya kita perlu melihat kembali ke pendidikan dan pengajaran, baik di rumah maupun di ruang publik. Sudahkah kita mengajarkan kesetaraan itu pada anak-anak kita. Sudahkah kita mengajarkan penghormatan dan penghargaan bagi kepentingan dan kebahagiaan orang lain? Sudahkah anak lelaki kita diajarkan untuk tidak lagi melihat saudara perempuannya sebagai makhluk yang diciptakan demi memuaskan dan melancarkan perannya sebagai khalifah di dunia ini? Setahuku, aku pun khalifah, aku pun karunia dan berkah bagi alam semesta ini. Aku sama berharganya dengan para pria dan pada aku pun ditanamkan penghargaan dan penghormatan pada kaum pria, bukan karena dia makhluk yang lebih mulia dariku tapi karena dia manusia, sejajar dan setara denganku serta patut mendapatkan penghargaanku.

Aku perempuan dan aku menghargai...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar